Buku Islam ala Prabowo dongkrak elektabilitas? Ray Rangkuti: Pemilih lebih rasional, Gen Z, milenial

admin ·
Buku Islam ala Prabowo dongkrak elektabilitas? Ray Rangkuti: Pemilih lebih rasional, Gen Z, milenial
Ringkasan Berita:
  • Narasi religius dinilai bukan strategi elektoral yang efektif, karena pemilih kini semakin mandiri dan rasional.
  • Generasi muda lebih melihat rekam jejak, bukan semata-mata identitas organisasi atau simbol keagamaan.
  • Buku tersebut dinilai dapat menjadi “jangkar” politik, terutama bagi pihak-pihak yang ingin tetap menjaga kedekatan dengan Prabowo. 

NEWS.COM - Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai narasi religiusitas yang ditampilkan melalui buku Islam Ala Prabowo tidak akan banyak membantu meningkatkan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto. 

Menurut Ray, pendekatan dengan menonjolkan identitas keagamaan sebagai instrumen untuk memengaruhi pilihan politik merupakan pola yang lebih relevan pada era 1990-an hingga awal 2000-an.  

Sementara itu, karakter pemilih saat ini dinilai telah mengalami perubahan. 

"Kalau dari aspek elektoral saya kira enggak ya. Nah, ini kan pola-pola yang kita pakai di era tahun 90-an ya dan awal-awal tahun 2000-an lah," ujar Ray kepada news.com dalam program Overview news, Rabu (9/9/2026).  

Ray mengatakan sebagian besar pemilih saat ini, terutama generasi muda, cenderung lebih mandiri dalam menentukan pilihan politik.

Mereka dinilai tidak mudah mengikuti pilihan berdasarkan simbol agama, organisasi, maupun identitas tertentu. 

"Pemilih kita itu 60 persen tuh nanti generasi Alpa, Gen Z, bahkan generasi milenial yang umumnya itu lebih mandiri dalam hal menentukan hak pilih dibandingkan generasi-generasi sebelumnya dan umumnya itu mereka lebih melihat track record ya, rekam jejak," kata pria yang juga merupakan Direktur Eksekutif Lingkar Madani. 

Karena itu, menurut Ray, upaya menampilkan wajah religius Prabowo melalui buku tersebut tidak serta-merta dapat mengubah tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan. 

"Jadi kalau wajah-wajah yang seperti itu misalnya dapat tanda kutip ya menyelamatkan wajah Pak Prabowo ya, saya kira tingkat ketidakpuasan terhadap Pak Prabowo seperti yang sekarang ini dengan sendirinya tetap terpelihara," ujar Ray. 

Ia menilai pemilih sekarang tidak lagi mudah diarahkan hanya berdasarkan simbol tertentu.  

Kondisi tersebut berbeda dengan pola politik masa lalu ketika identitas kelompok atau organisasi dinilai memiliki pengaruh lebih besar terhadap pilihan anggotanya. 

"Model-model yang seperti itu adalah model-model tahun 90-an, 2000 awal gitu ya. Di mana kalau orang itu diidentifikasi pada simbol-simbol tertentu, maka seolah-olah orang-orang yang terikat dalam simbol itu akan mengikutinya," tuturnya. 

Ray mencontohkan, pada masa lalu dukungan sebuah organisasi politik atau kemasyarakatan dapat lebih mudah diikuti oleh anggotanya.  

Namun, menurut dia, pola tersebut kini tidak lagi berlaku secara otomatis. 

"Kalau organisasi anu kita pegang maka warganya atau anggotanya akan ikut kita itu ya, tahun 80, 90 oke. Kalau sekarang orang belum tentu, orang anggota organisasi tertentu itu akan ikut meskipun organisasinya sudah menyatakan kita dukung, itu belum tentu," katanya. 

Buku Dinilai Jadi Jangkar Kedekatan Politik 

Meski tidak melihat buku Islam Ala Prabowo sebagai instrumen yang efektif untuk mendongkrak elektabilitas secara langsung, Ray menilai ada kepentingan lain yang mungkin berada di balik penerbitan buku tersebut. 

Menurutnya, buku itu dapat menjadi sarana bagi pihak-pihak tertentu untuk tetap mempertahankan kedekatan politik dengan Prabowo. 

"Nah, adalah tujuannya yang saya sebut ada kepentingan orang-orang tertentu untuk tetap merasa dekat dengan Pak Prabowo. Dibuatlah buku ini sebagai jangkar ya yang menghubungkan mereka dengan Pak Prabowo," ujar Ray. 

Ia menduga buku tersebut juga diharapkan memiliki manfaat terhadap elektabilitas Prabowo pada masa mendatang, meskipun pengaruhnya terhadap pemilih dinilai tidak terlalu besar. 

"Jadi ada orang-orang tertentu yang merasa perlu tetap memelihara hubungan dengan Pak Prabowo, lalu membuat buku ini. Dan saat yang bersamaan buku ini diharapkan tentu saja dapat bermanfaat pada elektabilitas ya, keterpilihan Pak Prabowo di masa yang akan datang," katanya. 

Ray kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan pola penerbitan biografi tokoh politik. Menurutnya, waktu penerbitan biografi dapat memberikan petunjuk mengenai kepentingan di balik buku tersebut. 

"Biografi yang ditulis di waktu sebelum Pilpres dan Pilkada itu biasanya buku untuk kampanye. Kita banyak tuh. Tapi biografi yang ditulis sedang orang berkuasa, nah itu biasanya ya dalam rangka mencari kerja, alias jabatan," ujar Ray.

Buku yang Menuai Polemik  

Buku 'Islam Ala Prabowo' merupakan karya Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas.  

Buku 'Islam Ala Prabowo' itu diketahui diterbitkan oleh  Atmosphere Publishing House pada 26 Agustus 2025 lalu.  

Buku itu kemudian ramai jadi sorotan sejak awal September 2026. 

Pasalnya dalam buku tersebut tercantum nama-nama tokoh besar, seperti Ulama sekaligus Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) KH Muhammad Zainul Majdi.

Lalu ada juga nama Pengasuh pondok pesantren Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar alias Gus Kautsar dan Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj.

Dalam buku Islam Ala Prabowo itu juga tercantum  jajaran menteri Kabinet Merah Putih.

Yakni Mendikdasmen Abdul Mu'ti dan Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra.

Lantas apa sebenarnya isi buku Islam Ala Prabowo yang ramai jadi sorotan publik ini? 

Isi Buku Islam Ala Prabowo

Melansir laman Gramedia.com, buku Islam ala Prabowo yang ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, Mush`ab Muqoddas diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House pada 14 Juli 2025.

Buku Islam Ala Prabowo yang tercatat dengan ISBN: 9786238967650 ini, terdiri dari 368 halaman.

Dalam deskripsinya buku ini berisikan tentang narasi kilas sejarah, riwayat, sekaligus kiprah seorang pemimpin politik dari sudut pandang yang belum banyak diperbincangkan oleh publik intelektual.

Disebutkan juga bahwa buku bertajuk 'Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam' ini tidak hanya mendeskripsikan sosok Prabowo Subianto sebagaimana yang telah banyak diulas di berbagai media lain. 

Namun juga memberikan ruang interpretasi yang luas bahwa, Prabowo Subianto adalah penggerak dalam lokomotif keagamaan dan keumatan.

Buku ini ditulis dalam ikhtiar menggali nilai-nilai, paradigma, napak tilas sekaligus membaca denah rumah masa depan bangsa yang Prabowo emban dalam memacu perjuangan bangsa beserta unsur-unsur progresif di dalamnya. 

Melalui buku ini, pembaca disebut bisa melihat pengaruh moral Islam dalam perilaku politik dan kepemimpinan Prabowo Subianto. 

(news.com/Garudea Prabawati/Faryyanida Putwiliani)