Pelajar Sorong belajar menulis puisi, gali cerita dari pengalaman sehari-hari

Bengkalis Pos ·
Pelajar Sorong belajar menulis puisi, gali cerita dari pengalaman sehari-hari
Ringkasan Berita:
  • Komunitas Papua Berbagi menyelenggarakan Kelas Kepenulisan Puisi bagi pelajar SMA di Sorong.
  • Program Suara Muda dari Timur bertujuan menyediakan ruang ekspresi dan literasi bagi generasi muda Papua.
  • Penulis Ishak R. Baufakar membimbing peserta dalam proses kreatif mulai dari ide hingga pemilihan kata.
  • Karya peserta akan dikurasi menjadi buku antologi dan ditampilkan dalam acara Panggung Karya.
 

SORONG.COM, SORONG - Sejumlah pelajar SMA dari Kabupaten Sorong dan Kota Sorong mengikuti Kelas Kepenulisan Puisi yang digelar Komunitas Papua Berbagi, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Suara Muda dari Timur: Kelas Kepenulisan, Panggung Karya, dan Antologi Remaja”.

Dalam kelas tersebut, para pelajar belajar proses kreatif menulis puisi bersama penulis sekaligus penyair, Ishak R. Baufakar.

Ishak memperkenalkan sejumlah tahapan dalam menciptakan puisi, mulai dari menemukan ide, mengamati lingkungan sekitar, menggali pengalaman pribadi, hingga memilih kata yang tepat untuk menyampaikan gagasan.

Menurut Ishak, puisi tidak selalu harus lahir dari persoalan besar. 

Pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari, hubungan dengan keluarga, lingkungan sekolah, pertemanan, kebudayaan, hingga kondisi sosial dapat menjadi sumber inspirasi.

Ia mengatakan, setiap anak muda memiliki pengalaman dan sudut pandang yang dapat dituangkan menjadi karya sastra.

Hal terpenting dalam proses menulis, kata dia, adalah keberanian untuk memulai dan menyampaikan apa yang dirasakan secara jujur.

“Puisi bisa lahir dari pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Anak-anak muda hanya perlu berani melihat, merasakan, kemudian menuliskannya dengan bahasa mereka sendiri,” ujar Ishak.

Ia menjelaskan, menulis puisi bukan sekadar menyusun kata-kata indah. 

Puisi merupakan salah satu cara untuk menyampaikan pengalaman, kegelisahan, harapan, serta pandangan penulis terhadap kehidupan.

Karena itu, peserta didorong tidak takut jika karya yang dihasilkan masih sederhana atau belum sempurna.

Menurut Ishak, latihan dan kebiasaan membaca menjadi bagian penting dalam membentuk gaya penulisan seseorang.

“Jangan takut tulisan kita dianggap belum sempurna. Semua penulis memulai dari proses belajar. Semakin sering membaca dan menulis, semakin terbentuk pula keberanian serta karakter dalam berkarya,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti diskusi dan latihan menulis.

Mereka diminta menggali pengalaman masing-masing untuk dikembangkan menjadi gagasan dan dituangkan dalam bentuk puisi.

Kelas tersebut menjadi ruang bagi para pelajar untuk menyampaikan cerita, perasaan, keresahan, dan harapan melalui karya sastra.

Selain meningkatkan keterampilan menulis, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan diri peserta untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.

Ketua Komunitas Papua Berbagi, Zora Masita, mengatakan program Suara Muda dari Timur dirancang sebagai ruang belajar dan berekspresi bagi generasi muda di Sorong.

Menurutnya, anak-anak muda memiliki banyak cerita dan gagasan yang perlu mendapatkan ruang untuk disampaikan kepada masyarakat.

“Kami ingin pelajar di Kabupaten dan Kota Sorong memiliki ruang untuk belajar, menulis, berdiskusi, serta berani menyampaikan cerita mereka sendiri melalui karya,” ujar Zora.

Ia menuturkan, rangkaian program tersebut tidak berhenti pada kelas kepenulisan.

Karya yang dihasilkan peserta akan melalui proses kurasi sebelum dihimpun menjadi antologi puisi karya remaja.

Dengan demikian, peserta dapat mengikuti seluruh proses penciptaan karya, mulai dari menggali ide, menulis, memperbaiki tulisan, hingga memperkenalkannya kepada masyarakat.

“Karya peserta nantinya akan dikurasi dan dihimpun dalam sebuah antologi. Kami ingin proses belajar mereka memiliki hasil yang dapat dibaca dan menjadi dokumentasi suara anak-anak muda dari Sorong,” katanya.

Puisi-puisi terpilih selanjutnya akan diperkenalkan kepada masyarakat melalui Panggung Karya yang dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2026.

Dalam kegiatan tersebut, peserta akan mendapat kesempatan membacakan dan menampilkan karya mereka di hadapan publik.

Panggung Karya menjadi ruang apresiasi sekaligus perayaan atas proses belajar yang telah dilalui peserta selama mengikuti program Suara Muda dari Timur.

Selain kelas puisi, program tersebut juga menghadirkan kelas kepenulisan cerita pendek dan monolog untuk memperkenalkan berbagai bentuk karya sastra kepada peserta.

Komunitas Papua Berbagi berharap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya penulis-penulis muda dari Tanah Papua yang mampu mengangkat pengalaman, identitas, kebudayaan, serta kehidupan masyarakat melalui karya.

Program tersebut juga diharapkan dapat membangun kebiasaan membaca dan menulis di kalangan pelajar sekaligus memperluas ruang bagi karya anak muda untuk dikenal publik.

Melalui Suara Muda dari Timur, generasi muda tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga pencipta karya yang memiliki pandangan dan pesan untuk disampaikan kepada masyarakat.

Rangkaian program tersebut akan ditutup melalui Panggung Karya pada 6 September 2026, sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan karya para peserta kepada publik. (sorong.com/ismail saleh)