Tak ingin harga petani anjlok, Pemkab Nganjuk batasi bawang merah dari luar daerah

admin ·

jatim.bengkalispos.com, NGANJUK - Pemerintah Kabupaten Nganjuk membatasi masuknya bawang merah dari luar daerah sebagai upaya menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi hasil produksi petani lokal.

Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengatakan kebijakan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi pasokan dari luar daerah yang berpotensi menekan harga bawang merah hasil panen petani Nganjuk.

“Memang tidak ada aturan tertulis, tetapi kami harus mengantisipasi jangan sampai merusak harga,” kata Marhaen saat menghadiri panen raya bawang merah di Kecamatan Gondang, Senin (7/9).

Menurut dia, pengawasan terhadap bawang merah dari luar daerah juga penting untuk menjaga citra produk bawang merah Nganjuk yang dinilai memiliki kualitas baik.

Pemkab Nganjuk juga berupaya mengatur waktu panen agar petani tidak memanen secara bersamaan. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah lonjakan pasokan yang berpotensi menekan harga di pasaran.

Selain itu, pemerintah daerah memberikan pendampingan kepada petani melalui kerja sama dengan TNI Angkatan Laut serta melakukan pemantauan harga bawang merah di tingkat petani.

Marhaen mengatakan luas lahan bawang merah di Nganjuk mencapai sekitar 22 ribu hektare. Saat ini, panen raya mulai berlangsung dan progresnya telah mencapai sekitar 40 hingga 50 persen.

Panen raya tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga akhir September 2026.

Dari sisi produktivitas, hasil panen bawang merah di Nganjuk saat ini mencapai sekitar 25 ton per hektare. Menurut Marhaen, capaian tersebut cukup baik meskipun petani menghadapi serangan hama, termasuk ulat.

Namun, harga bawang merah di tingkat petani saat ini masih relatif rendah, yakni sekitar Rp18 ribu per kilogram.

Marhaen berharap harga komoditas tersebut dapat kembali naik dan bertahan di atas Rp20 ribu per kilogram sehingga memberikan keuntungan yang lebih layak bagi petani.

Salah seorang petani bawang merah Nganjuk, Suheri, mengatakan panen raya saat ini mulai dilakukan oleh petani di sejumlah wilayah.

Menurut dia, kualitas bonggol bawang merah secara umum cukup bagus. Namun, terdapat perbedaan ukuran antara hasil panen dari wilayah Nganjuk bagian timur dan barat.

Perbedaan tersebut salah satunya dipengaruhi pola tanam. Petani di wilayah timur cenderung menggunakan jarak tanam lebih renggang sehingga ukuran bonggol relatif lebih besar dibandingkan wilayah barat yang menerapkan jarak tanam lebih rapat.

Suheri mengatakan biaya pupuk dan bibit masih menjadi salah satu beban terbesar dalam produksi bawang merah.

Untuk lahan seluas 125 ru, kebutuhan pupuk bisa mencapai sedikitnya tiga kuintal dari berbagai jenis, seperti urea, ZA, dan NPK Phonska.

“Kalau untuk pupuk bawang merah luasan 125 ru, minimal tiga kuintal dari semua jenis pupuk, Urea, ZA, Phonska,” katanya.

Kebutuhan pupuk NPK Phonska sendiri dapat mencapai sekitar tiga hingga empat kuintal untuk lahan seluas 125 ru, tergantung kondisi tanaman.

Selain pupuk, harga bibit juga cukup tinggi. Untuk jenis bibit tertentu yang didatangkan dari Thailand dan siap tanam, kebutuhan mencapai sekitar 225 kilogram per 125 ru.

“Saya beli itu sudah Rp63 ribu, Rp64 ribu (per kilogram). Mulai bulan enam, tujuh itu Rp60 ribu ke atas,” ujar Suheri.

Dia menuturkan keuntungan petani sangat bergantung pada hasil panen. Jika hasil produksi kurang dari dua ton, keuntungan yang diperoleh cenderung tipis.

Sebaliknya, hasil panen di atas dua ton masih memberikan ruang keuntungan bagi petani. Karena itu, Suheri berharap pemerintah dapat meningkatkan dukungan pupuk bersubsidi agar biaya operasional petani bawang merah dapat ditekan. (antara/mcr12/jpnn)