Program TLATEN perkuat kader dan ibu balita dalam penanganan stunting di Desa Pondok

Bengkalis Pos ·
Program TLATEN perkuat kader dan ibu balita dalam penanganan stunting di Desa Pondok

Rizka Adela Fatsena

Ketua Kegiatan Pengabdian PKM BIMA Kemdiktisaintek

NEWS.COM - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) melaksanakan Program TLATEN di Desa Pondok, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, pada Senin (31/8/2026). 

Program ini bertujuan memperkuat kemampuan kader posyandu dan ibu balita dalam mendukung tumbuh kembang anak serta mengatasi stagnasi progres stunting melalui pola asuh responsif, stimulasi fisiologis, dan pendampingan berbasis kelompok.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 100 peserta yang terdiri atas 50 kader posyandu, 22 ibu yang memiliki balita stunting, serta 28 peserta lainnya. 

Peserta lainnya meliputi Kepala Desa Pondok, bidan koordinator wilayah, tim Pengabdian kepada Masyarakat UNS, dan sejumlah tamu undangan. 

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan adanya dukungan bersama dalam memperkuat upaya penanganan stunting berbasis keluarga dan masyarakat di Desa Pondok.

Program TLATEN dilaksanakan dalam dua sesi utama. Sesi pagi difokuskan pada kegiatan Training of Trainers atau ToT bagi 50 kader yang berasal dari 12 posyandu di Desa Pondok. 

Melalui pelatihan ini, para kader dipersiapkan menjadi pendamping bagi ibu yang memiliki balita stunting di wilayah posyandu masing-masing.

Materi pertama dalam sesi ToT adalah psikoedukasi pola asuh responsif yang disampaikan oleh psikolog sekaligus anggota tim pengabdian, Alma Marikka Geraldina. 

Para kader diberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun interaksi positif antara orang tua dan anak, mengenali kebutuhan anak, memberikan respons yang tepat, serta menghindari pola pengasuhan yang menggunakan ancaman, paksaan, maupun hukuman.

Kader juga mempelajari konsep responsive feeding atau pemberian makan responsif. 

Materi tersebut mencakup cara mengenali sinyal lapar dan kenyang, menghadapi anak yang mengalami gerakan tutup mulut atau GTM, menentukan porsi dan frekuensi makan, serta menciptakan suasana makan yang nyaman. 

Pendekatan ini menekankan, anak tetap perlu didampingi dan diarahkan untuk makan tanpa mengabaikan respons serta kondisi emosionalnya.

Materi berikutnya adalah stimulasi fisiologis melalui pijat bayi yang disampaikan oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNS, Rizka Adela Fatsena. 

TLATEN Care Kit

Dalam sesi ini, kader tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teoretis, tetapi juga mengikuti demonstrasi dan mempraktikkan teknik pijat bayi menggunakan TLATEN Care Kit.

TLATEN Care Kit merupakan perangkat pendukung yang disiapkan untuk membantu kader dan ibu balita mempraktikkan stimulasi fisiologis sederhana. 

Praktik pijat bayi diharapkan dapat membantu memberikan rasa nyaman dan relaksasi kepada anak, memperkuat interaksi antara ibu dan anak, serta mendukung kesiapan anak dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk makan dan beristirahat.

Pelaksanaan stimulasi fisiologis tersebut dipandu menggunakan Pop-Up Book TLATEN. 

Media ini dirancang dengan tampilan visual yang menarik dan bahasa yang mudah dipahami sehingga dapat digunakan sebagai panduan praktik oleh kader maupun ibu balita. 

Selain memuat langkah-langkah pijat bayi, pop-up book memberikan ilustrasi yang membantu peserta memahami teknik stimulasi secara lebih konkret.

Selanjutnya, Hardiningsih, anggota tim pengabdian dari bidang kebidanan, memberikan penjelasan dan pemeragaan penggunaan Piring Porsi TLATEN. 

Media tersebut digunakan untuk membantu kader dan ibu memahami komposisi serta porsi makanan yang sesuai bagi balita.

Melalui pemeragaan tersebut, kader belajar menyusun makanan yang terdiri atas sumber karbohidrat, protein hewani, sayur, dan buah dalam porsi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. 

Kader juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya memastikan makanan tambahan untuk balita stunting dikonsumsi oleh anak yang menjadi sasaran dan tidak dibagikan kepada anggota keluarga lainnya.

Penggunaan Piring Porsi TLATEN diharapkan dapat memudahkan kader dalam menyampaikan edukasi gizi kepada ibu balita. 

Media visual tersebut juga dapat digunakan untuk membahas berbagai permasalahan yang sering ditemukan, seperti porsi makan yang tidak sesuai, kurangnya protein hewani, anak yang hanya menyukai jenis makanan tertentu, serta kebiasaan berbagi makanan dalam satu meja atau sharing table.

Mother-Support Group

Setelah mengikuti seluruh materi, para kader memperoleh penjelasan mengenai pembentukan dan pelaksanaan Mother-Support Group. 

Kelompok ini dirancang sebagai ruang pendampingan bagi ibu balita untuk saling berbagi pengalaman, menyampaikan kesulitan dalam mengasuh dan memberikan makan kepada anak, serta memperoleh dukungan dan arahan dari kader.

Sebelum mendampingi ibu balita, kader diminta memastikan, mereka telah memahami materi dan mampu mempraktikkan keterampilan yang diajarkan. 

Keterampilan tersebut meliputi komunikasi empatik, penerapan pola asuh responsif, pendampingan pemberian makan, penggunaan Piring Porsi TLATEN, dan stimulasi fisiologis melalui pijat bayi.

Memasuki sesi siang, sebanyak 22 ibu yang memiliki balita stunting dipersilakan mengikuti kegiatan. 

Para ibu kemudian dibagi ke dalam kelompok pendampingan berdasarkan wilayah posyandu masing-masing. 

Desa Pondok memiliki 12 posyandu yang menjadi dasar pembagian kelompok dalam pelaksanaan Mother-Support Group.

Melalui pembagian tersebut, setiap ibu didampingi oleh kader dari posyandu tempat ibu dan balitanya terdaftar. 

Sebagai contoh, ibu yang memiliki balita stunting di wilayah Posyandu A akan didampingi oleh kader Posyandu A. 

Pola pendampingan berbasis wilayah ini diterapkan agar kader dapat lebih mudah memantau kondisi balita dan melanjutkan komunikasi dengan keluarga setelah kegiatan pelatihan selesai.

Pada sesi kelompok, kader mulai menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dalam ToT. 

Kader memberikan edukasi kepada ibu balita, mempraktikkan komunikasi yang empatik, membantu ibu memahami pola asuh dan pemberian makan responsif, serta mendemonstrasikan penggunaan media yang telah disiapkan oleh tim pengabdian.

Para ibu juga memperoleh kesempatan untuk menyampaikan permasalahan yang mereka hadapi dalam merawat dan memberikan makan kepada anak.

Permasalahan tersebut kemudian didiskusikan bersama kader untuk menemukan langkah yang sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga. 

Dengan demikian, kegiatan tidak hanya berlangsung dalam bentuk ceramah, tetapi juga melalui diskusi, demonstrasi, praktik langsung, dan pemecahan masalah.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNS, Rizka Adela Fatsena menjelaskan, penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan. 

Pertumbuhan anak juga dipengaruhi oleh pola pengasuhan, cara orang tua memberikan makanan, kualitas interaksi antara ibu dan anak, serta stimulasi yang dilakukan secara konsisten di rumah.

"Program TLATEN tidak hanya berfokus pada makanan yang diberikan kepada anak, tetapi juga pada cara makanan tersebut diberikan. Orang tua perlu memahami sinyal lapar dan kenyang anak, menghindari pemaksaan saat makan, serta menciptakan interaksi yang positif. Karena itu, kader dipersiapkan terlebih dahulu agar mampu memberikan pendampingan yang sesuai kepada ibu balita di wilayahnya," kata Rizka.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Pondok, Lasmini menyambut baik pelaksanaan Program TLATEN. Menurutnya, peningkatan kapasitas kader sangat penting karena kader posyandu merupakan pihak yang berinteraksi secara langsung dan berkelanjutan dengan keluarga balita.

"Program TLATEN memberikan pengetahuan dan keterampilan yang sangat bermanfaat bagi kader posyandu dan ibu balita, terutama dalam menerapkan pola asuh responsif, menghadapi anak yang mengalami gerakan tutup mulut, memberikan makanan sesuai kebutuhan, serta melakukan stimulasi sederhana di rumah."

"Kami berharap para kader dapat meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada ibu-ibu di wilayah posyandu masing-masing. Kami juga berharap Mother-Support Group yang telah dibentuk dapat terus berjalan dan terintegrasi dengan kegiatan posyandu, sehingga pendampingan terhadap keluarga yang memiliki balita stunting dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan," ujar Lasmini.

Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa dari Program Studi Kebidanan dan Psikologi UNS. Para mahasiswa membantu pelaksanaan pelatihan, demonstrasi, pendampingan praktik, diskusi kelompok, dan pengamatan proses interaksi antara kader dan ibu balita.

Pembagian kelompok berdasarkan 12 wilayah posyandu diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan Program TLATEN. 

Setelah kegiatan selesai, kader dapat terus memberikan pendampingan melalui pertemuan Mother-Support Group, konsultasi saat kegiatan posyandu, pemantauan pertumbuhan balita, serta kunjungan rumah bagi keluarga yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, bidan koordinator wilayah, Tim Penggerak PKK, kader posyandu, dan keluarga balita, Program TLATEN diharapkan mampu membangun sistem pendampingan stunting yang lebih terarah dan berkelanjutan. 

Program ini sekaligus menegaskan bahwa upaya meningkatkan tumbuh kembang anak memerlukan keterpaduan antara pemenuhan gizi, pola asuh responsif, stimulasi fisiologis, serta dukungan masyarakat.  (*)