Menjaga air: ketika tempat ibadah menjadi ruang edukasi

Bengkalis Pos ·

bengkalispos.com.CO.ID, Persoalan air sesungguhnya bukan hanya persoalan ketersediaan sumber daya. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu perilaku manusia dalam menggunakan air. Karena itu, menghadapi ancaman kekeringan tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur penyediaan air, membuat sumur, memperluas jaringan perpipaan, atau mendistribusikan air ketika terjadi krisis. Masyarakat juga perlu dibekali pengetahuan dan kebiasaan bagaimana menggunakan air secara bijaksana.

Di sinilah edukasi publik mempunyai peran penting. Selama ini, kampanye hemat air lebih sering disampaikan melalui media massa, media sosial, sekolah, lingkungan kerja, atau program pemerintah. Semua saluran tersebut tentu penting. Namun, ada satu ruang sosial yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat dan berpotensi menjadi bagian penting dari gerakan konservasi air, yaitu tempat ibadah.

Indonesia memiliki kehidupan keagamaan yang kuat. Masjid, musala, gereja, pura, vihara, dan tempat ibadah lainnya tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ritual keagamaan. Tempat-tempat tersebut juga merupakan ruang perjumpaan sosial, pendidikan nilai, pembentukan karakter, dan penguatan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan. Potensi tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan lebih optimal.

Air dan Persoalan Perilaku

Ketika berbicara mengenai kekurangan air, perhatian sering tertuju pada faktor alam. Itu meliputi kemarau panjang, perubahan iklim, berkurangnya curah hujan, kerusakan daerah aliran sungai, atau menurunnya cadangan air tanah. Faktor-faktor tersebut memang penting.

Namun, yang tidak kalah menentukan, yaitu bagaimana manusia memperlakukan air. Fenomena yang sering ditemui adalah air yang mengalir dari keran tanpa digunakan, kebocoran yang dibiarkan, penggunaan air secara berlebihan untuk membersihkan halaman, kendaraan, maupun fasilitas umum. Semua itu merupakan contoh kecil dari perilaku yang apabila dilakukan secara terus-menerus dapat menjadi persoalan besar.

Masalahnya, sebagian masyarakat mungkin belum memperoleh edukasi yang sederhana dan praktis mengenai apa yang sebaiknya dilakukan ketika air tersedia melimpah dan apa yang perlu dilakukan ketika memasuki musim kering. Masyarakat sering diajak untuk “hemat air”. Namun, pesan tersebut terkadang berhenti sebagai slogan.

Masyarakat belum selalu mendapatkan contoh konkret. Contoh tersebut antara lain berapa banyak air yang sebenarnya dibutuhkan, kapan keran perlu ditutup, bagaimana memanfaatkan kembali air yang masih layak, dan bagaimana membangun kebiasaan hemat air dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangannya bukan semata-mata kurangnya kepedulian masyarakat, tetapi juga belum optimalnya proses edukasi yang mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan.

Tempat Ibadah sebagai Ruang Edukasi

Tempat ibadah memiliki keunggulan yang mungkin tidak dimiliki oleh semua saluran komunikasi publik. Pesan yang disampaikan di dalamnya dapat menyentuh aspek pengetahuan sekaligus nilai dan perilaku.

Dalam konteks umat Islam, misalnya, wudhu merupakan bagian penting dalam persiapan ibadah. Namun, berwudhu tidak berarti menggunakan air secara berlebihan. Ajaran Islam justru memberikan teladan untuk menggunakan air secara secukupnya dan menghindari sikap berlebih-lebihan. Pesan tersebut sangat relevan dengan tantangan lingkungan saat ini.

“Kesucian dalam beribadah tidak harus diwujudkan dengan penggunaan air secara berlebihan”. Pesan yang sama secara substansi juga dapat dikembangkan dalam konteks agama dan tradisi keagamaan lainnya sesuai dengan nilai masing-masing. Intinya adalah membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan dan sumber daya alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.

Karena itu, pesan konservasi air dapat disampaikan melalui khutbah, ceramah, pengajian, sekolah minggu, pendidikan keagamaan, kegiatan umat, pertemuan komunitas, maupun berbagai forum keagamaan lainnya. Pesannya tidak perlu rumit.

Misalnya “Gunakan air secukupnya. Tutup keran setelah digunakan.” Atau “Air adalah anugerah. Mari gunakan dengan bijaksana.”

Pesan sederhana tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, apabila disampaikan secara konsisten dan dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, dampaknya dapat menjadi besar.

Bayangkan jika ribuan tempat ibadah di berbagai daerah secara bersamaan menjadi pusat edukasi hemat air. Pesan tersebut tidak hanya didengar sekali, tetapi berulang kali. Anak-anak mendengarnya dari guru, orang tua menerapkannya di rumah, tokoh agama menyampaikannya dalam ceramah, dan pengelola tempat ibadah memberikan contoh melalui pengelolaan fasilitas.

 

Dari Ceramah Menjadi Praktik

Tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan bahwa pesan hemat air tidak berhenti pada kata-kata. Tempat ibadah dapat menjadi contoh nyata pengelolaan air yang baik. Pengelola masjid, musala, gereja, pura, vihara, dan tempat ibadah lainnya dapat secara bertahap melakukan berbagai langkah sederhana sesuai kondisi masing-masing.

Pertama, mengurangi penggunaan air yang tidak diperlukan. Keran dapat diperiksa secara berkala untuk mencegah kebocoran. Aliran air dapat disesuaikan agar tidak terlalu besar. Pada fasilitas tertentu, teknologi keran hemat air atau pembatas debit dapat digunakan.

Kedua, memanfaatkan kembali air yang masih layak. Misalnya, air bekas wudhu yang memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan dapat ditampung untuk keperluan nonkonsumsi seperti menyiram tanaman atau membersihkan area tertentu.

Ketiga, membuat penggunaan air menjadi terukur. Pengelola tempat ibadah dapat mencatat penggunaan air setiap bulan. Dari pencatatan sederhana tersebut dapat diketahui apakah penggunaan air meningkat atau menurun.

Keempat, membangun budaya melalui keteladanan. Anak-anak dan generasi muda akan lebih mudah belajar ketika melihat contoh nyata. Jika mereka melihat orang dewasa menutup keran setelah digunakan, menggunakan air secukupnya, dan menjaga kebersihan lingkungan, pesan konservasi menjadi lebih mudah diterima.

Dengan demikian, tempat ibadah tidak hanya menjadi tempat menyampaikan nilai, tetapi juga menjadi laboratorium sosial untuk membangun perilaku ramah lingkungan.

Pendekatan Pemerintah

Gagasan menjadikan tempat ibadah sebagai bagian dari gerakan hemat air tentu tidak berarti seluruh tanggung jawab konservasi air diserahkan kepada masyarakat atau lembaga keagamaan. Pemerintah tetap memiliki peran utama dalam memastikan ketersediaan, pemerataan, kualitas, dan keberlanjutan sumber daya air. Yang diperlukan adalah memperluas pendekatan Pemerintah dari sekadar penanganan krisis menuju pencegahan dan perubahan perilaku. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, Pemerintah perlu membangun kampanye nasional hemat air yang sederhana, konsisten, dan mudah dipraktikkan. Pesan jangan terlalu teknis. Masyarakat membutuhkan petunjuk yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, Pemerintah dapat membangun kemitraan dengan lembaga keagamaan dan organisasi masyarakat. Kementerian dan pemerintah daerah yang menangani urusan agama, lingkungan hidup, sumber daya air, pendidikan, dan pemerintahan daerah dapat menyusun materi edukasi yang dapat digunakan oleh para tokoh agama dan pengelola tempat ibadah.

Ketiga, Pemerintah perlu mendorong pengemabngan program tempat ibadah ramah air. Program ini tidak harus selalu berupa proyek besar. Indikatornya dapat sederhana: tidak ada kebocoran, penggunaan air terukur, tersedia pesan edukasi, terdapat fasilitas hemat air, dan terdapat upaya pemanfaatan kembali air yang memungkinkan.

Keempat, Pemerintah dapat memberikan penghargaan atau apresiasi kepada komunitas dan tempat ibadah yang berhasil menerapkan praktik konservasi air. Pendekatan penghargaan akan lebih membangun semangat dibandingkan pendekatan yang semata-mata bersifat instruktif.

Kelima, Pemerintah mendorong penguatan edukasi hemat air melalui sekolah dan keluarga. Anak-anak dapat menjadi agen perubahan di rumah. Ketika anak memahami pentingnya air, mereka dapat mengingatkan orang tua dan anggota keluarga lainnya untuk menggunakannya secara bijaksana.