Operasi Ganesha Dinobatkan sebagai Mitra Strategis FPLKP di Gebyar Kursus 2026

NEWS.COM - Operasi Ganesha menjadi sebuah lembaga bimbingan belajar yang hadir dalam Gebyar Kursus 2026, acara tahunan yang diselenggarakan Forum Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (FPLKP) di Atrium Mall Festival Kuningan, Jakarta, pada Sabtu (29/8/2026).
Acara ini juga dihadiri oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof Dr Abdul Mu'ti MEd.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ganesha Operation mendapatkan penghargaan sebagai Mitra Strategis dari FPLKP, yang diberikan kepada Direktur Utama Ganesha Operation, Prof Dr Ir Bob Foster MM sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi Ganesha Operation dalam dunia pendidikan nonformal.
Angkat topik "Menghubungkan Keterampilan, Menciptakan Masa Depan"
Perayaan Kursus 2026 diadakan selama dua hari, 29-30 Agustus 2026, dengan mengangkat tema "Menghubungkan Keterampilan, Membangun Masa Depan".
Selain berlangsung di Mall Festival Kuningan, rangkaian kegiatan dilanjutkan ke kawasan Gelora Bung Karno (GBK) pada hari kedua melalui acara jalan sehat dengan tema "Sehat Bersama, Bahagia Bersama" yang diikuti oleh 1.000 peserta.
Acara ini menyediakan lima program utama, salah satunya adalah Business Matching yang menghubungkan lembaga kursus dengan sektor bisnis dan industri.
Selanjutnya, Edu Fair yang bertujuan untuk menyelaraskan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dengan institusi pendidikan tinggi, pelepasan lulusan lembaga kursus dan pelatihan (LKP) ke pasar kerja di luar negeri, lomba bagi lembaga kursus, serta jalan sehat di GBK.
FPLKP menggambarkan kegiatan ini sebagai langkah untuk mempercepat peran LKP dalam menghasilkan sumber daya manusia yang siap berkompetisi di pasar kerja internasional.
Penghargaan Operasi Ganesha terhadap Pendidikan Nonformal
Telah lebih dari 42 tahun, Ganesha Operation bergerak dalam bidang pendidikan nonformal, dengan perhatian khusus membimbing siswa dalam menghadapi ujian sekolah hingga seleksi masuk universitas.
Tantangan di dunia kerja di masa depan akan semakin sulit, sehingga tidak cukup jika generasi muda hanya dipersiapkan melalui pendidikan formal. Mereka memasuki dunia kerja bukan hanya berbekal ijazah, tetapi juga harus memilikiskillyang sesuai dengan kebutuhan. Lembaga nonformal ini menjadi jalan strategis untuk membantu generasi muda menghadapi persaingan di dunia kerja yang terus berubah dengan cepat," ujar Prof. Bob Foster di tengah acara.
Menurutnya, jika pendidikan formal fokus pada aspek akademis, maka pendidikan nonformal berperan dalam memperluas keterampilan, termasuk kesiapan menghadapi perkembangan teknologi dan otomatisasi yang semakin dibutuhkan di dunia kerja.
Pada titik ini, menurut Prof. Bob Foster, pendidikan nonformal berperan sebagai jembatan penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan, permintaan, dan persaingan di dunia pendidikan yang terus berkembang pesat dengan tuntutan yang semakin meningkat.
Dukungan Tokoh Nasional dan Harapan Masa Depan
Selain Prof Abdul Mu'ti, Perayaan Kursus 2026 juga dihadiri oleh Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin PhD serta anggota Komisi X DPR RI, Dr Agung Widyantoro sebagai bentuk perhatian pemerintah dan lembaga legislatif terhadap penguatan ekosistem pendidikan vokasi nasional.
Pada kesempatan tersebut, Prof Abdul Mu'ti menyampaikan peran lembaga kursus dan pelatihan sebagai salah satu jalur yang dapat dimanfaatkan oleh pemuda Indonesia untuk memperoleh keterampilan serta kesempatan kerja, termasuk di bidang profesional baik dalam maupun luar negeri.
"Hal ini menunjukkan peran lembaga pendidikan non-formal, khususnya pelatihan, dalam meningkatkan pemahaman masyarakat, serta memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak-anak Indonesia agar mampu mendapatkan pekerjaan di berbagai bidang profesional baik di dalam maupun luar negeri," ujar Abdul Mu'ti.
Ia menyampaikan, kehadiran pendidikan nonformal menunjukkan betapa pentingnya partisipasi masyarakat dalam menyediakan pendidikan berkualitas yang dapat diakses dengan mudah.
Menurutnya, pendidikan yang formal maupun tidak formal sama-sama diperlukan dalam memberikan keterampilan hidup kepada generasi muda.
Menutup diskusi, Prof Bob menekankan pentingnya kerja sama antar institusi.
"Jelas diperlukan kerja sama untuk membangun ekosistem pendidikan ini bersama, baik lembaga resmi, non-resmi, pemerintah, maupun sektor swasta. Generasi muda perlu siap secara akademik serta kejuruan. Jika Ganesha Operation, FPLKP, dan pemerintah terus bekerja sama seperti ini, saya yakin Indonesia dapat berkembang lebih jauh," katanya.
Dalam Operasi Ganesha, penghargaan ini dianggap sebagai tanda bahwa tugas mendampingi generasi muda masih panjang, bukan akhir dari apa yang telah dilakukan selama ini.
Di masa depan, Ganesha Operation berharap dapat lebih sering terlibat dalam program yang menghubungkan siswa dengan kebutuhan dunia kerja, sesuai dengan semangat "Connecting Skills, Creating Futures" yang diusung Gebyar Kursus 2026.
Berdasarkan Ganesha Operation, rangkaian kegiatan seperti ini mampu mempercepat kerja sama antara lembaga pendidikan nonformal dengan pemerintah serta sektor swasta, sehingga generasi muda Indonesia lebih siap menghadapi perubahan persaingan di dunia kerja.(*)