
Bali yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata memiliki potensi besar untuk menjadi pusat inovasi. Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, Bali mempunyai kekuatan budaya dan juga masyarakat yang terbuka dan adaptif terhadap kemajuan zaman. Kata Wayan, kombinasi itulah yang menjadikan Bali sebagai tempat yang subur untuk melahirkan inovasi modern.
`Inilah daya tarik Bali sebagai ruang temu antara budaya dan inovasi global. Data terbaru menunjukkan tingkat digitalisasi Bali mencapai 97,5 persen. salah satu yang tertinggi di Indonesia. Selain itu, transaksi QRIS mencapai Rp1,38 miliar serta jumlah merchant QRIS meningkat hampir 1 juta yang sebagian besar adalah UMKM,` kata Koster saat memberikan kata sambutan di acara Trend Maker Summit 2025, Kamis (27/11/2025) yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Bali I Wayan Sumarajaya.
Koster menambahkan, data tersebut menjadi bukti bahwa digitalisasi di Bali telah masuk sampai akar rumput dan memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha serta masyarakat luas.
Kata dia, ini merupakan langkah penting menuju ke tempat digital yang inklusif dan berkelanjutan. Di Bali sendiri ekosistem innovasi juga diperkuat melalui program Bali Digital Festival yang telah diselenggarakan sejak tahun 2022 yaitu sebuah festival yang diadakan oleh Komunitas Manusia Bali dalam upaya menumbuhkan kebangkitan dan mengembangkan kreativitas digital.
`Langkah ini dilakukan agar Bali menjadi surganya komunitas digital sehingga memungkinkan Bali menjadi Digital Creative Paradise. Program ini menjadi dasar dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif dan digital serta inovasi berbasis riset dan budaya lokal,` jelas Koster.
Koster menambahkan, inovasi tidak muncul begitu saja. Inovasi membutuhkan ekosistem yang kondusif. Karena itu, ajang Trend Maker Summit 2025 adalah salah satu contoh dari ekosistem tersebut.
`Kita harus terus memfasilitasi kegiatan antarstakeholder, memperkuat multi-facility, memperkuat kolaborasi antar para inovator dengan industri, dengan pemerintah, dan juga dengan masyarakat. Evaluasi, maka karier-karier para inovator tidak henti menjadi sebatas prototype saja, tapi diproduksi secara massal, bergerak ke arah prestasi komersial. Manfaatnya adalah satu-satu, bukan hanya untuk mengatasi masalah-masalah dalam masyarakat, tapi akan bisa memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, termasuk penciptaan lapangan pekerja baru,`jelas Koster.
Menurut Koster, Indonesia khususnya di Bali, membutuhkan lebih banyak lagi inovator di berbagai sektor, yang sangat diutuhkan oleh masyarakat, seperti pangan, energi, kesehatan, termasuk inovasi dalam bisnis, teknopreneur, dan digitalpreneur,`` pungkas Koster.