Badak Jawa Musofa Mati Setelah Translokasi -->

Badak Jawa Musofa Mati Setelah Translokasi

27 Nov 2025, Kamis, November 27, 2025

MUSOFA, badak jawa pertama yang menjalani translokasi di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), mati. Badak jantan yang dipindahkan ke kawasan konservasi khusus Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) yang ada di dalam taman nasional itu hanya bertahan hidup dua hari di tempatnya yang baru itu, atau empat hari sejak kepindahan dari habitat alami.

Sebelumnya, untuk pertama kalinya, individu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di TNUK menjalani translokasi. Misi untuk tujuan penyelamatan spesies endemik Indonesia yang sudah sangat terancam punah itu dilakukan dalam 'Operasi Merah Putih'. Satuan tugasnya dipimpin Komandan Resor Militer (Danrem) 064/Maulana Yusuf Banten, dengan wakil Komandan Pangkalan TNI Angkatal Laut (Danlanal) Banten dan Kepala Balai TNUK.

Melibatkan persiapan, antara lain Tactical Floor Game, oleh Kementerian Kehutanan, TNI, dan Yayasan Badak Indonesia (YABI), operasi itu kemudian dijalankan dengan Musofa berhasil masuk pit trap pada 3 November 2025. Setelah dipastikan badak itu tanpa luka ataupun patah kaki masuk ke sana, juga pemeriksaan kondisi awal, penilaian stres, dan persiapan lainnya, proses pemindahan itu lalu dimulai keesokan harinya, pukul 04 WIB, lewat evakuasi menuju kandang angkut khusus.

Proses pemindahan satwa seberat lebih dari satu ton itu juga melibatkan kendaraan amfibi KAPA K-61 Marinir. Keesokan harinya, 5 November 2025, pukul 14.20 WIB, KAPA K-61 sudah melaju mengangkut kandang Musofa menuju Legon Pakis, titik pendaratan terdekat yang memungkinkan akses lanjutan ke JRSCA.

Kendaraan amfibi KAPA K-61 Marinir TNI yang digunakan untuk translokasi badak jawa Musofa di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, pada 4-5 November 2025. Foto/Dok. TNUK

Setibanya di titik transfer itu pada pukul 17, tim segera melanjutkan proses pemindahan kandang Musofa ke jalur darat terakhir menggunakan truk. Pada pukul 18.20 WIB, Musofa tiba di JRSCA untuk selanjutnya dihabituasi di kandang rawat (paddock), menandai berakhirnya tahap transportasi dan dimulainya fase adaptasi serta observasi medis lanjutan oleh tim dokter hewan dan keeper.

Saat itu, Kepala Balai TNUK Ardi Andono mengumumkan keberhasilan translokasi Musofa membuktikan bahwa perencanaan matang, kekuatan kolaborasi ilmiah, dan dukungan strategis lintas sektor mampu membawa harapan baru bagi badak jawa yang kini hanya ada di taman nasional itu.

Tapi, dalam siaran pers yang dibagikan hari ini, 27 November 2025, Ardi mengungkap kalau ternyata Musofa mengalami penurunan kondisi klinis per 7 November lalu. Dan penanganan intensif oleh tim medis, kata dia, tak mampu menahan penurunan terebut. Musofa dinyatakan mati pada sore hari itu juga. "Tidak dapat diselamatkan akibat kondisi penyakit kronis bawaan yang sudah lama diderita," bunyi keterangan Ardi.

Keterangan itu, kata Ardi, berdasarkan nekropsi oleh tim patologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University. Hasil autopsi pada hewan itu menunjukkan adanya penyakit kronis yang sudah berlangsung lama pada lambung, usus, dan otak, infeksi parasit dalam jumlah signifikan, serta tanda degenerasi jaringan Musofa. "Ditemukan pula luka lama akibat perkelahian di alam, yang menjadi faktor tambahan, namun bukan penyebab utama," kata Ardi menambahkan.

Menurutnya, temuan adanya penyakit kronis itu memberikan gambaran penting bagi peningkatan standar pengelolaan kesehatan badak jawa di habitat alaminya. Kata Ardi, Balai TNUK bersama IPB University, akademisi lainnya, dan mitra konservasi akan menyiapkan langkah lanjutan berupa analisis komprehensif untuk penguatan deteksi dini penyakit, pengelolaan habitat, dan pemantauan kesehatan populasi.

"Kepergian Musofa merupakan kepedihan bagi kami dan tim di lapangan, namun juga menjadi momentum refleksi atas kompleksitas konservasi spesies langka," katanya.

TerPopuler