Viral terpopuler: pensiunan guru minta tolong Kapolri hingga 8 WNI gabung tentara Rusia

JATIM.COM - Berita terpopuler di Jatim.com yang terangkum dalam viral terpopuler, Kamis (3/9/2026).
Diawali dengan Nazarudin, seorang pensiunan guru di Jambi, meminta bantuan Kapolri terkait penarikan paksa sepeda motor oleh penagih utang.
Di sisi lain, sejumlah lembaga survei seperti SMRC dan Tempo Data Science melaporkan penurunan signifikan pada tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah.
Terakhir Dinas Intelijen Asing Ukraina (SZRU) melaporkan delapan WNI diduga bergabung dengan militer Rusia sebagai tentara bayaran.
Berikut selengkapnya:
Motor Ditarik Debt Collector, Nazarudin Pensiunan Guru Minta Tolong Kapolri karena Laporan Mandek
Nazarudin (65), seorang pensiunan guru di Kota Jambi, meminta perhatian Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo atas kasus penarikan sepeda motor yang dialaminya.
Ia mengaku kendaraan miliknya ditarik secara paksa oleh sejumlah debt collector di tengah jalan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (5/8/2026) ketika anak laki-laki Nazarudin sedang mengendarai sepeda motor di kawasan Simpang Rimbo, Kota Jambi.
Nazarudin mengatakan, saat itu anaknya bersama istri dan cucunya yang masih berusia 3 tahun. Mereka tiba-tiba dihampiri sekitar lima orang debt collector yang kemudian menghentikan sepeda motor tersebut.
"Waktu itu anak saya sama istri dan cucu saya berusia 3 tahun. Mereka dibujuk rayu, diajak ke kantor leasing, tetapi setelah sampai motor langsung ditahan," katanya.
Merasa keberatan dengan kejadian tersebut, Nazarudin kemudian mendatangi Polresta Jambi untuk membuat laporan. Pengaduan itu disampaikan pada Senin (10/8/2026).
Namun, hingga Senin (31/8/2026), atau sekitar 21 hari setelah pengaduan dibuat, ia menyebut belum ada perkembangan berarti.
Perkara tersebut juga disebut masih berada pada tahap laporan pengaduan dan belum ditingkatkan menjadi laporan polisi.
"Masih laporan pengaduan, belum laporan polisi," kata Nazarudin, Senin (31/8/2026).
Nazarudin berharap kepolisian segera menindaklanjuti pengaduannya. Ia juga secara khusus meminta perhatian Kapolri agar persoalan yang dialami masyarakat terkait tindakan debt collector tidak diabaikan.
"Pak Kapolri, tolong bantu kami, laporan kami ke Polresta Jambi soal sepeda motor kami yang ditarik debt collector," katanya.
Dia menyebut, sampai saat ini, tidak ada perkembangan atas laporannya itu.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Mahfud MD Sebut Prabowo Banyak Berubah, 4 Survei Justru Ungkap Kepuasan Publik Menurun
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD melihat adanya perubahan dalam gaya Presiden Prabowo Subianto menjalankan pemerintahan.
Menurut Mahfud, sejumlah hal yang sebelumnya menjadi sorotan publik mulai mendapat respons dari Prabowo.
Mulai dari frekuensi kunjungan ke luar negeri, gaya penyampaian pidato, hingga pembenahan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pandangan tersebut disampaikan Mahfud ketika membicarakan sejumlah kritik yang sebelumnya ditujukan kepada Presiden Prabowo.
"Pak Prabowo nampak berubah. Misalnya satu, sudah lama kan dia tidak pergi ke luar negeri. Padahal dulu hampir setiap minggu kan, sekarang nggak pernah, ketika muncul kritik yang dimotori oleh Dino Patti Djalal itu, kemudian sekarang Pak Prabowo nggak ke luar negeri lagi," ucapnya, dikutip dari YouTube Mahfud MD Official, Selasa (1/9/2026).
"Saya nggak tahu sesudah bulan puasa sampai sekarang itu kayaknya nggak pernah lagi, kan kritiknya tuh saat-saat bulan puasa," tambah Mahfud.
Sebelumnya, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal memang pernah menyoroti intensitas perjalanan Prabowo ke luar negeri.
Dino menilai frekuensi tersebut terlalu tinggi bagi seorang kepala negara dan berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam catatannya, rata-rata satu dari enam hari disebut dihabiskan Presiden di luar negeri.
Selain aktivitas luar negeri, Mahfud juga melihat perubahan dalam cara Prabowo menyampaikan pidato.
Jika sebelumnya Prabowo dinilai kerap melakukan improvisasi ketika berbicara di depan publik, kini Mahfud melihat Presiden lebih banyak menggunakan teks dan mengurangi improvisasi.
"Mulai baca, dulu kan 'kamu saya kalau baca tidur gitu, jangankan kamu yang dengar, aku pun tidur di podium', Lalu dia berimprovisasi bikin ribut, sekarang baca."
"Improvisasinya ada tapi sedikit-sedikit, tidak terlalu banyak improvisasi karena itu menjadi ketawaan orang akhirnya, bukan menambah kewibawaan, bukan menambah keakraban, menjadi ketawaan orang di dalam berbagai meme, di berbagai parodi itu," papar Mahfud.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Daftar 8 WNI Diduga Gabung Tentara Rusia, Modus Rekrutan Diiming-imingi Gaji Besar
Dinas Intelijen Asing Ukraina atau SZRU mengungkap adanya delapan warga negara Indonesia yang diduga bergabung dengan militer Rusia dan dikirim untuk bertempur dalam perang melawan Ukraina.
Dalam laporan yang dirilis pada 27 Agustus 2026, SZRU menyebut perekrutan warga asing menjadi salah satu cara Rusia memenuhi kebutuhan personel di tengah kekurangan pasukan di garis depan.
Para WNI tersebut diduga tertarik bergabung karena ditawari sejumlah keuntungan, mulai dari gaji yang tinggi hingga peluang memperoleh kewarganegaraan Rusia.
Mereka juga disebut mendapat janji bahwa tugas yang diberikan berada di posisi non-tempur.
Namun, menurut SZRU, kondisi yang dihadapi para rekrutan asing di lapangan berbeda dari janji awal.
Mereka disebut berpotensi dikirim ke wilayah pertempuran dengan pelatihan militer yang minim.
Intelijen Ukraina bahkan menggambarkan sebagian tentara asing tersebut sebagai "pakan meriam", karena ditempatkan di garis depan dan menghadapi risiko tewas dalam waktu singkat.
SZRU menyebut Indonesia kini masuk dalam daftar negara yang menjadi sasaran perekrutan Rusia. Indonesia dinilai menarik karena memiliki jumlah penduduk yang besar, dengan mayoritas penduduknya beragama Islam.
"Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa, telah masuk dalam negara-negara yang dipilih Rusia menjadi sumber tentara yang murah untuk perang," tulis rilis resmi SZRU.
Pola serupa, menurut laporan tersebut, juga ditemukan dalam perekrutan warga dari sejumlah negara lain, seperti Nepal, Kuba, Kenya, dan India.
SZRU menyatakan sebagian rekrutan asing akhirnya dikirim ke garis depan tanpa mendapatkan pelatihan yang memadai.
Beberapa di antaranya bahkan dilaporkan tewas hanya dalam beberapa pekan setelah bergabung.
"Sebagian besar dari mereka berakhir di garis depan tanpa dibekali pelatihan, dan beberapa tewas dalam beberapa minggu pertama,” ungkap SZRU.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Informasi lengkap dan menarik lainnya di jatim.com