UEFA Tidak Tinggal Diam, Gianni Infantino Hadapi Ancaman Hukum dan Persaingan Politik di FIFA

Bengkalis Pos ·
 

bengkalispos.com- Persaingan antara FIFA dan UEFA memasuki tahap yang baru. Posisi Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menjadi perhatian setelah UEFA bersiap mengambil tindakan hukum terkait rencana investasi yang sebelumnya diusulkan oleh FIFA melalui FIFA Forward Enterprise (FFE).

Rencana tersebut pernah menjadi proyek yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi komersial FIFA. Namun, FFE akhirnya dibatalkan beberapa hari setelah diumumkan.

UEFA kemudian mengajukan pertanyaan terkait proses di balik rencana tersebut, termasuk penilaian terhadap nilai komersial Piala Dunia.

Di dalam dokumen hukum yang diajukan di Amerika Serikat, kuasa hukum UEFA menyampaikan beberapa tuduhan berat mengenai proses tersebut.

UEFA menganggap rencana FFE dilakukan secara rahasia dan tidak melalui proses kompetitif yang mencakup lelang terbuka maupun evaluasi dari pihak ketiga.

UEFA juga meragukan bagaimana nilai Piala Dunia ditentukan dalam rencana tersebut. Menurut mereka, penilaian sekitar 15 miliar poundsterling terlalu rendah dan berisiko merugikan FIFA serta anggota-anggotanya.

Tindakan UEFA di Amerika Serikat saat ini berfokus pada usaha mendapatkan dokumen dan bukti terkait FFE.

Tiga pihak menjadi target permintaan informasi, yaitu FIFA, perusahaan modal ventura Thrive Capital beserta pendirinya Josh Kushner, serta mantan pimpinan Formula 1 Greg Maffei.

Kushner dianggap sebagai investor utama dalam proyek tersebut, sementara Maffei digambarkan sebagai konsultan bisnis yang penting. Meskipun demikian, dokumen UEFA tidak menyebut keduanya sebagai tersangka dalam proses hukum.

Kushner belum juga memberikan tanggapan terkait permintaan tersebut. Ia akhir-akhir ini menjadi sorotan dunia olahraga setelah mencapai kesepakatan untuk membeli Los Angeles Lakers dengan nilai sekitar 9,3 miliar poundsterling.

Di tengah tekanan yang datang dari UEFA, posisi Infantino belum sepenuhnya dalam bahaya. Presiden FIFA ini masih memperoleh dukungan dari beberapa konfederasi dan federasi nasional.

Asosiasi Sepak Bola Arab Saudi, misalnya, mengatakan tetap mendukung usaha Infantino dalam menjaga persatuan sepak bola global.

UEFA sebelumnya pernah mengancam untuk memboikot kompetisi FIFA sebagai bentuk protes terhadap FFE. Namun, ancaman tersebut akhirnya dibatalkan setelah FIFA memberikan jaminan bahwa rencana serupa tidak akan diulangi.

Meskipun demikian, keputusan UEFA untuk tidak melanjutkan ancaman pemboikotan tidak berarti perselisihan telah selesai. Justru tindakan hukum terbaru menunjukkan bahwa perbedaan antara kedua organisasi masih sangat dalam.

Infantino sebelumnya mewakili FFE dalam upaya membuka peluang bisnis baru bagi FIFA. Setelah rencana tersebut dibatalkan, ia juga mengakui terdapat beberapa kesalahan.

Saat ini, fokus mulai beralih pada kemungkinan proses hukum di Swiss. UEFA belum menentukan apakah akan benar-benar mengajukan tuntutan pidana terhadap Infantino. Keputusan ini kemungkinan besar tergantung pada dokumen dan bukti yang berhasil dikumpulkan dari proses di Amerika Serikat.

Keadaan ini semakin mendesak mengingat pemilihan presiden FIFA yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Maret berikutnya. Infantino diperkirakan akan berusaha memperpanjang masa jabatannya untuk yang keempat kalinya jika kembali maju sebagai kandidat.

UEFA telah memberikan indikasi bahwa mereka akan mencari calon alternatif. Mereka menginginkan seseorang yang mampu memimpin agenda perubahan, kejelasan, kemandirian, dan pertanggungjawaban dalam tubuh FIFA.

Bulan depan akan menjadi momen penting karena Infantino akan berjumpa dengan sejumlah pihak yang menentang kebijakannya dalam rapat Dewan FIFA. Proses pemilihan presiden kemudian dijadwalkan berlangsung pada November.

Berdasarkan jadwal tersebut, perselisihan antara FIFA dan UEFA berpotensi tetap menjadi perhatian hingga pemilihan presiden tahun depan. Infantino masih memiliki dukungan yang kuat, namun tekanan hukum dan politik dari UEFA membuat jalannya kembali mencalonkan diri tidak akan mudah.

Sementara ini, belum ada indikasi bahwa perselisihan antara kedua pihak akan segera berakhir. Persaingan pengaruh di dalam tubuh sepak bola dunia justru memasuki tahap yang lebih kritis.