Perjalanan Farida Hanim Saragih menembus studi di University of Limerick
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Farida-Hanim-Saragih-anak-Medan.jpg)
-MEDAN.com, MEDAN – Jauh sebelum mengenal rumitnya aplikasi beasiswa, mencari supervisor, menyiapkan proposal riset hingga menghadapi tes kemampuan bahasa Inggris, Farida Hanim Saragih sudah menyimpan satu keinginan sejak kecil, suatu hari ia ingin belajar di luar negeri.
Keinginan itu bahkan pernah dituangkannya dalam rencana-rencana sederhana yang ditempel di kamar.
Saat masih duduk di bangku sekolah dasar di Tebing Tinggi, perempuan kelahiran 17 Maret 1985 tersebut juga sudah mulai mengikuti les bahasa Inggris.
Kala itu, Farida belum mengetahui ke negara mana langkahnya akan menuju. Ia hanya memiliki rasa ingin tahu untuk melihat dunia yang lebih luas dari lingkungan tempatnya tumbuh.
“Memang dari kecil itu aku sudah punya impian. Bahkan dulu di kamar aku sudah ada kayak planning-planning, aku pengen kuliah ke luar negeri. Mulai dari SD itu sudah belajar bahasa Inggris, sudah les-les bahasa Inggris waktu sekolah di Tebing,” cerita Farida.
Bertahun-tahun kemudian, mimpi masa kecil itu membawanya ribuan kilometer dari Sumatera Utara.
Kini, Farida menjalani pendidikan doktoral atau PhD di University of Limerick, Irlandia. Dosen Universitas Negeri Medan (Unimed) tersebut merupakan penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) 2023.
Namun, perjalanan menuju Irlandia bukan cerita tentang keberhasilan yang datang dalam satu kali percobaan.
Ada waktu sekitar dua tahun yang ia habiskan untuk mempersiapkan diri. Ada pula penolakan demi penolakan yang harus diterimanya sebelum akhirnya kesempatan itu terbuka.
Farida telah mengajar sejak 2010 di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni Unimed, tepatnya pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.
Sebagai dosen, melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral menjadi bagian dari pengembangan karier akademiknya. Namun, bagi Farida, keputusan melanjutkan studi tidak semata-mata untuk memenuhi tuntutan profesi.
Ia ingin meningkatkan kapasitas dirinya sekaligus merasakan langsung bagaimana belajar dan mengajar di negara lain.
Apalagi bidang yang ditekuninya adalah pendidikan Bahasa Inggris.
“Saya memang ingin meningkatkan kemampuan saya lagi di level yang lebih up, sampai di luar negeri. Jadi, bagaimana pengalaman belajar dan mengajar di luar negeri. Apalagi saya dosen Bahasa Inggris, jadi bagaimana belajar di negaranya yang berbahasa Inggris sehari-hari, mengenal budayanya,” katanya.
Ia juga ingin memahami sistem pendidikan di Eropa. Harapannya, pengalaman dan praktik baik yang ditemukannya selama studi dapat dibawa pulang dan disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan di Indonesia.
Untuk sampai ke tahap tersebut, Farida menghabiskan sekitar dua tahun mempersiapkan beasiswa.
Statusnya sebagai dosen Bahasa Inggris ternyata tidak membuatnya menganggap tes kemampuan bahasa sebagai sesuatu yang dapat disepelekan. Ia kembali belajar untuk menghadapi IELTS.
“Aku menyiapkan beasiswa ini selama dua tahun. Itu start dari belajar lagi. Walaupun sudah dosen, tapi aku tetap belajar IELTS juga loh,” ujarnya.
Baginya, tes seperti IELTS maupun TOEFL memiliki strategi tersendiri. Karena itu, kemampuan Bahasa Inggris saja belum cukup tanpa memahami cara menghadapi setiap bagian dalam tes.
Setelah urusan kemampuan bahasa selesai, tantangan berikutnya justru lebih panjang, mencari calon pembimbing atau supervisor.
Farida menghubungi akademisi dari berbagai universitas dan negara yang menjadi incarannya. Satu demi satu calon supervisor dihubungi dengan membawa gagasan penelitian yang ingin ia kerjakan. Tak semuanya menyambut.
“Ada penolakan-penolakan. Misalnya dia tidak tertarik dengan esai yang kita berikan atau topik research yang mau kita angkat. Maka dia enggak bersedia,” katanya.
Penolakan tersebut membuat Farida harus kembali mencari akademisi yang bidang keilmuannya sejalan dengan rencana penelitiannya.
Bahkan, ketika seorang supervisor sudah bersedia, perjuangan belum selesai.
Ia masih harus menyelesaikan administrasi universitas hingga mendapatkan Letter of Enrolment (LoE), kemudian memasuki tahapan pencarian pendanaan atau beasiswa.
Memegang LoE pun, kata Farida, tidak otomatis membuat seseorang mendapatkan beasiswa.
Ada seleksi administrasi dan wawancara yang kembali harus dilewati di tengah persaingan dengan kandidat lainnya.
“Tidak otomatis bahwa kita punya LoE terus kita bakal diterima di beasiswa, enggak juga. Mungkin administrasi kita lulus, kemudian tahapan interview kita enggak lulus,” ujarnya.
Farida pun pernah merasakan tidak lolos dalam proses yang dijalaninya. Namun, ia memilih mencoba lagi.
Baginya, setelah berhasil memperoleh LoE dari universitas tujuan, keinginan untuk melanjutkan perjuangan justru semakin besar.
“Tetap nyoba lagi sampai dapat, enggak nyerah. Apalagi kalau sudah punya LoE itu kita makin semangat,” katanya.
Keputusan Memilih Irlandia
Perjalanan Farida menuju University of Limerick juga sempat berubah arah. Awalnya ia melirik sejumlah negara, termasuk Finlandia. Bahkan, Farida mengaku sempat mendapatkan penerimaan di negara tersebut.
Namun universitas yang ditujunya ketika itu tidak memiliki kerja sama yang dibutuhkan dengan pemerintah Indonesia. Ia pun kembali mencari pilihan lain.
Dalam menentukan negara tujuan, Farida memiliki sejumlah pertimbangan. Salah satunya mencari negara di Eropa yang menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Selain Inggris, pilihannya kemudian mengarah ke Irlandia.
Sebagai perempuan berhijab, rasa aman juga menjadi salah satu pertimbangannya ketika memutuskan tinggal bertahun-tahun di negara lain.
“Kekhawatirannya pada saat ingin terbang ke luar negeri itu, gimana ya aku pakai hijab. Walaupun kata teman-teman aman, cuman kan masih ada kekhawatiran,” katanya.
Setelah menentukan negara, Farida kembali mengerucutkan pencarian pada universitas dan akademisi yang memiliki kepakaran sesuai bidangnya.
Ia mempelajari profil calon supervisor hingga publikasi-publikasi ilmiah mereka. Pencarian tersebut akhirnya membawanya ke University of Limerick.
Di sana ia menemukan akademisi yang bidang penelitiannya sesuai dengan disiplin ilmu yang ingin dikembangkannya.
“Aku pelajari bagaimana publish-publish dia, artikel-artikel yang sudah ada. Oh iya, ini oke. Hubungi dan dia setuju. Akhirnya ditetapkan hati, aku boleh di Limerick,” ujarnya.
Mengenal Pendidikan yang Lebih Inklusif
Di University of Limerick, Farida mengambil PhD TESOL atau Teaching English to Speakers of Other Languages. Program yang dijalaninya merupakan structured PhD.
Berbeda dengan program doktor berbasis penelitian yang sebagian besar berfokus pada riset, structured PhD membuat Farida tetap harus mengambil sejumlah kredit perkuliahan sembari menjalankan penelitian.
Kini, ia telah menyelesaikan sekitar dua tahun masa pendidikan dan masih memiliki sekitar dua tahun lagi untuk menuntaskan studinya.
Pengalaman tersebut bukan hanya memperdalam bidang keilmuannya. Farida juga menemukan banyak perbedaan dalam kultur pendidikan.
Salah satu yang paling terasa adalah pemanfaatan teknologi.
Administrasi hingga komunikasi akademik banyak dilakukan melalui sistem digital. Komunikasi antara mahasiswa dan dosen, misalnya, lebih banyak menggunakan surat elektronik ketimbang pesan instan maupun telepon. Bahkan mahasiswa belum tentu memiliki nomor telepon dosennya.
“Di sini semuanya berbasis online. Misalnya administrasi dan segala macam itu, kita jarang sekali bertemu langsung dengan orang-orang yang terkait. Semuanya dalam satu sistem, kita ke website, satu pintu istilahnya,” ujarnya.
Email juga menjadi bagian penting dari kehidupan akademik sehari-hari.
“Email itu kita harus benar-benar cek tiap hari. Semua komunikasi via email. Tidak ada misalnya kita komunikasi telepon, itu jarang sekali. Telepon dosen enggak ada. Atau kita chat dosen. Bahkan kita sendiri jarang sekali mengetahui nomor dosennya,” katanya.
Menurut Farida, pola komunikasi tersebut memiliki kelebihan karena lebih profesional, terdokumentasi dan dapat ditinjau kembali.
Hal tersebut menjadi salah satu praktik yang mungkin ia adaptasi ketika kembali mengajar di Indonesia, tentunya dengan menyesuaikan budaya dan kondisi mahasiswa.
Namun, hal lain yang membuatnya tertarik justru konsep pendidikan inklusif. Inclusive pedagogy menjadi salah satu fokus Farida saat ini.
Ia menemukan bahwa inklusivitas dalam pendidikan di tempatnya belajar tidak hanya dipahami dalam konteks mahasiswa penyandang disabilitas.
Konsep tersebut diterapkan secara lebih luas dengan melihat perbedaan kebutuhan setiap mahasiswa.
“Inklusif di sini itu enggak hanya fokus kepada disabilitas. Jadi sudah lebih holistik, lebih menyeluruh. Disabilitas itu hanya sebagian kecil dimensi saja dari inklusif itu sendiri,” jelasnya.
Salah satu penerapannya terlihat dari cara mahasiswa mengerjakan tugas.
Dosen dapat menyediakan beberapa pilihan kepada mahasiswa. Tidak semua mahasiswa harus berdiri di depan kelas untuk melakukan presentasi apabila tujuan pembelajaran tetap dapat dicapai melalui bentuk tugas lainnya.
Mahasiswa bisa memilih melakukan presentasi langsung, menulis, hingga merekam suara.
Pilihan tersebut diberikan karena kemampuan dan kondisi setiap orang berbeda.
Ada mahasiswa yang sangat kuat berbicara di depan publik, sementara mahasiswa lain mungkin mengalami kecemasan ketika harus berbicara di hadapan banyak orang.
“Tidak harus misalnya, ‘Oke students, harus presentation’. No. Kita kasih pilihan karena kita enggak tahu mungkin some people strong di dalam speaking, tetapi ada yang lemah di speaking, dia takut, anxious,” katanya.
“Kalau misalnya dia mau recording suaranya saja boleh. Kalau dia mau menulisnya saja, mengumpulkannya saja boleh. Jadi benar-benar ada adjustable-nya, disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Itu perbedaannya yang sangat mencolok,” lanjut Farida.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang ingin dibawanya ketika kembali ke Indonesia.
Bukan untuk menyalin seluruh sistem pendidikan yang ditemuinya di Irlandia, tetapi melihat bagian-bagian yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa di Tanah Air.
Kesibukan Farida di Irlandia tak berhenti pada aktivitas akademik. Di luar kampus, ia tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan masyarakat Indonesia.
Perayaan kemerdekaan Indonesia, kegiatan kebudayaan, pertemuan dengan perwakilan Indonesia hingga perayaan hari besar seperti Idul Fitri menjadi bagian dari kehidupannya selama berada jauh dari rumah.
Farida juga aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Irlandia dan saat ini menjabat sebagai wakil presiden.
Melalui organisasi tersebut, ia bersama pengurus lainnya menjadi bagian dari ruang yang menghubungkan pelajar Indonesia di Irlandia.
Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah menyambut mahasiswa Indonesia yang baru datang melalui program Incoming Students.
Informasi mengenai studi, kehidupan di Irlandia hingga persoalan akomodasi dibagikan kepada mahasiswa melalui kanal PPI.
“Kita meng-cover aspirasi-aspirasi pelajar di Irlandia. Misalnya yang baru-baru ini kita mengadakan Incoming Students, jadi kita menyambut mahasiswa-mahasiswa baru Indonesia yang datang ke Irlandia,” katanya.
PPI juga terlibat mendukung sejumlah kegiatan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
Bagi Farida, kehidupan sebagai mahasiswa doktoral di negeri orang pada akhirnya bukan sekadar mengejar gelar.
Perjalanan tersebut menjadi pertemuan antara mimpi masa kecil, profesinya sebagai pendidik, pengalaman menghadapi kegagalan, hingga kesempatan melihat pendidikan dari perspektif yang berbeda.
Dari kamar kecilnya dahulu di Tebing Tinggi, tempat ia pernah menuliskan rencana untuk belajar ke luar negeri, perjalanan itu kini membawanya ke sebuah kampus di Irlandia.
Farida menyimpan satu pesan sederhana bagi anak-anak muda yang sedang berjuang mengejar pendidikan dan beasiswa.
“Aku pesannya satu, be humble,” kata Farida.
(cr26/-medan.com)
Baca berita MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Medan