Rekam jejak Brigjen Hengki Haryadi yang resmi dilantik Kapolri jadi Kapolda Papua Barat Daya

Bengkalis Pos ·
Ringkasan Berita:
  • Brigjen Hengki Haryadi ditunjuk sebagai Kapolda Papua Barat Daya dalam rotasi jabatan Polri.
  • Hengki merupakan lulusan Akpol 1996 dengan pengalaman panjang di bidang reserse.
  • Ia pernah menduduki sejumlah jabatan strategis, termasuk Dirreskrimum Polda Metro Jaya dan Wakapolda Riau.
  • Tantangan barunya adalah memimpin keamanan dan pelayanan kepolisian di wilayah Papua Barat Daya.
 

bengkalispos.com– Brigjen Pol Hengki Haryadi mendapat amanah baru dalam rotasi jabatan di lingkungan Polri.

Perwira tinggi Polri tersebut dipercaya menjadi Kapolda Papua Barat Daya setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakapolda Riau.

Nama Hengki Haryadi bukan sosok baru dalam penegakan hukum. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1996 itu memiliki rekam jejak panjang di bidang reserse dan pernah menduduki sejumlah jabatan strategis, terutama di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

Pengalaman menangani berbagai perkara menonjol membuat karier Hengki terus berkembang.

Ia pernah menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat, Kapolres Metro Jakarta Pusat hingga Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Kini, pengalaman tersebut membawanya ke wilayah baru.

Hengki ditunjuk untuk memimpin Polda Papua Barat Daya, salah satu daerah otonom baru yang memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Hengki Haryadi Resmi Jadi Kapolda Papua Barat Daya

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo memimpin serah terima jabatan sejumlah pejabat di lingkungan Polri pada Rabu (2/9/2026).

Dalam rotasi tersebut, posisi Kapolda Papua Barat Daya yang sebelumnya dijabat Brigjen Pol Yulius Audie Sonny Latuheru selanjutnya dipercayakan kepada Brigjen Pol Hengki Haryadi.

Latuheru kemudian mendapat penugasan sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri.

Sebelum promosi menjadi Kapolda Papua Barat Daya, Hengki menjabat sebagai Wakapolda Riau.

Ia menduduki posisi tersebut setelah sebelumnya bertugas sebagai Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat II Bareskrim Polri.

Penunjukan ini menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan karier Hengki.

Sebab, jabatan Kapolda menempatkannya sebagai pimpinan tertinggi kepolisian di tingkat daerah dengan tanggung jawab yang lebih luas.

Lulusan Akpol 1996 dengan Pengalaman Panjang di Reserse

Hengki Haryadi lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 16 Oktober 1974. Ia merupakan lulusan SMA Taruna Nusantara dan kemudian melanjutkan pendidikan di Akademi Kepolisian hingga lulus pada 1996.

Karier kepolisiannya dimulai dari lapangan. Ia pernah bertugas di wilayah Dili sebelum melanjutkan penugasan di sejumlah daerah, termasuk Lampung dan Jakarta.

Pengalaman di bidang lalu lintas dan reserse menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya.

Sejumlah jabatan yang pernah diembannya antara lain Kasat Reskrim Polres Tulangbawang, Kasat Reskrim Poltabes Bandar Lampung, Kapolsek Metro Gambir, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, serta Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat.

Ia kemudian dipercaya menduduki jabatan Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Kapolres Metro Jakarta Barat, Kapolres Metro Jakarta Pusat hingga Dirreskrimum Polda Metro Jaya.

Rangkaian jabatan tersebut memperlihatkan konsistensi Hengki di bidang penegakan hukum dan penyidikan.

Rekam Jejak Penanganan Kasus Menonjol

Nama Hengki Haryadi beberapa kali muncul dalam penanganan perkara yang menjadi perhatian publik.

Ketika bertugas di lingkungan Polda Metro Jaya, Hengki dikenal dengan pendekatan tegas terhadap aksi premanisme. Ia pernah terlibat dalam penanganan kelompok yang dikaitkan dengan premanisme di Jakarta, termasuk perkara yang melibatkan nama Hercules dan John Kei.

Selain persoalan premanisme, Hengki juga pernah terlibat dalam penanganan sejumlah perkara lain.

Di antaranya adalah pengungkapan kasus narkotika yang melibatkan pasangan selebritas Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie pada 2021. Ia juga pernah menangani perkara mafia tanah yang menyeret sejumlah pejabat Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Hengki juga tercatat terlibat dalam penangkapan Abdul Qadir Hasan Baraja, pemimpin Khilafatul Muslimin, di Lampung pada 2022.

Deretan perkara tersebut menjadi bagian dari rekam jejak yang membentuk citra Hengki sebagai perwira dengan pengalaman panjang dalam penegakan hukum.

Dari Kapolres hingga Wakapolda Riau

Perjalanan karier Hengki tidak berhenti di jajaran kewilayahan.

Setelah menjalani berbagai tugas di Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri, Hengki dipercaya menjadi Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat II Bareskrim Polri pada 2023. Pada akhir 2025, ia kemudian mendapat promosi sebagai Wakapolda Riau.

Jabatan Wakapolda Riau hanya dijalaninya sekitar delapan bulan sebelum ia mendapat amanah sebagai Kapolda Papua Barat Daya.

Perpindahan dari jabatan Wakapolda menjadi Kapolda menunjukkan adanya peningkatan tanggung jawab dalam struktur organisasi Polri.

Tantangan Baru Hengki Haryadi di Papua Barat Daya

Menjadi Kapolda Papua Barat Daya memberikan tantangan yang berbeda dibandingkan penugasan Hengki sebelumnya di wilayah perkotaan seperti Jakarta.

Jika pengalaman sebelumnya banyak berkaitan dengan penanganan kejahatan perkotaan, reserse, narkotika, dan premanisme, tugas di Papua Barat Daya menuntut kemampuan kepemimpinan wilayah yang lebih luas.

Sebagai Kapolda, Hengki tidak hanya berhadapan dengan persoalan penegakan hukum. Ia juga memiliki tanggung jawab menjaga keamanan, membangun koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan, serta memastikan pelayanan kepolisian berjalan di wilayah hukum Polda Papua Barat Daya.

Dalam konteks tersebut, pengalaman panjangnya di lapangan menjadi modal untuk menjalankan tugas baru.

Kapolri: Rotasi untuk Penyegaran Organisasi

Pergantian jabatan tersebut merupakan bagian dari rotasi dan pembinaan karier di tubuh Polri.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir mengatakan, sertijab merupakan bagian dari dinamika organisasi sekaligus upaya menjaga kesinambungan pelaksanaan tugas kepolisian.

“Pergantian ini merupakan proses pembinaan karier sekaligus penyegaran organisasi untuk memastikan roda organisasi terus berjalan secara optimal dalam memberikan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat,” kata Isir dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026), dikutip bengkalispos.comdari Kompas.com.

Ia menambahkan, setiap pejabat yang menerima amanah baru diharapkan dapat segera beradaptasi dengan tugas dan tanggung jawabnya serta melanjutkan program yang telah berjalan.

“Setiap jabatan merupakan amanah dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan penuh integritas, profesionalitas, dan komitmen. Polri berharap para pejabat yang baru dapat segera menjalankan tugas serta memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi dan masyarakat,” ujarnya.

Penunjukan Hengki Haryadi sebagai Kapolda Papua Barat Daya menarik dilihat dari latar belakang penugasannya.

Sebagian besar perjalanan kariernya bersinggungan dengan fungsi penegakan hukum dan reserse. Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika ia harus memimpin organisasi kepolisian di wilayah yang memiliki karakteristik keamanan berbeda dengan Jakarta maupun Riau.

Namun, ukuran keberhasilan Hengki di jabatan baru tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya mengungkap perkara. Sebagai Kapolda, tantangannya lebih luas, yakni bagaimana pengalaman penegakan hukum tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan keamanan yang efektif sekaligus pelayanan publik yang profesional.

Dengan rekam jejak panjang di bidang reserse, fase baru Hengki Haryadi di Papua Barat Daya menjadi babak penting dalam perjalanan kariernya. Publik kini akan melihat bagaimana karakter tegas yang selama ini melekat pada dirinya diterapkan dalam memimpin Polda Papua Barat Daya.

Jadikan bengkalispos.compreferensi beritamu dengan mengklik tautan ini