Detonator pendidikan: Menghidupkan kembali api pedagogi Ignasian

Bengkalis Pos ·
PROFIL PENULIS
Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

DALAM sejarah catur dunia, tahun 1970-an mencatat satu ledakan spektakuler ketika seorang pemuda nyentrik bernama Bobby Fischer mendobrak kebekuan era kaku catur ortodoks. Saya termasuk orang yang memandang Fischer sebagai detonator catur. 

Sebelum kemunculannya, catur didominasi oleh gaya Soviet yang metodis, lambat, serba terukur, dan terkadang terasa menjenuhkan. Fischer hadir bagai martil yang menghancurkan stagnasi itu.

Ia menyajikan gaya permainan yang tidak hanya strategis, tetapi juga indah, estetik, mendebarkan, dan dipenuhi pengorbanan perwira yang memukau. Ia memantik vitalitas baru: catur bukan lagi sekadar akumulasi kalkulasi statis, melainkan sebuah pertunjukan keindahan akal budi yang bernyawa.

Lantas, apakah ledakan detonator seperti yang dihadirkan Fischer mungkin terjadi di wilayah pendidikan?

Jawabannya: sangat mungkin, bahkan sangat mendesak. Pendidikan modern kita hari ini kerap terjebak dalam jebakan konservatisme baru.

Pembelajaran kerap terdistorsi menjadi rutinitas mekanis—berburu nilai, menghafal kisi-kisi ujian, dan mengejar pencapaian administratif yang dingin.

Sekolah bertransformasi menjadi pabrik kelulusan yang steril dari gairah pencarian kebenaran. Pendidikan kehilangan "kejutan-kejutan estetik" dan keberanian untuk berkorban demi kedalaman makna.

Untuk menemukan detonator pendidikan yang mampu membakar kembali gairah belajar itu, kita tidak perlu selalu menciptakan formula yang sama sekali baru dari nol.

Kita bisa membedahnya melalui pendekatan pendidikan ala Kolese—model pendidikan Ignasian yang telah teruji efektivitas dan kekukuhannya selama lebih dari 470 tahun melintasi Zaman Kegelapan, Revolusi Industri, hingga Era Disrupsi Digital.

Belum lama ini, gaung vitalitas itu kembali terpancar ketika para alumni sekolah-sekolah Ignasian dari seluruh penjuru dunia berkumpul dalam ajang World Union of Jesuit Alumni (WUJA) di Yogyakarta. Pertemuan internasional tersebut bukan sekadar nostalgia reuni para alumni, melainkan sebuah penegasan kembali atas keberadaan impuls vital yang memicu pendidikan mereka selama abad demi abad.

Apa sesungguhnya detonator dalam pendidikan ala Kolese tersebut?

Detonator pertamanya terletak pada pemahaman mendalam atas Asas dan Dasar (Principium et Fundamentum). Dalam tradisi Ignasian, Asas dan Dasar meletakkan orientasi fundamental manusia: bahwa segala sesuatu di dunia diciptakan untuk membantu manusia mencapai tujuan akhirnya yang luhur.

Dalam konteks pendidikan, Asas dan Dasar bertindak sebagai kompas eksistensial. Ia memicu pembongkaran pemikiran dangkal. Pendidikan tidak dimaknai secara pragmatis-materialistis sekadar untuk mencari pekerjaan atau status sosial, melainkan sebagai proses pembentukan pribadi yang utuh (cura personalis).

Asas dan Dasar inilah yang membuat proses pembelajaran di Kolese selalu mendebarkan. Siswa tidak hanya diajak bertanya "apa" dan "bagaimana", tetapi diajak menyelami "untuk apa" (non multa, sed multum—bukan banyaknya ilmu, melainkan kedalamannya). Pembelajaran menjadi sebuah petualangan reflektif yang menuntut keberanian kritis.

Detonator kedua, yang menjadi titik puncak dari seluruh dinamika pedagogi ini, adalah doa Sucipe (Amor et Gratia): "Suscipe, Domine, universam meam libertatem..." (Terimalah, Ya Tuhan, seluruh kebebasanku...).

Pada pandangan pertama, penyerahan kebebasan dan kehendak dalam Sucipe mungkin terdengar kontradiktif dengan semangat kemerdekaan belajar. Namun, di sinilah letak dinamika pengorbanan ala permainan catur Bobby Fischer.

Fischer berani mengorbankan Benteng atau Gajah yang sangat berharga demi memenangkan posisi strategis yang jauh lebih indah dan menentukan. Demikian pula dalam pendidikan Ignasian: Sucipe adalah bentuk pengorbanan egoisitas dan kenyamanan diri demi capaian kemanusiaan yang lebih tinggi.

Pendidikan yang dijiwai oleh Sucipe melatih peserta didik untuk berani "berkorban". Mereka belajar mengorbankan waktu demi membela yang tertindas, mengorbankan ego demi kolaborasi, dan menyerahkan kepintaran pribadi untuk diabdikan kepada sesama (men and women for and with others). Kebebasan tidak dihancurkan, melainkan ditransformasikan dari kebebasan dari sesuatu (freedom from) menjadi kebebasan untuk mencintai dan melayani (freedom for).

Dua pilar ini—Asas dan Dasar serta Sucipe—merupakan detonator yang mengubah dinamika kelas dari ruangan hafalan pasif menjadi panggung dinamika yang hidup. Sinergi keduanya melahirkan Siklus Pedagogi Ignasian (SPI) yang bergerak dinamis melalui lima tahap: Konteks, Pengalaman, Refleksi, Aksi, dan Evaluasi.

Sama seperti permainan catur Fischer yang mendebarkan karena setiap langkahnya dipikirkan mendalam dan berani mengambil risiko, pendidikan ala Kolese menjadi hidup karena refleksi dan aksinya mendesak siswa untuk keluar dari zona nyaman. Refleksi mengusik pemikiran yang malas, sementara Aksi menuntut manifestasi konkret di dunia nyata.

Pertemuan WUJA di Yogyakarta membuktikan bahwa alumni yang ditempa oleh detonator ini tidak menjadi pribadi yang kaku. Mereka justru hadir di berbagai belahan dunia sebagai agen perubahan yang fleksibel, adaptif, tangguh, namun memiliki akar nilai yang tak tergoyahkan.

Dunia pendidikan hari ini merindukan sosok-sosok detonator—baik itu pendidik, kurikulum, maupun institusi—yang berani mendobrak kebekuan cara belajar konvensional.

Kita membutuhkan pendidikan yang tidak hanya mendidik otak, tetapi juga membakar jiwa; pendidikan yang penuh taktik cerdas, berani mengambil risiko pengorbanan demi kebenaran, dan bermuara pada penyerahan diri yang tulus bagi kebaikan bersama.

Pendidikan ala Kolese telah menunjukkan bahwa ketika Asas dan Dasar menyatu dengan kedalaman Sucipe, pendidikan bukan lagi sekadar kewajiban akademis yang menjenuhkan, melainkan sebuah babak permainan kehidupan yang indah, mendebarkan, dan bermakna agung.