Ketahanan devisa RI bergantung pada rupiah dan aliran modal -->

Ketahanan devisa RI bergantung pada rupiah dan aliran modal

8 Jun 2026, Senin, Juni 08, 2026

bengkalispos.com.CO.ID - JAKARTA.Ekonom dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menganggap arah cadangan devisa hingga akhir tahun akan sangat dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar rupiah serta aliran modal asing.

Menurutnya, yang terjadi saat ini bukan hanya penurunan cadangan devisa bulanan, tetapi merupakan tren yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Secara Year to Date (YtD), cadangan devisa telah turun sekitar US$ 11 miliar dari posisi US$ 156,4 miliar pada akhir 2025 menjadi US$ 144,9 miliar pada akhir Mei 2026.

Yusuf menekankan bahwa penurunan ini tidak disebabkan oleh penurunan kinerja perdagangan luar negeri yang signifikan, melainkan karena faktor utama yaitu pembayaran utang luar negeri pemerintah serta penggunaan cadangan devisa untuk menjaga kestabilan rupiah dalam situasi ketidakpastian pasar keuangan global.

"Sebagian besar cadangan devisa yang digunakan merupakan akibat dari upaya menjaga stabilitas, bukan karena kelemahan dasar ekonomi secara langsung," kata Yusuf kepada bengkalispos.com, Senin (8/6/2026).

Untuk proyeksi akhir tahun, Yusuf memperkirakan cadangan devisa berada dalam kisaran US$ 135 miliar hingga US$ 142 miliar. Namun, jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dan arus modal asing belum pulih, cadangan devisa bisa turun ke kisaran US$ 130 miliar hingga US$ 135 miliar.

Dari segi ketahanan luar negeri, ia menganggap posisi Indonesia masih cukup aman. Cadangan devisa saat ini setara sekitar 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh melebihi standar internasional yang biasanya tiga bulan impor.

Namun, Yusuf mengingatkan bahwa cadangan devisa Indonesia semakin berkurang akibat tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Sepanjang tahun ini, rupiah sempat berada di sekitar Rp 18.000 per dolar AS karena penguatan dolar AS, ketidakpastian situasi geopolitik, serta pengunduran diri sebagian modal asing dari pasar dalam negeri.

Ia juga menyoroti defisit transaksi berjalan yang mencapai sekitar 4 miliar dolar AS pada kuartal pertama tahun 2026, yang terbesar untuk kuartal pertama dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, keadaan ini menunjukkan bahwa dukungan dasar terhadap rupiah tidak sekuat beberapa tahun lalu.

Yusuf menjelaskan, ketika rupiah mengalami tekanan, Bank Indonesia cenderung memperkuat tindakan di pasar valuta asing yang akhirnya mengurangi cadangan devisa negara. Jika terus berlangsung lama, situasi ini dapat menimbulkan keraguan dari pasar terhadap stabilitas eksternal Indonesia.

Meskipun demikian, ia menganggap Bank Indonesia masih memiliki alat lain untuk menjaga stabilitas, seperti tingkat bunga dan instrumen penarik dana asing. Selama aliran modal tetap terjaga, kebutuhan intervensi dengan menggunakan cadangan devisa bisa diminimalkan.

"Pada akhirnya, kestabilan luar negeri akan lebih dipengaruhi oleh penguatan dasar melalui peningkatan ekspor, pengendalian defisit transaksi berjalan, peningkatan investasi, serta pengembangan pasar keuangan dalam negeri," ujar Yusuf.

TerPopuler