Ringkasan Berita:
- Candi Planggatan terletak di Desa Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, merupakan warisan dari masa Majapahit yang berdekatan dengan Candi Sukuh. Candi ini berada pada ketinggian 910 meter dan telah dijadikan cagar budaya oleh BP3 Jateng sejak tahun 1979.
- Lokasi tersebut terdiri dari batu-batuan bertingkat dengan ukiran tokoh, rumah panggung, pasukan tentara, serta ukiran Gajah Wiku yang berasal dari tahun 1456 M.
- Ditemukan lingga-yoni, bokor persembahan, serta prasasti, yang menunjukkan adanya fungsi keagamaan Hindu; candi terkait dengan budaya dan seni Majapahit.
SOLO.COM, KARANGANYAR - Candi Planggatan adalah salah satu warisan dari Kerajaan Majapahit yang berada di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Lokasinya tidak terlalu jauh dari Candi Sukuh, sehingga memiliki kesamaan dalam gaya arsitektur dan latar belakang sejarah.
Saat ini, sisa-sisa candi Planggatan tertutup oleh pohon beringin yang besar, memberikan kesan misterius dan sejuk.
Jika berangkat dari Kota Solo, Candi Planggatan berjarak 38 kilometer, atau memakan waktu sekitar 1 jam 6 menit menurut Google Maps.
Deskripsi Situs dan Lokasi
Candi Planggatan terletak di ketinggian 910 meter di atas permukaan laut dengan luas mencapai 4.460 meter persegi.
Lingkungannya dikelilingi oleh permukiman penduduk dan lahan kosong.
Lokasi ini terlihat seperti puncak candi yang menghadap ke sekeliling daerah. Kondisi saat ini, sebagian besar batu-batunya belum sepenuhnya digali, hanya beberapa batu berrelief yang setengah terkubur terlihat.
Awalnya, lokasi situs merupakan lahan milik desa/dusun yang ditanami rumput sebagai makanan ternak.
Sejak tahun 1979, lokasi ini diurus oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, dan tanahnya telah diakui sebagai cagar budaya.
Struktur dan Reruntuhan Candi
Bangunan Candi Planggatan terdiri dari susunan batu yang berlantai, meskipun batas setiap lantainya saat ini tidak terlihat jelas.
Dari sisa-sisa bangunan tersebut, ditemukan batu-batu yang datar maupun bertekstur. Tekstur yang terdapat pada batu tersebut menggambarkan:
- Tokoh berkuda bersama para pengawal yang senjata dan payung
- Rumah panggung dan pendapa yang dijaga oleh pengawal
- Bala tentara bersenjata tombak
- Tokoh laki-laki dan perempuan yang didampingi, serta para punakawan
Pahatan-pahatan ini mirip dengan relief Candi Sukuh dan Candi Cetho, menunjukkan kesamaan gaya visual serta pengaruh budaya Majapahit.
Relief Gajah Wiku dan Sengkalan Memet
Salah satu relief yang paling menarik adalah Gajah Wiku, yang digambarkan sebagai makhluk setengah manusia dan setengah gajah dengan belalainya sedang memakan bulan sabit.
Gajah memakai ikat kepala dan kain yang dilipat, menunjukkan ciri seorang tokoh bijak.
Relief ini merupakan batu ukir yang berisi tulisan "Gajah wiku mangan wulan", menggambarkan tahun 1378 Caka (1456 Masehi), serupa dengan relief yang terdapat di Candi Sukuh.
Di sebelah relief Gajah Wiku terdapat sebuah prasasti berisi empat baris yang mirip dengan prasasti di Candi Ceto dan Sukuh, memperkuat hubungan ketiga situs tersebut.
Temuan Arkeologis
Selain relief, di lokasi Candi Planggatan juga ditemukan:
- Lingga-yoni, menggambarkan peribadatan terhadap Tuhan Siwa
- Bokor batu, tempat sesaji
- Benda batu lain yang menggambarkan kisah-kisah keagamaan dan aktivitas masyarakat
Berdasarkan arah hadap candi ke barat dan kesamaan relief, Candi Planggatan diperkirakan memiliki orientasi yang sama dengan Candi Sukuh.
Penggalian awal dilakukan oleh BP3 Jateng pada tahun 1985, tetapi setelah mengetahui arah hadap candi, batuan kembali ditutup.
Nilai Sejarah dan Budaya
Candi Planggatan adalah warisan dari kerajaan Majapahit yang penuh dengan nilai keagamaan Hindu dan upacara ritual keagamaan.
Bukti-bukti yang ditemukan dalam bentuk relief dan prasasti menunjukkan adanya hubungan budaya serta seni antara berbagai candi di Karanganyar.
Beberapa pakar juga menyatakan bahwa situs ini berkaitan dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang pernah berhenti di wilayah sekitar Gunung Lawu sebelum meninggal dunia.
(*)