
HARIAN BOGOR RAYA - Hubungan pendidikan antara Australia dan Indonesia kembali diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) baru yang berfokus pada pendidikan tinggi dan riset. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Menteri Pendidikan Australia, Jason Clare MP, dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, pada November 2025. Pembaruan ini menandai komitmen lanjutan kedua negara dalam mengembangkan ekosistem pendidikan berbasis inovasi dan kolaborasi lintas batas.
Pemerintah kedua negara menilai sektor pendidikan sebagai fondasi strategis dalam hubungan bilateral. Melalui MoU yang diperbarui, Australia dan Indonesia menegaskan kembali prioritas mereka untuk memperluas kerja sama akademik, mulai dari pertukaran mahasiswa, program riset bersama, hingga penguatan kapasitas institusi pendidikan tinggi. Kesepakatan ini juga membuka ruang kerja sama baru yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman, khususnya pada era teknologi dan sains.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menyambut baik pembaruan MoU ini. Ia menekankan bahwa pendidikan menjadi pilar utama dalam kemitraan kedua negara. Menurutnya, MoU tersebut merupakan bukti keseriusan kedua pemerintahan dalam menciptakan peluang kolaboratif yang saling menguntungkan, baik bagi mahasiswa maupun peneliti dari Australia dan Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, Australia tetap menjadi salah satu destinasi favorit mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Pada 2024, tercatat lebih dari 24.000 mahasiswa Indonesia menempuh studi di berbagai universitas di Australia. Jumlah ini menjadikan Australia konsisten berada di posisi atas tujuan studi internasional bagi pelajar Indonesia.
Wujud kolaborasi pendidikan kedua negara juga terlihat dari hadirnya tiga kampus universitas Australia di Indonesia—Monash University, Western Sydney University, dan Deakin University yang bekerja sama dengan Lancaster University Inggris. Kehadiran kampus-kampus tersebut membuka akses lebih luas bagi mahasiswa Indonesia untuk mendapatkan pendidikan berstandar internasional tanpa harus pergi ke luar negeri.
Selain itu, ratusan kemitraan riset dan kerja sama akademik antara institusi pendidikan Australia dan Indonesia terus berkembang. Kerja sama tersebut meliputi proyek riset lintas disiplin, program pertukaran dosen, hingga pembangunan kapasitas penelitian yang berdampak positif bagi perkembangan sains dan teknologi di kedua negara.
Dengan diperbaruinya MoU ini, peluang kolaborasi baru diproyeksikan akan semakin terbuka. Pemerintah kedua negara berharap kerja sama ini dapat menghasilkan inovasi yang relevan bagi kebutuhan regional serta memperkuat daya saing pendidikan tinggi di Asia-Pasifik. MoU tersebut diharapkan menjadi pondasi kuat bagi proyek-proyek akademik berskala besar pada tahun-tahun mendatang.***