Tiga pesan Prabowo yang disampaikan di KTT BRICS India
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5275209/original/075899500_1751868984-IMG-20250707-WA0028.jpg)
Ringkasan Berita:
- Presiden Prabowo Subianto membawa tiga pesan utama dalam KTT BRICS 2026 di New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026).
- Pertama, pentingnya kemandirian dan ketahanan nasional melalui penguatan pangan, energi, dan pendidikan agar Indonesia tidak mudah didikte.
- Kedua, persatuan negara-negara Global South untuk memperjuangkan kepentingan bersama.
- Ketiga, penguatan kerja sama BRICS agar kekuatan ekonomi dan populasi anggotanya diwujudkan dalam kolaborasi nyata.
NEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di New Delhi, Republik India, pada Sabtu (12/9/2026).
Dalam forum tersebut, Kepala Negara menyampaikan tiga pesan utama diantaranya kemandirian dan ketahanan nasional, persatuan negara-negara Global South serta penguatan kerja sama BRICS dan tata kelola global yang lebih adil.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengatakan pesan tersebut ditekankan Presiden Prabowo saat menghadiri sesi terbatas bertajuk “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism”.
Indonesia hadir dengan visi untuk memperkuat tata kelola global yang inklusif sekaligus menyatukan suara negara-negara berkembang dalam memperjuangkan kepentingan dan masa depannya.
Pesan pertama Presiden Prabowo menitikberatkan pada pentingnya kemandirian dan ketahanan nasional.
Bagi Presiden, kemampuan suatu negara untuk berdiri kuat di tengah dinamika global harus dimulai dari kemampuannya memenuhi kebutuhan mendasar masyarakatnya.
“Kekuatan sebuah negara bermula dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya—pangan, energi, dan pendidikan. Dengan fondasi yang kuat, Indonesia tidak akan bergantung atau mudah didikte oleh kekuatan tertentu,” ujar Seskab, Senin (14/9/2026).
Fondasi tersebut menjadi penting bagi Indonesia untuk menentukan arah pembangunan dan kepentingan nasionalnya secara mandiri.
Ketahanan pangan, energi, dan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi modal bagi Indonesia untuk berdiri sejajar dan memainkan peran yang semakin aktif di tingkat global.
Pesan kedua yang dibawa Presiden Prabowo adalah pentingnya memperkuat persatuan negara-negara Global South.
Kepala Negara mengangkat pepatah Indonesia sebagai pengingat bahwa kebersamaan merupakan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan dunia.
“Mengutip pepatah ‘Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh’, Presiden mengingatkan kembali pentingnya spirit Konferensi Asia-Afrika. Negara-negara Global South kini berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri,” katanya.
Semangat Konferensi Asia-Afrika tersebut kembali mendapatkan relevansinya ketika negara-negara berkembang kini memiliki posisi yang semakin penting dalam perekonomian maupun geopolitik dunia.
Persatuan menjadi modal untuk memastikan aspirasi dan kepentingan Global South mendapatkan tempat yang setara dalam menentukan arah tatanan global.
Pesan ketiga Presiden Prabowo menyoroti besarnya kekuatan BRICS yang mewakili separuh populasi dunia.
Menurut Presiden, potensi tersebut harus diterjemahkan menjadi kolaborasi konkret yang mampu memberikan manfaat langsung, khususnya dalam membuka kesempatan pembangunan yang semakin luas bagi negara-negara berkembang.
“BRICS mewakili separuh populasi dunia. Kekuatan ini harus diubah menjadi kerja sama yang nyata: memperkuat ketahanan pangan dan energi, menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan serta membuka peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang,” tutur Seskab.
Sejalan dengan itu, Presiden Prabowo turut mendorong terciptanya tata kelola global yang lebih adil dan inklusif.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus tetap berada di pusat sistem multilateral dunia, tetapi pada saat yang sama perlu terus diperkuat agar mampu menjawab perubahan dan tantangan global.
“PBB harus tetap menjadi pusat sistem multilateral, namun perlu diperkuat agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghadirkan hasil konkret bagi masyarakat dunia,” katanya.
"Melalui keanggotaan di BRICS, Indonesia terus bergerak aktif mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil, setara, dan damai bagi seluruh bangsa," pungkasnya.
Mengapa KTT BRICS 2026 Penting?
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 diselenggarakan di New Delhi, India, pada tanggal 12–13 September 2026.
BRICS saat ini bukan lagi kelompok lima negara seperti ketika pertama kali dibentuk.
Setelah mengalami perluasan, BRICS memiliki 11 anggota penuh, yakni Brasil, China, Mesir, Ethiopia, India, Indonesia, Iran, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan dan Uni Emirat Arab.
Indonesia sendiri bergabung sebagai anggota penuh BRICS pada 2025.
Selain anggota penuh, terdapat 10 negara mitra, yaitu Belarus, Bolivia, Kuba, Kazakhstan, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan dan Vietnam.
Perluasan tersebut membuat BRICS memiliki cakupan ekonomi dan geopolitik yang lebih besar.
Selain Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden RI Prabowo Subianto, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva , dan beberapa kepala negara lainnya akan hadir.