Sosok KSAD Maruli Simanjuntak yang minta maaf jembatan gantung buatan TNI AD ambruk usai diresmikan

Bengkalis Pos ·
Ringkasan Berita:
  • Jenderal TNI Maruli Simanjuntak merupakan lulusan Akmil 1992 dengan pengalaman di Kopassus, Paspampres, Kodam, hingga Kostrad.
  • Maruli meminta maaf atas ambruknya Jembatan Gantung Garuda di Pangandaran saat peresmian pada 30 Agustus 2026.
  • Pemeriksaan menemukan sejumlah kendala teknis pada konstruksi dan sistem pendukung jembatan.
  • Sekitar 50 orang berada di atas jembatan, sementara TNI AD menegaskan pentingnya penggunaan sesuai kapasitas dan standar keselamatan.
 

bengkalispos.com– Nama Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menjadi sorotan setelah Jembatan Gantung Garuda di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, ambruk saat proses peresmian pada Minggu (30/8/2026).

Lima hari setelah kejadian, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) itu menyampaikan permohonan maaf sekaligus menyatakan bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Pernyataan Maruli menjadi perhatian karena jembatan tersebut dibangun oleh jajaran TNI Angkatan Darat, yakni Kodim 0625/Pangandaran bersama Batalyon Teritorial Pembangunan Pangandaran.

Maruli juga memiliki posisi langsung dalam proyek tersebut karena ditunjuk Presiden sebagai Kepala Satuan Tugas (Satgas) jembatan.

“Saya selaku Kepala Satgas jembatan yang ditunjuk oleh Presiden, saya pribadi bersama anggota memohon maaf atas kejadian tersebut. Kami bertanggung jawab atas kejadian tersebut,” ujar Maruli Simanjuntak dalam siaran pers, Jumat (4/9/2026), dikutip bengkalispos.comdari Kompas.com.

Sikap tersebut membawa perhatian publik bukan hanya pada penyebab ambruknya Jembatan Garuda, tetapi juga pada sosok Maruli Simanjuntak, perjalanan karier militernya, hingga gaya kepemimpinannya sebagai orang nomor satu di TNI AD.

Maruli Simanjuntak, Lulusan Akmil 1992 yang Berkarier dari Kopassus

Maruli Simanjuntak merupakan perwira tinggi TNI AD dari kecabangan infanteri dan lulusan Akademi Militer (Akmil) 1992. Kariernya banyak beririsan dengan satuan elite Kopassus dan Detasemen Tempur Cakra sebelum kemudian dipercaya mengisi berbagai jabatan strategis di TNI AD.

Dalam perjalanan kariernya, Maruli pernah dipercaya menjadi Komandan Detasemen Tempur Cakra, Komandan Batalyon 21 Grup 2/Sandhi Yudha, serta menduduki sejumlah posisi komando di lingkungan Kopassus. Ia juga pernah menjadi Komandan Grup A Paspampres yang bertugas dalam pengamanan Presiden dan keluarga.

Pengalaman tersebut kemudian membawanya ke sejumlah jabatan teritorial dan strategis, termasuk Komandan Korem 074/Warastratama serta Panglima Kodam IX/Udayana. Setelah itu, Maruli dipercaya menduduki posisi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Rangkaian jabatan tersebut memperlihatkan pola karier Maruli yang berkembang dari pengalaman satuan tempur dan komando lapangan menuju posisi strategis di tingkat pimpinan TNI AD.

Naik Menjadi KSAD pada 2023

Karier Maruli mencapai salah satu titik penting ketika Presiden Joko Widodo melantiknya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat pada 29 November 2023. Pelantikan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 103/TNI/Tahun 2023.

Sejak menjabat KSAD, Maruli tidak hanya berbicara mengenai operasi militer dan kesiapan prajurit. Dalam sejumlah kesempatan, ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan, adaptasi, pendidikan, serta kemampuan berpikir kritis bagi personel TNI AD.

Pada Februari 2026, misalnya, Maruli menekankan pentingnya critical thinking, karakter pemimpin yang visioner, serta kemampuan adaptif dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Pesan tersebut menjadi relevan ketika dikaitkan dengan persoalan Jembatan Garuda. Insiden di Pangandaran menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur untuk masyarakat tidak hanya membutuhkan niat dan kecepatan pengerjaan, tetapi juga pengendalian mutu, verifikasi teknis, serta disiplin terhadap batas penggunaan.

Berikut Riwayat Jabatan:

- Komandan Denpur Cakra (2002)

- Pabandya Ops Mako Kopassus (2005-2008)

- Danyon 21 Grup 2 Kopassus (2008-2009)

- Dan Sekolah Komando Pusdik Passus (2009-2010)

- Wadan Grup 1 Kopassus (2010-2013)

- Dan Grup 2 Kopassus (2013-2014)

- Asops Danjen Kopassus (2014)

- Dan Grup A Paspampres (2014-2016)

- Danrem 074/Warastratama (2016-2017)

- Wadanpaspampres (2017-2018)

- Kasdam IV/Diponegoro (2018-2018)

- Komandan Paspampres (2018-2020)

- Pangdam IX/Udayana (2020).

- Pangkostrad (2022).

- KSAD (2023-sekarang).

Maruli Bertanggung Jawab atas Jembatan Garuda

Hasil pemeriksaan TNI AD menemukan sejumlah persoalan teknis pada Jembatan Garuda. Di antaranya adalah patahnya pengait block anchor, persoalan konfigurasi dan posisi block anchor terhadap pylon, sistem roller dan turnbuckle, konfigurasi sling bawah, serta adanya perbedaan elevasi pada pylon.

Selain faktor teknis, jembatan tersebut menerima beban sekitar 50 orang ketika digunakan dalam rangkaian peresmian. TNI AD menyebut kelebihan kapasitas sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kinerja struktur jembatan.

Kadispenad Brigjen TNI Donny Pramono menjelaskan Jembatan Garuda merupakan jembatan perintis yang memiliki kapasitas tertentu. Karena itu, jumlah orang yang berada di atas jembatan menjadi bagian penting dalam aspek keselamatan penggunaannya.

“Jembatan perintis memiliki batas kemampuan atau kapasitas tertentu. Karena itu, aspek pembebanan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam penggunaannya. Pada jembatan tersebut juga telah dicantumkan ketentuan mengenai batas jumlah orang yang dapat berada di atas jembatan,” tutur Donny.

TNI AD juga menyatakan telah melakukan peningkatan sistem sling pada jembatan-jembatan perintis yang dibangun, dengan peningkatan kekuatan sekitar 20 hingga 30 persen. Namun, penguatan tersebut tidak berarti jembatan dapat digunakan melebihi kapasitas yang ditentukan.

Bukan Sekadar Persoalan Jembatan, Ada Ujian Kepemimpinan

Pernyataan Maruli menarik karena ia tidak berhenti pada penjelasan teknis. Sebagai pimpinan tertinggi TNI AD, ia mengambil posisi dengan menyampaikan permohonan maaf dan mengakui tanggung jawab atas proyek yang berada dalam lingkup jajarannya.

Sikap itu sejalan dengan pesan kepemimpinan yang pernah disampaikan Maruli pada 2025. Ketika itu, ia menekankan bahwa memimpin berarti melayani dan memikul tanggung jawab, bukan sekadar menduduki jabatan.

Dalam kasus Pangandaran, konsep tersebut diuji dalam situasi nyata. Persoalannya bukan hanya siapa yang berada di atas jembatan ketika struktur mengalami gangguan, melainkan bagaimana proses perencanaan, pembangunan, pemeriksaan, pengoperasian, dan pengawasan keselamatan dilakukan sejak awal.

Maruli sendiri melalui pernyataannya menempatkan kejadian tersebut sebagai persoalan yang harus dipertanggungjawabkan bersama, bukan semata-mata mencari pihak yang harus disalahkan.

“Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi kami untuk memastikan seluruh aspek teknis dan ketentuan penggunaan benar-benar dipahami dan dipatuhi,” kata dia.

Mengapa Sosok Maruli Kembali Disorot?

Insiden Jembatan Garuda membuat profil Maruli kembali mendapat perhatian karena terjadi di tengah perannya sebagai KSAD sekaligus Kepala Satgas pembangunan jembatan yang ditunjuk Presiden.

Riwayat karier Maruli menunjukkan bahwa ia memiliki pengalaman panjang dari satuan elite, jabatan pengamanan presiden, komando kewilayahan, hingga memimpin Kostrad sebelum menjadi KSAD.

Karena itu, kasus Pangandaran dapat menjadi salah satu ujian penting bagi kepemimpinannya. Publik tidak hanya akan menilai bagaimana TNI AD menjelaskan penyebab kerusakan, tetapi juga bagaimana institusi tersebut memperbaiki standar pembangunan dan memastikan kejadian serupa tidak terulang.

Kasus Jembatan Gantung Garuda memperlihatkan bahwa reputasi seorang pejabat tinggi tidak hanya dibentuk oleh panjangnya daftar jabatan, tetapi juga oleh respons ketika sebuah program yang berada dalam tanggung jawab institusinya menghadapi masalah.

Bagi Maruli Simanjuntak, permintaan maaf dan pernyataan bertanggung jawab merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah membuktikannya dalam bentuk evaluasi teknis, perbaikan konstruksi, pengawasan yang lebih ketat, serta standar keselamatan yang benar-benar diterapkan.

Dengan demikian, sorotan terhadap Maruli bukan sekadar soal profil seorang jenderal, tetapi juga tentang bagaimana seorang pimpinan menerjemahkan tanggung jawab menjadi tindakan ketika proyek yang ditujukan untuk masyarakat menghadapi kegagalan.

Jadikan bengkalispos.compreferensi beritamu dengan mengklik tautan ini