Guyonan Gus Kikin soal angka 8 bikin Prabowo tersenyum: Saya banyak kecocokan dengan bapak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Guyonan-Gus-Kikin-soal-Angka-8-Buat-Prabowo-Senyum-Saya-Banyak-Kecocokan-dengan-Bapak.jpg)
Ringkasan Berita:
- Ketum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz berguyon soal kesamaan angka 8 dengan Presiden Prabowo Subianto hingga membuatnya tersenyum.
- Gus Kikin menyatakan siap mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran sebagai bagian dari kewajiban umat Islam.
- Gus Kikin menegaskan fokus kepemimpinannya pada pembangunan SDM, persatuan internal NU, dan organisasi yang inklusif.
NEWS.COM - Momen menarik terjadi dalam acara penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Gedung Serbaguna (GSG) Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026).
Ketua Umum PBNU periode 2026-2031, KH Abdul Hakim Mahfudz melemparkan guyonan yang membuat Presiden Prabowo Subianto tersenyum.
Pria yang akrab disapa Gus Kikin tersebut mengaku memiliki banyak kecocokan dengan mantan Danjen Kopassus itu, utamanya terkait angka 8.
Prabowo memang selama ini kerap mengutarakan dirinya suka dengan angka 8 dan 13 karena selalu hadir dan membawa makna khusus dalam perjalanan hidup serta kariernya.
"Tampaknya saya banyak kecocokan dengan Bapak (Prabowo). Saya banyak unsur 8-nya. Tanggal lahir saya 17 jumlahnya 8. Bulannya juga 8. Tahunnya juga 58," kata Gus Kikin disambut riuh tepuk tangan tamu undangan.
Tidak sampai di situ, lanjut Gus Kikin, dirinya diberikan amanah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang ke-8.
"Jadi saya rasa tidak berlebihan saya cocok-cocokan. Semua cocok, tinggal nasibnya yang beda. Alhamdulillah," ucap Gus Kikin membuat Prabowo tersenyum.
Prabowo turun mengamini dirinya memiliki kemiripan dengan Gus Kikin soal angka 8.
"Ternyata Gus Kinin, kita tidak cari-cari. Tapi, angka-angka itu muncul di hidup kita."
"Saya tidak pernah tanya beliu tanggal lahirnya, tapi angka 8 muncul terus," kata Prabowo dalam sambutannya.
Siap Dukung Pemerintah
Dalam kesempatan sebelumnya, Gus Kikin turut menyatakan siap mendukung jalannya roda pemerintahan.
pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurutnya, mendukung pemerintah merupakan bagian dari kewajiban umat Islam, selama dilakukan dalam koridor yang baik.
"(Mendukung pemerintahan) itu kewajiban. Kita umat Islam itu wajib mendukung pemerintah. Berjalan beriringan," kata Gus Kikin kepada wartawan.
Gus Kikin juga merespons kekhawatiran bahwa dirinya akan menjadi 'boneka' untuk kepentingan politik kelompok tertentu.
Ia menegaskan NU merupakan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang berpedoman pada nilai-nilai agama.
Karena itu, Gus Kikin menyatakan fokus kepemimpinannya ke depan adalah memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM).
"Kita pembangunan manusianya dahulukan," tegasnya.
Selain itu, Gus Kikin mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk kembali memperkuat persatuan dan kebersamaan di internal NU.
Ia menyadari kemajuan organisasi tidak dapat dicapai tanpa adanya rasa memiliki dan semangat bersama dari seluruh elemen Nahdlatul Ulama.
Tak hanya merangkul warga NU, Gus Kikin juga berkomitmen membuka ruang bagi berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun organisasi.
"Kita harus menyatu, harus bersama-sama. Ini Nahdlatul Ulama milik bersama. Nahdlatul Ulama inklusif," ujarnya.
Profil dan Sepak Terjang Gus Kikin
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin lahir pada 17 Agustus 1958, dan saat ini usianya 68 tahun.
Ia dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sekaligus menggantikan mendiang KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang meninggal dunia pada 2020 silam.
Mendiang Gus Sholah sendiri sudah mempersiapkan penunjukan Gus Kikin sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sejak tahun 2016 melalui musyawarah resmi keluarga besar keturunan Tebuireng.
Di bawah kepemimpinan Gus Kikin, Pesantren Tebuireng mengalami perkembangan pesat. Hingga saat ini, Tebuireng telah memiliki 15 cabang pesantren yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Riau, Jakarta, Maluku, hingga Kalimantan Timur, dilansir Kompas.com.
Adapun Pondok Pesantren Tebuireng sendiri merupakan bagian yang lekat dengan sejarah NU sebagai pendidik generasi pertama ulama Indonesia, mulai dari pahlawan nasional sekaligus ayah Gus Dur KH Wahid Hasyim, Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), paman Gus Dur KH Yusuf Hasyim, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah), hingga Mochamad Irfan Yusuf Hasyim alias Gus Irfan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Haji dan Umrah RI.
Gus Kikin sendiri mengantongi keunggulan tersendiri dalam pemilihan bursa calon Ketua Umum PBNU hingga akhirnya resmi terpilih.
Ia memiliki akar kultural dan nasab keilmuan yang kuat di lingkungan NU.
Gus Kikin merupakan putra dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum.
Sang ibu merupakan cucu pendiri NU dan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, dari jalur Nyai Khoiriyah Hasyim yang menikah dengan KH. Ma’shum Ali, ulama ahli falak sekaligus pengarang kitab Amtsilah Tashrifiyyah yang sangat masyhur di pesantren.
Sementara, sang ayah merupakan pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang.
Dari jalur ayah juga, nasab Gus Kikin tersambung kepada KH Anwar bin Alwi yang merupakan pendiri Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in Paculgowang, Jombang yang juga memiliki akar sejarah yang kuat dengan NU.
Dengan lingkungan keluarga ini, Gus Kikin telah begitu akrab dengan dunia kitab kuning, adab pesantren, dan tradisi khidmah sejak usia dini.
Dalam tradisi pesantren, nasab seperti yang dimiliki Gus Kikin ini sering disebut sebagai “darah biru NU,” dikutip dari pcnumalangkota.or.id.
Gus Kikin saat ini juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur untuk periode 2024–2029.
Mulanya, ia ditunjuk pertama kali sebagai Penjabat (Pj) Ketua PWNU Jawa Timur pada 10 Januari 2024, kemudian resmi terpilih secara definitif sebagai Ketua PWNU Jawa Timur pada 3 Agustus 2024.
Sebelumnya, Gus Kikin telah lama aktif dalam berbagai struktur Nahdlatul Ulama dan menjadi bagian dari jaringan ulama Tebuireng yang memiliki hubungan erat dengan berbagai pesantren di Jawa Timur.
Ia juga pernah menjadi salah satu ketua di PBNU.
Pendidikan dan Karir
Gus Kikin menimba ilmu di pondok pesantren keluarganya, Pondok Pesantren Sunan Ampel, dan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak di Jombang, yang didirikan oleh kakeknya.
Kemudian, ia menempuh pendidikan formal di Madrasah Ibtida'iyah Parimono pada 1963-1970, dan lanjut sekolah di SMP Negeri 1 Jombang pada 1971-1973.
Selanjutnya, Gus Kikin bersekolah di SMA Negeri 2 Jombang pada 1974-1977.
Ia juga mengenyam pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta pada 1975-1979.
Pada 2013, ia melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka, di jurusan komunikasi.
Sebelum terjun di dunia pesantren, Gus Kikin pernah berkarir sebagai pegawai Djakarta Lloyd setelah lulus dari STIP Jakarta.
Lalu, saat usianya masih 30 tahun atau sekitar tahun 1988, ia menjabat sebagai Kepala Cabang Kota Cilegon dari Djakarta Lloyd.
Pada 1998, Gus Kikin mendirikan lima perusahaan di Kota Surabaya pada 1998, dan membuka kantor di DKI Jakarta pada 2000.
Adapun beberapa perusahaan yang didirikan olehnya di antaranya adalah Bama Buana Sakti di bidang transportasi, Bama Bhakti Samudra di bidang pelayaran, Bama Bumi Sentosa di bidang kontraktor minyak dan gas (migas), Bama Bali Sejahtera di bidang teknologi informasi, Bama Berita Sarana di bidang media televisi.
Selain itu, ia memiliki perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi, yakni PT. Energi Mineral Langgeng.
(news.com/Endra/Rizki A.)