
Bengkalispos.comHujan deras yang mengguyur wilayah Sumatera Barat sejak beberapa hari terakhir kembali menghadirkan ancaman serius bagi warga, terutama mereka yang tinggal di kawasan sekitar aliran Sungai Batang Anai.
Debit sungai yang terus meningkat hingga akhirnya meluap membuat aparat kepolisian mengeluarkan imbauan evakuasi mendesak untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
Kapolsek Batang Anai, Iptu Wadriadi, menegaskan bahwa situasi di sekitar Pasar Usang saat ini berada pada kategori siaga.
Ia meminta seluruh warga yang tinggal di wilayah rawan banjir agar segera meninggalkan rumah dan berpindah ke tempat yang lebih aman.
Menurutnya, risiko bahaya terlalu besar jika masyarakat memilih bertahan, mengingat arus air yang semakin kuat dapat membahayakan keselamatan.
“Yang paling utama adalah menyelamatkan diri dan keluarga,” ujarnya.
Imbauan ini disampaikan setelah sejumlah rumah warga mulai terendam dan beberapa jalan tidak lagi dapat dilalui kendaraan.
Sejumlah pengendara yang nekat melakukan perjalanan bahkan mengalami mogok di tengah banjir, sehingga petugas harus melakukan evakuasi.
Tidak hanya kondisi rumah warga yang terancam, jalur transportasi utama dari Padang menuju Bukittinggi juga terdampak.
Kapolsek mengungkapkan bahwa sementara ini belum tersedia alternatif aman untuk melintas, karena jalur pengganti seperti kawasan Ulakan Tapakis juga mengalami lumpuh total akibat banjir.
Situasi ini menyebabkan sebagian besar perjalanan harus dibatalkan, termasuk distribusi barang dan kebutuhan pokok.
Di tengah keterbatasan akses dan kondisi air yang masih terus meningkat, aparat gabungan dan relawan warga mulai bergerak membuka titik evakuasi darurat.
Warga yang tinggal dekat bantaran sungai diarahkan menuju bangunan yang lebih tinggi dan aman, seperti sekolah atau fasilitas umum yang tidak terendam.
Beberapa keluarga telah lebih dahulu mengamankan barang penting mereka sebelum air semakin naik.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Minangkabau kembali memperingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem masih belum berakhir.
Kepala Stasiun, Desindra Deddy Kurniawan, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang tidak stabil tersebut berkaitan dengan keberadaan bibit siklon tropis 95B yang terpantau sejak 21 November.
Bibit ini berada di timur Selat Malaka dan menghasilkan pola angin yang memicu pembentukan awan hujan sangat intens.
Selain faktor siklon, fenomena Indeks Ocean Dipole (IOD) yang bernilai negatif turut memperburuk kondisi.
IOD negatif menandakan adanya peningkatan suplai uap air dari wilayah barat, membuat atmosfer menjadi lebih lembap dan labil.
Situasi seperti ini sangat mudah memunculkan hujan deras berkepanjangan disertai angin kencang, terutama di daerah pesisir dan dataran rendah.
Dengan kondisi yang tidak menentu dan risiko yang terus meningkat, masyarakat diimbau untuk mengikuti arahan aparat dan tetap memprioritaskan keselamatan.
Evakuasi dini menjadi langkah paling penting untuk mencegah korban jiwa di tengah ancaman banjir yang diperkirakan masih dapat meluas.***