BHF 2025 Dibuka: Mendagri Puji Kekayaan Alam dan Budaya Banda,Desak Perbaikan Indeks Kesejahteraan -->

BHF 2025 Dibuka: Mendagri Puji Kekayaan Alam dan Budaya Banda,Desak Perbaikan Indeks Kesejahteraan

27 Nov 2025, Kamis, November 27, 2025
BHF 2025 Dibuka: Mendagri Puji Kekayaan Alam dan Budaya Banda,Desak Perbaikan Indeks Kesejahteraan

Laporan Wartawan Ambon.com, Jenderal Louis

BANDA NEIRA, AMBON.COM - Kekayaan alam Banda Neira sebagai ‘Spice Island’ kembali digaungkan dalam Banda Heritage Festival (BHF) 2025). 

Festival akbar yang mengusung tema "Nafas Budaya, Jejak Sejarah, Pesona Alam" ini dibuka secara resmi oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian di Istana Mini, Banda Naira, Rabu malam (26/11/2025).

Acara yang berlangsung khidmat ini tidak hanya menjadi panggung pameran budaya, tetapi juga arena refleksi kritis. 

Mendagri Tito Karnavian, di satu sisi, memberikan pujian setinggi langit atas keajaiban alam dan sejarah Banda. 

Namun di sisi lain, ia secara tegas mendesak adanya upaya serius untuk menaikkan indeks kesejahteraan masyarakat setempat.

Mendagri mengaku memanfaatkan dua hari kunjungannya di Banda Neira untuk melakukan riset dan survei pribadi, khususnya di bawah laut. 

Hasilnya, ia terperangah hingga menempatkan Banda Neira setara dengan destinasi diving kelas dunia.

"Dua hari saya di sini, saya langsung melakukan riset dan survei. Alam bawah laut, saya jujur, kelasnya kelas internasional," puji Mendagri.

Ia merinci bahwa perairan Banda masih menyimpan keindahan yang luar biasa. 

Kekayaan tersebut meliputi; terumbu karang yang masih sangat utuh, tebal, dan hidup.

Tak ketinggalan, keanekaragaman hayati berupa ikan-ikan yang melimpah serta visibilitas air laut yang menakjubkan, mencapai 40 hingga 50 meter.

Dari sisi historis, Mendagri Tito Karnavian juga mengukuhkan Banda sebagai satu-satunya yang layak menyandang gelar 'Spice Island'. 

Ia menekankan, posisi Banda sebagai rebutan dunia di masa lalu memberikan legitimasi yang tak terbantahkan.

"Kita paham bahwa Banda memiliki sejarah yang sangat panjang. Tapi kalau bicara spice island adalah Banda, bukan daerah lain," tegasnya.

BHF 2025 sendiri didukung penuh oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Maluku. 

Festival dibuka dengan Prosesi Adat "Buka Kampung", yang dipuji Mendagri sebagai bukti bahwa budaya Banda itu hidup dan menjadi bagian dari keseharian, bukan sekadar pertunjukan artifisial.

Rangkaian BHF 2025 akan berlangsung di berbagai situs bersejarah, termasuk pagelaran di Benteng Belgica, lomba Perahu Belang sebagai upaya melestarikan budaya maritim, dan kunjungan ke situs pengasingan para pahlawan nasional.

Meskipun Mendagri mengakui kekayaan alam, sejarah, dan budaya sebagai modal penting yang membahagiakan kita semua.

Ia memberikan catatan kritis di akhir pidatonya dengan mengajak semua pihak untuk merefleksikan manfaat riil kekayaan tersebut bagi warga Banda.

"Tapi dibalik itu, kita perlu melakukan perenungan, apakah dengan semua kekayaan itu memberikan manfaat untuk masyarakat khususnya di Banda," ujarnya.

Mendagri secara terus terang menyinggung tantangan yang masih dihadapi Banda, yaitu kemiskinan dan pendidikan. 

Ia berharap BHF 2025 dapat menjadi pendorong peningkatan kesejahteraan.

"Kita tidak memungkiri masih ada masyarakat yang hidup di bawah kemiskinan di Banda. Masih ada yang kurang terdidik dan terlatih, sehingga indeksnya perlu kita naikkan," pungkas Tito Karnavian. 

Pesan Mendagri menjadi mandat jelas bahwa kemegahan budaya harus sejalan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat Banda Naira. (*)

TerPopuler