
Ringkasan Berita:
- Apresiasi Bupati Ngada: Raymundus Bena menyampaikan terima kasih kepada tim akademisi ITB atas kajian dan validasi data pengembangan kawasan transmigrasi di Ngada.
- Forum Group Discussion (FGD): Dilaksanakan 26 November 2026 di Aula Setda Ngada, dihadiri Wakil Bupati, OPD, camat, dan kepala desa dari wilayah transmigrasi.
- Lokasi penelitian: Kajian berlangsung selama tiga bulan di tiga kecamatan: Aimere, Bajawa Utara, dan Riung Barat.
Laporan Reporter FLORES.COM,Charles Abar
FLORES.COM, BAJAWA – Bupati Ngada, Raymundus Bena, menyampaikan apresiasi kepada tim akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tengah melakukan kajian dan validasi data pengembangan kawasan transmigrasi di Kabupaten Ngada. Hal itu disampaikannya dalam Forum Group Discussion (FGD) Validasi Temuan yang digelar di Aula Setda Ngada, Rabu (26/11/2026).
FGD tersebut dihadiri Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, Asisten II Setda Nicolaus Noywuli, pimpinan OPD terkait, para camat, dan para kepala desa dari wilayah transmigrasi. Kegiatan ini merupakan rangkaian akhir dari proses penelitian yang telah berlangsung selama tiga bulan di tiga kawasan transmigrasi: Kecamatan Aimere, Kecamatan Bajawa Utara, dan Kecamatan Riung Barat.
Pendamping Tim 1, Dr. Getbogi Hikmawan, S.Si., M.Si. dari ITB, menjelaskan bahwa kajian ini memiliki dua fokus utama, yaitu penyusunan rekomendasi pengembangan kawasan transmigrasi dan penentuan komoditas khusus yang berpotensi dikembangkan pada setiap kawasan.
“Kami melakukan penelitian, wawancara, dan menarik aspirasi masyarakat untuk mendapatkan data yang kemudian kami laporkan. Temuan ini akan menjadi rekomendasi bagi Kementerian Transmigrasi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pendekatan transmigrasi saat ini tidak lagi sebatas pemindahan penduduk, tetapi memastikan kawasan benar-benar siap sebelum menerima transmigrasi baru.
“FGD ini penting untuk memvalidasi temuan kami. Dengan melibatkan dinas terkait dan kecamatan, rekomendasi yang kami kirimkan bisa lebih inklusif, produktif, dan progresif bagi masyarakat,” tambah Dr. Getbogi.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Ngada selama proses penelitian berlangsung.
Pemaparan lain oleh Akademisi ITB, Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., menegaskan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi harus didasarkan pada pemetaan ilmiah serta identifikasi komoditas unggulan yang sesuai dengan karakteristik wilayah.
“Keberhasilan pengembangan sangat ditentukan oleh ketepatan pemetaan potensi, kesiapan sosial masyarakat, dan kekuatan kelembagaan,” jelasnya.
Menurut Prof. Endah, Kabupaten Ngada memiliki potensi biodiversitas dan kekayaan hayati yang dapat berkembang menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi apabila dianalisis dan diimplementasikan dengan pendekatan berbasis data.
“Validasi lewat FGD memastikan rekomendasi yang disusun benar-benar mencerminkan kondisi faktual di lapangan,” tambahnya.
Bupati Raymundus Bena menambahkan, bahwa temuan lapangan dari tim ITB harus semakin diperkaya lewat masukan OPD dan pemangku kebijakan daerah sebelum dikirim ke pemerintah pusat.
“Saya sangat yakin dengan temuan lapangan dari tim ini. Temuan itu bisa berupa potensi wilayah, struktur kelembagaan, sosial, etos kerja, atau kebijakan pemerintah yang mungkin belum ditindaklanjuti,” katanya.
Bupati menekankan pentingnya keterlibatan OPD untuk memberikan masukan sesuai fakta lapangan. Ia yakin kajian ini akan berdampak langsung pada penyusunan program dari Kementerian Transmigrasi.
Sebagai contoh, Bupati menyebut peluang pengembangan kelapa genja di Riung Barat yang dapat menjadi pintu masuk program lintas kementerian.
Ia memastikan bahwa hasil penelitian selama tiga bulan ini akan diperjuangkan di pemerintah pusat.
“Kalau ada hal-hal jangka pendek yang perlu diintervensi, bisa kita sesuaikan dengan anggaran daerah,” ujarnya. (Cha)
Berita FLORES.COM Lainnya di Google News