Yusril tegaskan bukan penulis buku Islam ala Prabowo, hanya narasumber

Menurut Yusril, wawancara tersebut dilakukan jauh sebelum dirinya dilantik sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih. Karena telah berlangsung cukup lama, ia mengaku tidak lagi mengingat siapa yang mewawancarainya.
“Saya sudah tidak ingat siapa yang mewawancarai saya. Saya juga tidak tahu apakah dia bagian dari tim penyusun atau tim yang menyiapkan bahan untuk buku itu. Saya tidak mengenalnya secara pribadi,” ujarnya.
Setelah membaca buku tersebut secara utuh, Yusril menyatakan tidak menemukan persoalan mendasar dalam substansi yang berasal dari wawancaranya. Ia menilai pandangan yang disampaikannya merupakan pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
“Saya baru membaca buku itu secara utuh sampai selesai. Apa yang saya sampaikan dalam wawancara tersebut merupakan pandangan saya dan tentu dapat saya pertanggungjawabkan secara akademik,” katanya.
Yusril menilai perdebatan yang muncul terkait buku tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh judul Islam ala Prabowo. Menurutnya, judul tersebut dapat menimbulkan beragam persepsi dan tafsir di tengah masyarakat.
Ia menegaskan tidak pernah diajak berdiskusi atau dimintai pendapat mengenai judul buku. Karena itu, keputusan mengenai judul sepenuhnya berada pada pihak yang menyusun dan menerbitkan buku tersebut.
“Kalau saya ditanya mengenai judulnya, saya tidak tahu karena memang tidak pernah diajak membicarakannya. Kalau judulnya misalnya ‘Prabowo dan Islam’, menurut saya akan lebih mudah dipahami sebagai pembahasan mengenai hubungan Prabowo dengan Islam,” ujar Yusril.
Lebih lanjut, Yusril mengingatkan masyarakat agar tidak menilai sebuah buku hanya berdasarkan judul atau potongan informasi yang beredar. Menurut dia, isi dan konteks buku perlu dibaca secara utuh sebelum memberikan penilaian.
“Sekarang orang cenderung tidak sabar membaca buku yang cukup panjang. Judulnya dibaca, lalu dianggap sudah mewakili seluruh isi buku. Setelah itu orang memberikan penilaian berdasarkan sudut pandangnya sendiri, bahkan tidak jarang berdasarkan kepentingannya sendiri,” kata Yusril.
Ia kemudian meminta publik membiasakan diri memahami substansi sebuah karya, terutama buku yang memiliki muatan akademik, sebelum menarik kesimpulan.
“Saya kira kita perlu membiasakan diri membaca dan memahami substansinya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Jangan sampai kita hanya berdebat mengenai judul, sementara isi bukunya sendiri belum pernah dibaca dengan saksama,” tuturnya.
Yusril kembali menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki peran dalam menggagas maupun membiayai penerbitan buku Islam ala Prabowo. Ia menyebut kontribusinya hanya sebatas memberikan keterangan sebagai narasumber dalam proses pengumpulan bahan.
“Posisi saya dalam buku itu jelas sebagai orang yang diwawancarai. Saya bukan sponsor dan bukan pula orang yang menginisiasi penerbitannya,” tegasnya.
Buku Islam ala Prabowo diluncurkan dalam rangkaian Rakornas BAZNAS 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025. Dalam keterangan BAZNAS dan pemberitaan saat peluncuran, penulisan buku tersebut disebut diinisiasi Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua MUI KH Anwar Iskandar.
Sementara itu, mengenai pencantuman namanya dalam bagian hak cipta buku, Yusril mengatakan hal tersebut tidak pernah dibicarakan sebelumnya. Ia menilai persoalan tersebut perlu dilihat secara proporsional dengan mempertimbangkan ketentuan Undang-Undang Hak Cipta serta keterlibatan banyak penulis dan sumber dalam buku.
“Kalau saya disebut sebagai pemegang hak cipta, tentu perlu dilihat bagaimana konteksnya menurut UU Hak Cipta karena penulis dan bahan yang digunakan dalam buku itu banyak. Kalau pun ada, mungkin berkaitan dengan bagian wawancara saya. Tetapi mengenai pencantuman itu saya tidak pernah diajak bicara. Saya sendiri tidak terlalu mempersoalkan soal hak cipta,” ujar Yusril.
Yusril mengatakan penjelasan tersebut disampaikannya untuk meluruskan posisi dan keterlibatannya dalam buku tersebut. Ia berharap publik dapat membedakan substansi buku dengan persepsi yang muncul akibat pemilihan judul.
“Bagi saya yang penting adalah apa yang saya sampaikan dalam wawancara itu memang merupakan pandangan saya. Saya tidak keberatan pandangan tersebut dimuat dan saya siap mempertanggungjawabkannya secara akademik,” kata Yusril.***
Baca selengkapnya