
Ringkasan Berita:
- Para penjual nasi bungkus mengeluhkan menurunnya keuntungan mereka karena kenaikan harga beberapa komoditas.
- Harga komoditas yang memberatkan para pelaku usaha ini telah berlangsung selama tiga bulan terakhir, sejak Lebaran Idul Fitri.
- Agar margin keuntungan tidak semakin berkurang, para penjual nasi bungkus sering mencari potongan harga.
JATIMTIMUR.COM, JEMBER - Penjual nasi bungkus mengeluhkan menurunnya keuntungan mereka karena kenaikan harga beberapa bahan pokok.
Harga komoditas yang memberatkan para pelaku usaha ini telah berlangsung selama tiga bulan terakhir, sejak Lebaran Idul Fitri.
Meski profitnya berkurang, para pengusaha kecil enggan menaikkan harga jualannya, sebagaimana diungkapkan oleh Riati, seorang pedagang nasi bungkus di Tegalbesar, Kaliwates, Jember.
Terlebih saat ini di tengah pelemahan rupiah, Riati harus benar-benar berpikir keras dan menerapkan strategi yang tepat agar keuntungannya tidak semakin berkurang, namun tetap tidak menaikkan harga jual.
"Kini bahan-bahan menjadi mahal, menurut saya sejak Lebaran lalu, harga beberapa bahan masih tinggi. Meskipun ada yang sempat turun, tetapi kembali naik," kata Riati, Senin (8/6/2026).
Saat ini, bahan pokok nasi bungkus yang harganya sering mengalami kenaikan adalah beras, bumbu, dan minyak goreng.
Bahan-bahan rempah yang dianggapnya cukup mahal saat ini.
Ia memberikan contoh harga bawang merah yang mencapai Rp 50.000 per kilogram, padahal pada kondisi harga normal bisa mencapai Rp 30.000.
Selain bawang merah, ia juga menyebutkan harga cabai yang sering membuatnya khawatir. Saat ini, harga cabai berkisar Rp 60.000 per kilogram, angka yang masih dianggap tinggi oleh para produsen nasi bungkus.
"Maka sambalnya dibuat tidak terlalu pedas," katanya.
Kemudian ia menggunakan beras yang harga per 5 kilogramnya mencapai Rp 70.000. Harga tersebut meningkat menjadi Rp 71.000 saat ia membeli kembali pada Senin (8/6/2026).
"Untuk beras, bisa dikatakan naik setiap minggu, berkisar antara Rp 500 hingga Rp 1.000," tambahnya.
Selanjutnya harga MinyaKita yang saat ini berkisar Rp 21.000 per liter. "Padahal ini merupakan merek yang paling terjangkau. Sebelumnya harganya Rp 17.000," tambahnya.
Beruntung, harga ayam potong saat ini mengalami penurunan dari Rp 29.000 menjadi Rp 25.000 per kilogram.
Berburu Promo
Agar margin keuntungan nasi bungkusnya tidak semakin berkurang, Riati sering mencari diskon harga.
Ia memberikan contoh telur ayam yang beberapa waktu terakhir dijual murah di pasar online.
Menurutnya, harga di pasar online mencapai Rp 17.000 per kilogram, sedangkan harga telur di pasar tradisional mencapai Rp 25.000 per kilogram.
Ia juga memutuskan mencari diskon minyak goreng di pasar online, demikian pula gula putih.
"Promo akhir tahun, biasanya yang sering saya cari adalah promo telur, minyak goreng, dan gula pasir. Harus cerdas dalam mencari promo," tambahnya.
Tentu, bagi para pedagang nasi bungkus yang beroperasi secara skala rumah tangga, kenaikan harga komoditas yang terjadi saat ini sangat dirasakan dampaknya.
Riati memutuskan untuk tetap menjual nasi bungkus dengan harga Rp 6.000 setiap hari. Namun, keuntungannya mengalami penurunan sebesar 30 persen karena kenaikan harga bahan-bahan yang digunakan.
Ia berharap, harga komoditas yang digunakannya sebagai bahan nasi bungkus, tidak naik lagi.
"Semoga keuntungan kembali seperti dulu," harapnya.
Harga Bawang di Pasar Tanjung
Sementara itu, harga bawang merah di Pasar Tanjung Jember saat ini mencapai Rp 48.000 per kilogram.
"Seharga Rp 37.000 per kilogram, bawang putih," kata Septi, pedagang bawang di Pasar Tanjung.
Harga yang dia sebutkan adalah harga terkini, Senin (8/6/2026).
Peroleh informasi tambahan di Googlenews, klik: Jatim Timur
Ikuti channel whatsapp, klik: Jatim Timur
(Sri Wahyunik/JatimTimur.com)