Bantah ingkar janji kepada petani tebu Blora, gubernur Jateng siapkan 56 truk Kopdes Merah Putih

admin ·
Bantah ingkar janji kepada petani tebu Blora, gubernur Jateng siapkan 56 truk Kopdes Merah Putih

JATENG.COM,SEMARANG - Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Jawa Tengah, Iwanuddin Iskandar membantah Gubernur Jateng Ahmad Luthfi tidak menepati janji memenuhi bantuan 56 truk bagi petani tebu Blora.

Bantuan truk tersebut bakal direalisasikan melalui kerjasama dengan TNI.

"Gubernur enggak ingkar janji. Saya bersaksi, saya melihat sendiri beliau menelepon pihak TNI, setelah itu ternyata membutuhkan permohonan tertulis. Permohonan itu sudah dibuat oleh Pak Frans (Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng) tanggal 28 Agustus lalu," ujar Iwan kepada , Rabu (2/9/2026).

Ia juga membantah ada kendala administrasi dalam proses realisasi bantuan tersebut. Surat itu masih dalam proses.

"Bukan problem administrasi. Tapi di sana masih membutuhkan surat.

Follow up-nya surat itu sedang diproses," bebernya.

Awal Mula Butuh Bantuan Truk

Perwakilan warga Blora  sempat bertemu dengan Iwan dalam forum audiensi antara Pemprov Jateng dan Jateng Guyub, di kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang Selasa (1/9/2026).

Perwakilan warga menyatakan akan melakukan aksi demonstrasi jika permintaan mereka tidak terpenuhi dalam tenggat waktu satu pekan mendatang.

Permintaan itu berkaitan dengan janji Gubernur Jateng Ahmad Luthfi yang menyebut bakal memberikan bantuan sebanyak 56 transportasi truk bagi petani tebu Blora.

Janji itu dilontarkan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi pada saat menemui massa aksi Jateng Guyub pada Jumat, 24 Juli 2026 lalu.

Menanggapi hal itu, Iwan mempersilakan jika warga ingin melakukan aksi tersebut.

"Apakah kami bisa mencegah aksi? Ya, tidak bisa. Yang jelas, tuntutan yang kaitannya dengan tebu (bantuan truk) itu sudah kita proses kok," jelasnya.

Bantuan 56 Truk dari Truk Kopdes

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jateng, Defransisco Dasilva Tavares alias Frans mengungkap bahwa bantuan truk tersebut berasal dari truk operasional koperasi desa merah putih (KDMP) atau Kopdes.

Ia mendetailkan, rencana bantuan itu bermula saat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora mengeluhkan kekurangan bantuan truk pengangkut tebu.

Para petani tebu tersebut  membutuhkan bantuan truk angkutan karena hasil panen melimpah sementara PT Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM) milik Bulog belum bisa menerima sehingga komoditas itu dikirim ke luar Blora.

Di tengah kondisi itu,  para petani mengetahui ada 55 truk Kopdes (sebelumnya 56) yang baru datang di wilayah Blora.

"Mereka meminta ke Pak Gubernur untuk bisa mengakses truk itu karena daripada truk nganggur,  KDMP juga belum operasional," kata Frans kepada .

Dari kondisi itu, Frans lalu meminta bantuan Gubernur Jateng yang langsung ditindaklanjuti dengan langkah Gubernur menghubungi panglima TNI.

"Harus ada izin dari Panglima TNI, jadi pak Gubernur langsung telpon ke panglima tersebut," ujarnya.

Petani Tebu Enggan Pakai Truk Takut Viral

Hasil dari lobi itu, lanjut Frans, Gubernur Jateng sudah mendapatkan restu untuk menggunakan truk Kopdes.

Pihaknya langsung memberitahukan kepada asosiasi petani tebu dan Bupati Blora untuk bisa menggunakan truk tersebut.

Pemberitahuan juga dilayangkan ke Kodim 721 Blora.

Namun, petani enggan menggunakan truk Kopdes tersebut karena takut viral. Hal itu seperti peristiwa viralnya truk Kopdes di Sragen yang digunakan untuk mengangkut tebu pada awal Agustus 2026.

"Karena takut viral, kami akhirnya bikin surat tertulis bertanggal sebelum 28 Agustus sebenarnya, sekitar 26 atau 27, ke Bupati, asosiasi petani hingga Kodim 721 Blora," katanya.

Dari kondisi tersebut, Frans menilai, persoalan tersebut sebenarnya sudah selesai. Petani tebu tinggal berkoordinasi dengan pihak Kodim setempat.

"Tinggal bagaimana komunikasi di tingkat bawah untuk teknis ngangkutnya, bagaimana caranya itu mereka sendiri, kami kan tidak bisa masuk sampai di level itu," jelasnya.

Ia meminta kepada para petani tinggal memanfaatkan truk tersebut di sisa masa panen yang kini tinggal sekitar  20-an persen lahan.

"Ini masuk bulan September, sebentar lagi selesai panen dan masuk masa tanam lagi," ujarnya.

Ia juga membantah Gubernur ingkar janji soal bantuan truk tersebut. Begitupun soal kendala administrasi, pihaknya justru berusaha menyelesaikan kendala tersebut. "Tidak ada (kendala), makanya saya kemarin heran, kenapa dituntut lagi," ucapnya.

Perwakilan Warga Blora di Jateng Guyub, Exi Agus Wijaya mengatakan, Gubernur Jateng telah menjanjikan bantuan bagi petani tebu sebanyak 56 unit truk sebagai sarana transportasi untuk mengangkut hasil panen ke pabrik gula.

Para petani tebu tersebut sangat membutuhkan bantuan truk angkutan karena kerusakan mesin di Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM) milik Bulog.

Akibat hal itu, para petani tebu Blora terpaksa mengirim hasil panen ke pabrik gula di luar daerah seperti ke Kabupaten Pati bahkan ke wilayah Jawa Timur seperti Lamongan, Kediri, Madiun, dan Jombang.

"Para petani harus mengeluarkan biaya lebih untuk transportasi, tinggal kalikan saja, dari hasil panen 1 hektare butuh 12 rit dikali setiap rit biaya truk sampai Rp1,5 juta, berapa rupiah itu, kondisi ini kegagalan tata niaga tebu yang mana petani jadi korban," kata Exi saat audiensi dengan Pemprov Jateng dalam aksi Jateng Guyub di Kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang, Selasa (1/9/2026).