
Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA -- Dulu perang dimulai dengan suara tembakan meriam. Selanjutnya manusia memperkuat dramanya dengan tank, kapal induk, dan rudal balistik yang mampu menembus benua. Namun abad ke-21 ternyata memiliki cara tersendiri: perang bisa dimulai dengan suara halus dari keyboard — klik.
Tidak ada asap dari senjata. Tidak ada suara siruan serangan udara. Hanya layar masuk yang tiba-tiba berubah wajah.
Pertempuran terbaru antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini berlangsung di wilayah yang jauh lebih tenang: ruang server. Medannya bukan gurun, bukan laut, bukan langit. Medannya adalah pusat data, kabel optik, dan komputer yang berdengung pelan seperti lemari es raksasa peradaban digital.
Di lapangan itu tiba-tiba muncul sebuah nama yang terdengar seperti tokoh komik: "Handala".
Nama ini bukan hanya sebuah julukan hacker. Ia berasal dari tokoh kartun ikonik karya Naji al-Ali, seniman Palestina yang tewas di London pada tahun 1987. Handala digambarkan sebagai seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang selalu berdiri membelakangi dunia—simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dunia.
Sekarang tokoh kartun tersebut muncul kembali. Bukan di halaman surat kabar. Tapi di layar masuk perusahaan Amerika.
Tujuan serangan bukanlah perusahaan kecil yang menyimpan server di lemari kantor. Yang menjadi sasaran adalah Stryker, perusahaan teknologi medis besar asal Amerika yang memproduksi alat operasi, sistem pemantauan pasien, defibrillator, hingga perangkat medis yang digunakan oleh militer Amerika untuk merawat tentara yang cedera.
Perusahaan ini memiliki sekitar 56.000 karyawan dan produknya digunakan oleh lebih dari 150 juta pasien setiap tahun. Dengan kata lain, ini bukan sekadar toko perbaikan laptop. Ini adalah infrastruktur kesehatan global.
Serangan terjadi pada pagi hari beberapa hari yang lalu. Sekitar pukul tiga pagi menurut waktu Amerika — saat dunia biasanya hanya dihiasi oleh petugas keamanan, dokter jaga, dan programmer yang lupa pulang.
Tiba-tiba sistem mengalami gangguan. Laptop tidak dapat masuk. Server tidak bisa diakses. Akun admin berubah. Pada layar login muncul gambar Handala.
Beberapa peretas menyatakan hal yang terdengar seperti adegan dari film cyberpunk. Mereka mengumumkan telah "menghapus lebih dari 200.000 sistem" — server, laptop, dan perangkat mobile milik perusahaan — serta mencuri sekitar 50 terabyte data.
Lima puluh terabait. Jika dicetak dalam bentuk dokumen, mungkin cukup untuk mengisi rak buku satu perpustakaan universitas.
Akibatnya, operasi perusahaan di 79 negara tiba-tiba terhenti. Seorang karyawan menulis di forum Reddit dengan kalimat yang terdengar seperti laporan dari medan perang digital: “Seluruh perusahaan berhenti total.” Perusahaan menghentikan semua aktivitasnya.
Namun, drama belum berakhir. Seorang pengguna lain di forum yang sama menulis sesuatu yang lebih menakutkan: banyak ponsel pribadi karyawan juga mengalami "penghapusan total". Perangkat yang sebelumnya terhubung ke jaringan perusahaan — melalui aplikasi seperti Intune, Company Portal, Teams, atau VPN — tiba-tiba kehilangan seluruh data yang tersimpan.
Bahkan sistem autentikasi dua faktor mengalami gangguan. Akibatnya, banyak karyawan tidak dapat lagi masuk ke akun mereka. Seorang karyawan yang mengklaim berada di Australia menulis dengan nada pasif: "Semua data pribadi di ponsel saya hilang. Sekarang saya bahkan tidak bisa mengakses email dan Teams."
Pada titik ini, perang siber berubah menjadi hal yang sangat pribadi. Bukan hanya server perusahaan yang terkena dampak. Ponsel yang ada di saku karyawan juga turut menjadi korban.
Serangan yang dilakukan dikenal sebagai wiper attack, yaitu jenis malware yang tidak hanya mencuri data, tetapi juga "menghilangkannya secara permanen". Hal ini mirip dengan pencuri yang tidak hanya mengambil barang di rumah Anda, tetapi juga membakar dokumen keluarga.
Teknik ini bukanlah hal yang asing dalam geopolitik digital. Contoh paling terkenal adalah serangan Shamoon terhadap Saudi Aramco pada tahun 2012, yang menghapus data dari lebih dari 30.000 komputer perusahaan minyak terbesar di dunia.
Rusia selanjutnya memperluas penggunaan malware penghapus data dalam perang siber yang dilancarkan terhadap Ukraina. Tahun ini juga muncul laporan bahwa serangan terhadap sistem jaringan energi Polandia menggunakan pendekatan yang sama.
Korea Utara juga menggunakan metode ini dalam peretasan Sony Pictures pada tahun 2014, yang membuat Hollywood tiba-tiba menyadari bahwa film komedi bisa memicu konflik digital antar negara.
Dengan kata lain, ini bukan lagi tindakan peretas muda yang merasa bosan di kamarnya. Ini telah menjadi doktrin militer abad ke-21.
Yang membuat Washington semakin khawatir adalah ancaman berikutnya. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah memberi peringatan bahwa perusahaan Amerika yang infrastrukturnya digunakan untuk mendukung operasi militer Israel bisa menjadi sasaran.
Tidak hanya serangan siber, tetapi juga serangan fisik terhadap infrastrukturnya. Artinya bom yang menyebabkan kebakaran. Daftar perusahaan yang disebut bukanlah toko komputer biasa. Google. Palantir. Microsoft. IBM. Nvidia. Oracle. Nama-nama ini bukan hanya perusahaan teknologi. Mereka adalah fondasi dari peradaban digital modern. Dan secara umum memiliki kaitan dengan kepentingan pihak Israel.
Berdasarkan berbagai laporan keamanan global, termasuk analisis World Economic Forum Global Cybersecurity Outlook, lebih dari 70 persen layanan digital dunia kini bergantung pada infrastruktur cloud perusahaan teknologi besar. Jika mereka mengalami gangguan, dampaknya bisa dirasakan mulai dari Wall Street hingga mesin kasir toko kelontong.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Inilah kontradiksi dari peradaban digital. Semakin maju teknologi yang diciptakan manusia, semakin lemah pula dasar yang mendukungnya. Sebuah rudal hanya mampu merobohkan satu bangunan, sementara sebuah virus komputer bisa menghentikan operasional sebuah perusahaan besar. 2. Ini adalah paradoks dari kemajuan teknologi modern. Semakin canggih alat yang dibuat manusia, semakin rentan pula fondasi yang ada. Satu rudal mampu menghancurkan satu gedung, sedangkan satu virus komputer bisa mengganggu bisnis global. 3. Inilah tantangan dari peradaban digital. Semakin berkembang teknologi manusia, semakin tidak stabil pula dasarnya. Sebuah peluru hanya bisa merusak satu bangunan, sementara sebuah virus komputer bisa menghentikan operasi perusahaan internasional. 4. Terdapat paradoks dalam perkembangan teknologi. Semakin tinggi tingkat kemajuan teknologi, semakin mudah pula sistem itu runtuh. Rudal mampu merobohkan satu gedung, namun virus komputer bisa memengaruhi perusahaan besar. 5. Inilah keanehan dari dunia digital. Semakin canggih teknologi yang dikembangkan manusia, semakin rapuh pula landasannya. Satu rudal hanya bisa menghancurkan satu bangunan, sementara satu virus komputer bisa mengganggu perusahaan global.
Sebuah bom merobohkan sebuah kota. Serangan siber satu kali saja mampu membuat separuh planet menjadi panik dan mengganti kata sandi.
Peradaban modern tampaknya seperti gedung pencakar langit yang berdiri di atas kabel ethernet. Terkadang, fondasi tersebut bisa digigit tikus.
Manusia pada masa kini sangat percaya diri terhadap teknologi yang mereka hasilkan. Kita membangun satelit, mengembangkan kecerdasan buatan, serta menciptakan komputer yang mampu melakukan triliunan perhitungan setiap detik. Namun, seluruh sistem tersebut terkadang bisa goyah oleh sekelompok orang yang hanya membawa laptop, secangkir kopi hitam, dan koneksi internet yang stabil.
Sejarah memang memiliki selera humor yang cukup menyindir. Dulu perang dimulai dengan meriam. Kini perang bisa dimulai dengan menekan tombol "enter".
Dan dunia yang sangat percaya pada teknologi kini harus belajar sebuah pelajaran lama yang telah ada ribuan tahun: kekuatan terbesar dalam sejarah manusia tidak selalu terletak pada siapa yang memiliki senjata paling besar.
Namun, siapakah yang paling memahami "titik lemah sistem lawannya"? Karena di dunia digital - seperti dalam kehidupan nyata - sesuatu yang paling berbahaya seringkali bukan bom yang meledak. Melainkan celah kecil dalam sistem.
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 15/3/2026