Keluarga Bantah Isu Bullying atas Kematian Dokter PPDS Undip,dr Yuda Meninggal Karena Sakit Ini

Bengkalis Pos ·
Keluarga Bantah Isu Bullying atas Kematian Dokter PPDS Undip,dr Yuda Meninggal Karena Sakit Ini

JATENG.COM, SEMARANG - Kabar duka kembali datang dari dunia pendidikan di Kota Semarang, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip), dr Yuda Nabella Prameswari, M.Biomed., menjadi perhatian setelah kabar tersebut dikaitkan dengan dugaan praktik bullying di lingkungan pendidikan kedokteran.

Isu tersebut mencuat melalui sejumlah unggahan di media sosial baik instagram maupun threads yang menyinggung relasi antara senior dan junior di lingkungan pendidikan dokter spesialis.

Sempat beredar di media sosial salah satu akun menyinggung relasi antara senior dan junior di lingkungan pendidikan dokter spesialis.

Dalam unggahan tersebut mempertanyakan dugaan penggunaan panggilan "babu" oleh PPDS senior terhadap junior. 

Unggahan itu juga menyoroti persoalan relasi kuasa, bullying, hingga dugaan fraud akademik. 

Namun belakangan unggahan ataupun komentar tersebut tidak ditemukan lagi.

"Junior, senior, konsulen, termasuk doktor dan profesor setara. Punya tupoksi masing-masing. Saling bahu membahu demi keselamatan pasien," tulis dia.

Sementara itu, beredar pula tangkapan layar di sosial media cuitan pemilik akun @rizkyds membantah isu tersebut lewat klarifikasi bahwa yang bersangkutan meninggal karena sakit.

Permisi min, ijin klarifikasi. Saya selaku adik kandung almarhumah ingin meluruskan, almarhumah meninggal dikarenakan sakit Meningoencephalitis. Beliau sempat dirawat di ICU dan qadarullah Allah lebih sayang almarhumah dengan cara diambil sakitnya selamanya. Tolong jgn di blow up lagi biar almarhumah tenang ya. Mohon doanya saja untuk almarhumah agar diberikan tempat yang nyaman di alam kubur," tulis akun tersebut.

Merespon banyaknya informasi yang masih belum dipastikan kebenarannya itu, Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik Undip, Nurul Hasfi menyebut berdasarkan laporan resmi yang diterima, dr Yuda meninggal setelah menjalani perawatan di RSUP Dr Kariadi akibat demam berdarah.

Ia menyatakan Dr Yuda meninggal pada Jumat (28/8/2026) pukul 19.06 WIB di ruang ICU RSUP Dr Kariadi.

Sebelumnya, ia telah menjalani perawatan selama 15 hari dan selama masa perawatan didampingi keluarga serta pihak Departemen dan Program Studi.

"Sejauh ini, berdasarkan laporan resmi yang diterima universitas, almarhumah meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi karena sakit Demam Berdarah," katanya dalam keterangannya kepada awak media.

Dr Yuda merupakan mahasiswa PPDS semester 1 Program Studi Kedokteran Jiwa Undip angkatan ke-85. Ia tercatat mulai mengikuti pendidikan pada 16 Juli 2026.

Nurul menjelaskan, almarhumah masih berada dalam tahap orientasi dan baru menjalani perkuliahan sekitar 1,5 bulan. 

Pada tahap tersebut, dr Yuda masih mengikuti Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) di kelas dan belum menjalani praktik di rumah sakit.

"Jadi almarhumah masih dalam masa orientasi dan baru menjalani perkuliahan selama sekitar 1,5 bulan serta masih mengikuti Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) di kelas dan belum praktik di Rumah Sakit," katanya.

Meski demikian, Nurul tidak mengabaikan isu dugaan bullying yang berkembang. Pihak universitas menyatakan tengah melakukan klarifikasi internal untuk memperoleh gambaran secara lengkap dan objektif.

"Undip saat ini tetap terus mengawal isu ini dengan melakukan klarifikasi internal untuk memastikan kebenaran informasi yang berkembang serta memperoleh gambaran yang lengkap dan objektif mengenai dugaan tersebut," ujar Nurul.

Undip juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan RSUP Dr Kariadi dalam proses klarifikasi tersebut.

"Undip termasuk FK sendiri terus berkomitmen menjaga lingkungan pendidikan yang aman, profesional, dan bebas dari segala bentuk perundungan," tegasnya. (*)