Tampil berblangkon dan bersarung batik, Gus Nabil bawa kekuatan tiga juta kader untuk PB IPSI

Bengkalis Pos ·

bengkalispos.com, JAKARTA - Muchamad Nabil Haroen tampil mencuri perhatian saat mengikuti pelantikan dan pengukuhan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) Masa Bakti 2026–2030.

Tokoh yang akrab disapa Gus Nabil itu hadir dengan gaya khasnya, mengenakan blangkon dan sarung batik.

Penampilan tersebut memperlihatkan kedekatan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa itu dengan tradisi dan kebudayaan Nusantara yang menjadi akar pencak silat Indonesia.

Dalam kepengurusan baru PB IPSI, Gus Nabil dipercaya mengemban amanah sebagai wakil ketua umum.

Dia memastikan akan bekerja dalam satu visi di bawah kepemimpinan Ketua Umum PB IPSI Sugiono serta mendukung seluruh agenda organisasi.

Gus Nabil juga menyatakan siap mengerahkan potensi sekitar tiga juta kader Pagar Nusa di seluruh Indonesia untuk menyukseskan program PB IPSI.

“Pagar Nusa dengan sekitar tiga juta kader yang tersebar di seluruh Indonesia siap mengambil bagian dan bergotong royong menyukseskan agenda PB IPSI,” kata Gus Nabil seusai pelantikan di Padepokan Pencak Silat Indonesia, TMII, Jakarta Timur, Sabtu (5/9/2026).

Bukan Agenda Satu Perguruan

Gus Nabil memastikan dukungan Pagar Nusa tidak diarahkan untuk memperjuangkan kepentingan satu perguruan.

Menurut dia, jutaan kader Pagar Nusa merupakan potensi organisasi yang dapat didayagunakan untuk membantu pembinaan atlet, meningkatkan kualitas pelatih, memperkuat pendidikan karakter, dan memperluas gerakan pencak silat di tengah masyarakat.

"Ini bukan agenda satu perguruan, melainkan ikhtiar bersama seluruh keluarga besar pencak silat untuk membawa Indonesia semakin berprestasi dan disegani dunia,” tegas Gus Nabil.

Dia menilai keberagaman perguruan merupakan kekayaan besar pencak silat Indonesia.

Setiap perguruan memiliki sejarah, warna, dan tradisi masing-masing. Namun, seluruh perbedaan itu harus dipersatukan ketika membawa nama Indonesia.

"Kita boleh berasal dari perguruan yang berbeda, memakai warna yang berbeda, dan tumbuh dari tradisi yang berbeda. Tetapi ketika Merah Putih dikibarkan, kita adalah satu: pencak silat Indonesia,” tuturnya.

Satu Barisan Bersama Ketua Umum

Gus Nabil menegaskan seluruh pengurus PB IPSI periode 2026–2030 harus berada dalam satu barisan untuk menerjemahkan visi Ketua Umum PB IPSI Sugiono.

Setiap pengurus, lanjutnya, harus memberikan kontribusi sesuai tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan.

“Seluruh pengurus berada dalam satu barisan untuk menerjemahkan dan menyukseskan visi Ketua Umum PB IPSI,” katanya.

“Amanah yang diberikan kepada masing-masing pengurus harus menjadi kekuatan kolektif untuk membawa pencak silat Indonesia semakin maju,” sambung Gus Nabil.

Menurutnya, periode 2026–2030 harus menjadi masa konsolidasi sekaligus akselerasi bagi pencak silat Indonesia.

Konsolidasi diperlukan untuk menyatukan seluruh keluarga besar pencak silat. Sementara akselerasi dibutuhkan untuk mempercepat pembinaan prestasi dan memperkuat daya saing internasional.

Profesionalisme dan Industri Pencak Silat

Dalam menyukseskan agenda PB IPSI, Gus Nabil siap mendukung penguatan standardisasi dan sertifikasi profesi, pembangunan sistem pemeringkatan atlet, serta pengembangan industri pencak silat.

Pembinaan atlet, kata dia, harus semakin berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kompetisi juga perlu diselenggarakan secara lebih berkualitas dan berkelanjutan. Sementara kompetensi pelatih dan wasit-juri harus terus ditingkatkan.

“Kita tidak boleh puas dengan apa yang telah dicapai. Pembinaan atlet harus semakin berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetisi harus semakin berkualitas,” ujar Gus Nabil.

“Profesionalisme pelatih dan wasit-juri harus diperkuat. Industri pencak silat harus mulai dibangun dengan serius,” lanjutnya.

Menurut Gus Nabil, sistem pemeringkatan dibutuhkan agar pembinaan, seleksi, dan evaluasi atlet dapat dilakukan secara lebih objektif dan terukur.

Adapun pengembangan industri pencak silat diharapkan membuka ruang kompetisi serta peluang ekonomi yang lebih baik bagi atlet, pelatih, perguruan, dan pelaku usaha terkait.

Mengejar Prestasi, Menjaga Akhlak

Gus Nabil mengingatkan modernisasi dan ambisi meningkatkan prestasi tidak boleh membuat pencak silat kehilangan jati dirinya.

Pencak silat, menurut dia, bukan hanya teknik bela diri. Warisan leluhur tersebut juga merupakan jalan untuk membentuk manusia yang berani, disiplin, rendah hati, dan berakhlak.

“Di dalam pencak silat ada keberanian tanpa kesombongan, kekuatan yang dikendalikan oleh akhlak, serta persaudaraan yang melampaui perbedaan perguruan dan daerah,” ujarnya.

Oleh karena itu, tanggung jawab PB IPSI tidak berhenti pada penyelenggaraan pertandingan dan pencapaian medali.

Pencak silat harus menjadi instrumen pembentukan karakter generasi muda, kekuatan kebudayaan nasional, dan sarana diplomasi Indonesia di dunia.

Menuju Panggung Olimpiade

Ketua Umum PB IPSI Sugiono menegaskan target besar kepengurusan periode 2026–2030 adalah membawa pencak silat menuju Olimpiade.

“Pencak silat bukan sekadar warisan budaya, melainkan identitas dan instrumen diplomasi bangsa,” kata Sugiono.

Gus Nabil menyatakan siap bekerja bersama seluruh jajaran pengurus untuk menyukseskan target tersebut.

“Ini bukan pekerjaan satu ketua umum, satu kepengurusan, atau satu periode. Ini adalah kerja panjang seluruh insan pencak silat Indonesia,” ucapnya.

Dia juga menyebut jabatan sebagai Wakil Ketua Umum PB IPSI hanyalah sarana untuk bekerja dan memberikan manfaat.

“Yang jauh lebih penting adalah apa yang dapat kita wariskan setelah masa pengabdian ini selesai,” pungkas Gus Nabil.

Pelantikan dan pengukuhan Pengurus Besar IPSI Masa Bakti 2026–2030 dilakukan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.

Acara tersebut dihadiri Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, perwakilan Komite Olimpiade Indonesia, pimpinan perguruan historis IPSI, serta jajaran pengurus provinsi IPSI dari 38 provinsi.(fri/jpnn)