
bengkalispos.com.CO.ID – JAKARTA. Di tengah arus penyesuaian pasar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tampaknya berusaha menyebarkan suasana positif melalui pengumuman pembagian dividen sementara. Namun, ternyata hal itu belum mampu menghentikan aliran dana yang keluar.
Saham BBCA justru berakhir melemah sebesar 4,43% pada level Rp 4.850 dalam perdagangan hari Senin (8/6/2026).
Meskipun demikian, akhir pekan lalu manajemen BCA baru saja mengumumkan jadwal pembagian dividen sementara tahap pertama tahun buku 2026 sebesar Rp 20 per saham. Jangan lupa, pada tahun ini BCA juga akan membagikan dividen sementara sebanyak tiga kali.
Namun, Muhammad Wafi, Kepala Penelitian KISI Sekuritas, merasa bahwa dividen sementara tersebut belum cukup menarik sebagai alasan utama untuk membeli saham BBCA.
Wafi memperkirakan total dividen pada tahun buku 2026 mungkin berada di kisaran Rp 100 hingga Rp 120 per saham. Dalam situasi ini, perkiraan potensinya adalahdividend imbal hasil alias yield BBCA berada dalam kisaran 1,8% hingga 2,2%.
"Yield-nya masih berada di bawah deposito," kata Wafi kepada bengkalispos.com, Senin (8/6/2026).
Oleh karena itu, ia menyarankan para investor agar tidak memasuki saham BBCA hanya demi mencari dividen sementara.
Menurutnya, keunggulan utama saham bank swasta terbesar di Indonesia justru terletak pada kemungkinan kenaikan harga saham ataucapital gain.
Wafi menganggap tingkat harga BBCA saat ini berada di posisi yang cukup rendah secara historis, sementara kondisi dasar perusahaan tetap kuat.
"Jangan membeli hanya karena dividen sementara, belilah karena tingkat ini merupakan terendah sejak 2021 dengan dasar yang tetap sama," katanya.
Dalam perhitungannya, jika saham BBCA mampu kembali ke tingkat harga di atas Rp 8.000 dalam jangka waktu 12 hingga 18 bulan mendatang, kemungkinan besar akan ada potensi...capital gain hasil yang bisa diperoleh investor mencapai sekitar 58%–90%, jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan dari dividen.
Wafi mengatakan bahwa kenaikan harga BBCA tergantung pada beberapa faktor, antara lain kepastian bahwa Indonesia tetap berada dalam indeks MSCI.Emerging Marketspada pengawasan 24 Juni 2026 yang akan datang.
Selain itu, tanda-tanda penurunan suku bunga oleh bank sentral, serta stabilnya nilai tukar rupiah di bawah angka Rp 17.500 per dolar AS dapat mendorong kenaikan kembali harga saham BBCA.
Namun sebaliknya, jika katalis-katalis tersebut tidak terpenuhi, Wafi menyatakan bahwa ruang untuk perbaikan lebih lanjut tetap tersedia.
Mengingat berbagai faktor yang telah dipertimbangkan, Wafi menetapkan target harga saham BBCA pada kisaran Rp 9.946 per saham di akhir tahun mendatang.