Nasib Mimin Maidah Dipaksa Buat Video Klarifikasi Usai Curhat Soal Uang BLT Disunat Pegawai Desa -->

Nasib Mimin Maidah Dipaksa Buat Video Klarifikasi Usai Curhat Soal Uang BLT Disunat Pegawai Desa

18 Jan 2026, Minggu, Januari 18, 2026
Nasib Mimin Maidah Dipaksa Buat Video Klarifikasi Usai Curhat Soal Uang BLT Disunat Pegawai Desa

-MEDAN.com -Seorang ibu tiba-tiba mengunggah video penjelasan setelah mengakui dana BLT Kesra dipotong oleh petugas desa.

Ibu dengan nama Mimin Maidah dipaksa membuat video yang menyatakan bahwa potongan uang BLT dilakukan secara sukarela bagi para pegawai desa.

Masyarakat merasa prihatin terhadap Mimin Maidah yang diwajibkan membuat video penjelasan setelah bantuan sosialnya diperlakukan dengan tidak hormat oleh staf desa.

Sebelumnya, para ibu-ibu tersebut mengatakan bahwa uang BLT Kesra yang seharusnya diterima sebesar Rp900.000 dipotong sebesar Rp500.000 oleh oknum pegawai desa.

Mengutip Jabar, kejadian ini terjadi ketika dia mengambil dana BLT Kesra di kantor pos setempat.

Ia adalah penduduk Desa Karangwangi, Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang berada di Kampung Cicalobak.

Mimin menceritakan awal mula dirinya mengambil dana BLT Kesra di kantor pos.

Ia diminta untuk menyerahkan dokumen persyaratan berupa salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).

Setelah mengantarkan dokumen tersebut, ia menerima dana BLT Kesra senilai Rp900.000.

Namun, setelah menerima dana BLT, petugas desa yang mendampinginya mengambil sebagian dana bantuan sosial milik Mimin.

"Nyekel sebesar Rp900.000 diberikan kepada petugas desa, namun hanya Rp500.000 yang disetorkan, sementara sisanya Rp400.000 dibagikan kepada warga berserta KTP asli, sedangkan surat pos disimpan oleh petugas tersebut.

(Awalnya memegang uang BLT Rp900 ribu, difoto, lalu uang diberikan dulu ke pegawai desa dan dipotong Rp500 ribu, lalu uang sisa Rp400 diberikan kepada saya dengan KTP asli, sementara surat kantor pos ditahan kembali oleh pegawai desa tersebut)," papar Mimin Maidah.

Mimin menceritakan saat penyerahan dana BLT Kesra, petugas kantor pos yang memberikan uang dan petugas desa berada di sebelah satu sama lain.

Setelah pemotongan dana BLT Kesra, Mimin mengakui awalnya merasa bingung dan hanya pulang.

Bahkan, tidak ada dokumen surat yang memiliki tanda tangan.

Tidak lama setelah video pengakuan tersebut menyebar, Mimin Maidah muncul kembali melalui sebuah video.

Namun, dalam video terbaru ini, ia secara tiba-tiba memberikan penjelasan mengenai pengakuannya yang pernah viral.

Sambil memandang kamera, Mimin terlihat sedang diminta untuk membacakan pernyataan penjelasan tersebut.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya Mimin Maidah memohon maaf atas kegaduhan video saya yang sempat viral," kata Mimin, dilansir dari tayangan video yang diunggah Ahmad sleding, Sabtu (17/1/2026).

Mimin menjelaskan, pada saat kejadian dia tidak mengetahui dirinya direkam dan dibuat menjadi konten.

Mengenai uang bantuan sosial yang diduga dipotong, Mimin mengatakan bukan potongan, tetapi diberikan secara sukarela kepada warga yang tidak mendapatkan BLT Kesra.

"Terkait uang itu, bukan potongan, tapi saya berikan secara sadar dan tulus kepada yang tidak mendapat bagian," kata Mimin.

Video penjelasan Mimin setelah video pengakuan dana BLT Kesra dipotong oleh seorang pegawai desa menjadi viral, kembali mendapat perhatian dari netizen.

Banyak netizen memberikan berbagai macam respons.

Banyak pengguna internet menduga terjadi tekanan terhadap para ibu-ibu tersebut agar memberikan pernyataan klarifikasi.

"Di intimidasi ya bu?"

"Hmm curiga di intimidasi, sing sabar nya bu"

"Logikana we ath,piraku we saiklasna 500k. Mun karek 50k wajar saiklasna"

Masih sulit dipercaya...jadi seperti itu akhirnya.....? Curiga saja, Ada aparat desa yang mengintimidasi..

Selidiki perangkat desa tersebut... jika bisa dipenjara jika terbukti ada indikasi intimidasi dan ancaman..

"500 ribu/orang di X berapa banyak, pasti jumlahnya besar. Lalu mengapa harus dipegang oleh perangkat desa? Apa masih lebih besar kepercayaan dibanding uang yang diterima penerima BLT," tulis berbagai komentar netizen.

Namun, sampai artikel ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak petugas desa terkait.

Kejadian lainnya

Beberapa waktu yang lalu, video yang menampilkan seorang pria marah karena distribusi bantuan sosial tidak merata, menjadi viral di media sosial.

Laki-laki yang mengklaim berasal dari Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, bersuara keras karena tidak menerima BLTS Kesra.

Ia mengeluh bahwa dirinya yang mengontrak justru tidak mendapatkan BLTS Kesra.

Ia kemudian menyampaikan, warga yang tinggal di apartemen dan memiliki mobil justru menerima bantuan sosial.

"Bantuan pemerintah ini kacau. RT dan RW jelas mengetahui kondisi yang sebenarnya. Aku menghubungi, sementara rumahku juga rusak yang kusewa," katanya, melansir Medan.

Di dalam video tersebut, terdengar beberapa orang yang berusaha memberikan penjelasan.

Namun, pria tersebut tetap ngamuk-ngamuk.

"Ini yang punya mobil, rumahnya gedung. Ini harus kuviralkan. Bantuan pemerintah ini kacau, kacau betul," ujarnya lagi.

Baru-baru ini diketahui, pria yang ada dalam video tersebut bernama Darma Washington Munthe.

Video Darma yang marah karena tidak mendapatkan BLT diunggah ke akun media sosial Facebook istrinya, Dina Girsang.

Di dalam video tersebut, Darma marah karena tidak menerima Bantuan Langsung Tunai Sementara Kesejahteraan Rakyat (BLTS Kesra).

Meskipun demikian, katanya, ia menyewa rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Ia juga bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol).

Setelah video protesnya yang tidak menerima BLTS Kesra menyebar di Facebook, Darma Washington Munthe akhirnya angkat bicara.

Ia mengakui bahwa keluarganya pernah mendapatkan beberapa bantuan sosial dari Pemko Pematangsiantar.

Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kota Pematangsiantar bersama pihak pemerintah kelurahan Asuhan, Kecamatan Siantar Timur, melakukan proses mediasi terkait pengaduan dari warga bernama Darma mengenai bantuan sosial yang dianggap tidak tepat sasaran.

Proses mediasi dilaksanakan di Kantor Lurah Asuhan, Jalan Sejahtera, pada hari Sabtu (22/11/2025) yang lalu.

Selain Darma, istri Dina Girsang juga hadir dalam proses mediasi tersebut.

Pada proses mediasi tersebut, Darma didampingi oleh istrinya, Dina Girsang.

Ia akhirnya mengakui, selama ini, telah beberapa kali menerima bantuan seperti KIS/BPJS Kesehatan yang diproses melalui Kelurahan Asuhan dan Dinsos P3A Kota Pematangsiantar.

Selain itu, ia juga pernah mendapatkan bantuan dari Kecamatan Siantar Timur berupa bantuan sosial, serta pernah menerima bantuan berupa beras.

"Saya minta maaf ada video keluhan saya yang beredar. Saya berharap pemerintah daerah memperbarui data saya sesuai dengan aturan yang berlaku," ujar Darma.

"Saya juga mengucapkan terima kasih atas dukungan KIS, serta Bantuan Ketahanan Pangan yang telah diberikan selama ini," lanjutnya.

Namun pada kesempatan itu, Darma bertanya, mengapa ia tidak menerima BLTS Kesra.

Berdasarkan koordinasi bersama Dinsos P3A, Darma akan menjadi prioritas dalam mendapatkan BLTS Kesra Tahun 2026.

Setelah menerima penjelasan dari Dinsos P3A, Pemerintah Kecamatan Siantar Timur, dan Pemerintah Kelurahan Asuhan mengenai BLTS Kesra Tahun 2026, Darma berharap dapat memperoleh bantuan tersebut.

"Di waktu dekat ini juga akan ada bantuan berupa beras makanan, sehingga yang bersangkutan (Darma) juga diajukan untuk menerima bantuan tersebut," ujar Lurah Asuhan, Amdani Simbolon.

"Kami berharap para warga tetap bekerja sama dengan pihak kelurahan mengenai bantuan yang tersedia," tambahnya.

Di dalam mediasi ini, terlihat Kepala Seksi Pelayanan Umum (Kasi Pelum) Kecamatan Siantar Timur Umri Silitonga, Koordinator Kecamatan (Korcam) Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Siantar Timur Roy Purba, serta Pendamping Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Siantar Timur Rochmy Yulia Sinaga.

Pertemuan juga dihadiri oleh Supervisor Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) Dinsos P3A Siti Lensari, Bhabinkantibmas Kelurahan Asuhan Aipda Goido Sinaga, Kepala Lingkungan (Kepling) di Kelurahan Asuhan Tumpal Situmorang, Lurah Asuhan Amdani Simbolon SSTP, serta staf Kelurahan Asuhan.

(*/-medan.com)

Artikel telah tayang di -jatim

TerPopuler