Buku Islam ala Prabowo,Dimana Salahnya?

Bengkalis Pos ·
Buku Islam ala Prabowo,Dimana Salahnya?

Oleh: Ilham Kadir, Ketua GPMB Enrekang.

-TIMUR.COM- Akhir-akhir ini media sosial kembali ribut. Mereka mempermasalahkan buku berjudul "Islam ala Prabowo" dengan anak judul "Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam". Buku ini diluncurkan di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, tanggal 26 Agustus 2025 bertepatan dengan kegiatan Rapat Koordinasi Nasional BAZNAS se-Indonesia.

Kebetulan dalam acara tersebut saya juga ikut menyaksikan. Dan anehnya, waktu peluncuran buku tersebut, Presiden Prabowo Subianto sendiri tidak hadir, padahal beliau diundang baik dalam membuka acara Rakornas maupun untuk hadir dalam menyaksikan buku yang berisi tentang dirinya. Dan kesimpulan saya pada saat itu hingga saat ini, buku "Islam ala Prabowo" tidak terlalu prioritas bahkan tidak penting bagi Prabowo.

Setelah buku ada di tangan. Saya baca beberapa tulisan di dalamnya, dan tak ada satupun kalimat yang Prabowo tulisan dalam buku ini. Semua ditulis oleh orang-orang yang mengenal Prabowo baik secara dekat dalam perjalanan hidupnya, maupun mereka yang merasa dekat dengan beliau. Dan sebagai penulis, itu sah-sah saja, andai kata saya diminta untuk menyumbang naskah, saya akan ikut walau belum pernah ketemu sama Prabowo. 

Untuk memperkuat argumentasi saya bahwa buku ini bukan hasil pemikiran Prabowo, dijelaskan dalam 'kata pengantar' atas nama Tim Penulis. Katanya, Buku ini ditulis dalam ikhtiar menggali nilai-nilai, paradigma, napak tilas, sekaligus membaca denah rumah masa depan bangsa yang beliau emban dalam memacu perjuangan bangsa beserta unsur-unsur progresif di dalamnya. Melalui buku ini, pembaca dapat menilai pengaruh moral Islam dalam perilaku politik dan kepemimpinan Prabowo Subianto yang dalam alam pikir  Sir M. Iqbal disebut sebagai "elan vital".

Ulasan dari berbagai penulis, tulis penyusun, beserta intisari makna yang kian ragam dalam tulisan ini memberi nuansa segar terhadap sisi pemikiran keagamaan dan religius Prabowo yang sebagian tak terpublikasi atau setidaknya jarang diulas dengan ilmiah dan jujur. Memang benar pengamatan kami bahwa Prabowo bukan orang yang alim untuk berdalil, juga bukan orang yang memaksa diri untuk bisa berdalil. Beliau ada adanya, beliau tidak gengsi tampil jujur sebagai orang yang dalam beragama khususnya pada masalah ritual, hanya bertaklid saja kepada ulama yang diakui kapasitasnya. 

Namun demikian, papar Penyusun, "Pemikiran keagamaan dan akhlak agama nampak jelas warnanya dalam kiprah beliau dari masa ke masa. Hal ini akan dapat pembaca temukan dari ulasan demi ulasan para penulis termasuk pengalaman mereka berinteraksi langsung dengan Prabowo Subianto,".

Buku ini tidak dimaksudkan sama sekali untuk memoles citra Islam pada diri Prabowo, jauh panggang dari api. Justru buku ini boleh dibilang sebagai nasihat kepada presiden kita tersebut tentang doa nabiyullah Sulaiman bin Daud yang termaktub dalam al-Qur'an Surah Shad ayat ke-35, "Ya Rabb-ku. Ampuni segala dosaku dan berilah kepadaku kekuasaan yang tidak akan bisa dimiliki oleh seorang pun setelahku. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pemberi!"

Buku ini adalah ikhtiar kecil dari kami untuk turut berkontribusi agar kiranya Prabowo tetap dalam rel niat baik di atas sehingga visi pembaharuan yang beliau miliki dapat terimplementasi dengan baik, visi persatuan yang beliau perjuangkan dapat semakin menentukan ruang yang  terbuka, (hal. v-vii). 

Dalam "prolog" yang ditulis oleh orang dekat Prabowo,  H. Ahmad Muzani, ketua MPR RI,  kembali menceritakan tentang riwayat hidup MBG. Dan benar memang, apa pun yg dibahas jika terkait Prabowo, pasti ada MBG. Muzani menulis, "Salah satu contohnya adalah makan bergizi gratis yang sebenarnya digagas oleh Prabowo Subianto sebelum mendirikan Partai Gerindra. Prabowo merasa prihatin melihat kondisi fisik anak2 Indonesia yang cenderung kecil, dan setelah diteliti salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kebiasaan minum susu. Kala itu, Prabowo menggagas untuk memberikan anak-anak sekolah susu segar setiap harinya. Kemudian hari, gagasan ini berkembang untuk tidak hanya memberikan susu tetapi menjadi makan bergizi gratis untuk jaminan terpenuhinya gizi yang cukup bagi generasi penerus bangsa Indonesia."

Beberapa nama dari tokoh nasional lainnya turut berkontribusi dalam buku ini, sebut saja diantaranya, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, dengan tajuk artikel "Peduli Kepada Rakyat dan Keadilan". Ada juga Prof. Dr. Noor Achmad, "Prabowo Subianto: Kepemimpinan dan Kemakmuran". Tak ketinggalan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, "Islam Kerakyatan ala Prabowo Subianto". Bahkan, nama besar dan mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, menulis artikel "Berislam Nusantara ala Prabowo Subianto". 

Salah satu kutipan dari Kyai Said Aqil adalah "Presiden Prabowo perlu mengisi figur-figur yang bersih untuk menempati berbagai posisi penegak hukum. Jika lembaga-lembaga penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan, kehakiman diisi figur-figur bersih maka penegakan hukum akan berjalan dengan adil sehingga kepercayaan dunia internasional kepada Indonesia tidak hanya baik tetapi juga mendorong masuknya investasi asing ke Indonesia, karena jelasnya proses peraturan dan penegakan hukum, (hal. 235).

Begitu di antara isi buku tersebut. Jadi jangan buru-buru menilai buku dengan sampulnya, sekali lagi tidak ada dalam buku ini tulisan yang menyatakan bahwa Prabowo membawa pandangan dan pemahaman baru dalam aqidah maupun syariat Islam. Hanya sebatas pandangan para penulis terkait pikiran ucapan dan tindakan Prabowo yang diterjemahkan dalam narasi artikel. Siapa pun bisa menulis, dan para pembaca berhak mengulas.

Bagi yang tidak suka, maka sebaiknya tulis buku tandingan yang kualitasnya lebih baik, minimal serupa. Boleh saya beri saran, misal judul bukunya, "Deislamisasi ala Prabowo" dan semisalnya. Dan sebaiknya, buku yang ingin dikritik dibaca baik-baik, dipahami isinya, kemudian diulas kelebihan dan kekurangannya.

Buku ini kelebihannya karena mampu menafsirkan pikiran dan islamic worldview milik Prabowo. Hanya saja, perlu dikritisi sebab semua penulis masih memaparkan sisi sportivitas dan nilai tambah Prabowo sebagai seorang presiden. Padahal banyak juga minus dan kekurangannya yang sebaiknya dipaparkan juga supaya jika ada kesalahan jangan dipertahankan bahkan diulang-ulang. Dan terpenting, tulisan ini harus dipahami masih laksana tulisan "para penasehat presiden yang ingin agar presiden tetap senang". Maka masih perlu karya lanjutan atau tandingan yang berimbang. Selamat Membaca!

Judul Buku: Islam ala Prabowo, Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam; Penulis: Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, dkk; Editor: Niamul Qohar; Penerbit: Atmosphere Publishing House; Tempat/tahun: Jakarta/2025.