
Bengkalispos.com– Upaya normalisasi alur pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, terus menunjukkan perkembangan positif seiring berjalannya pengerjaan pengerukan yang dimulai sejak Juni dan direncanakan rampung pada Desember 2025.
Program pengerukan ini menjadi langkah strategis pemerintah pusat dan daerah dalam mengatasi sedimentasi yang selama ini menghambat operasional pelabuhan. Dengan alur yang dangkal dan menyempit, aktivitas bongkar muat sempat terganggu, sehingga normalisasi menjadi kebutuhan yang mendesak.
Dalam kunjungan lapangan, Direktur BLUNAV/Kadisnav Tipe B Tanjung Priok, Capt. Mugen S , menekankan pentingnya kolaborasi antara PT Rukindo sebagai pelaksana pengerukan dan Distrik Navigasi Tanjung Priok yang bertanggung jawab melakukan pengawasan batimetri. Sinergi ini, dengan demikian, menjadi dasar teknis untuk memastikan akurasi hasil pengerukan tahap I dan II, sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
Pengerukan dilakukan oleh PT Pengerukan Indonesia menggunakan kapal keruk utama Costa Fortuna 3 , jenis Cutter Suction Dredger (CSD) yang dirancang khusus untuk pekerjaan normalisasi alur pelayaran.
Hingga November 2025, data menunjukkan kedalaman alur mencapai variasi +2 hingga -12,9 mLWS (Low Water Spring). Adapun target desain yaitu -4 mLWS untuk alur darurat dan berlanjut hingga -6,5 mLWS untuk normalisasi penuh. Kedalaman ini diperlukan agar kapal dengan draft hingga 3 meter dapat melintas secara aman dan lancar.
Meski pengerjaan masih berlangsung, arus lalu lintas kapal di Pelabuhan Pulau Baai tetap terpantau lancar. Kemajuan pengerukan yang membaik juga membuka peluang percepatan pemulihan aktivitas logistik.
Sejak Juli hingga akhir Agustus 2025, ratusan kapal tercatat keluar masuk membawa berbagai kebutuhan logistik dan komoditas daerah. Trafik yang meningkat ini menjadi indikator kuat bahwa pemulihan aktivitas pelabuhan berjalan signifikan.***