
Saat pertama kali memasuki Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Samarinda, saya sempat menahan napas. Bukan karena takut, tetapi karena ada prasangka yang selama ini tak sengaja tertanam: bahwa mereka yang berada di balik jeruji adalah orang-orang yang gelap masa depannya. Namun prasangka itu pelan-pelan retak, dan akhirnya hancur, seiring hari demi hari saya berinteraksi dengan mereka. PKL ini tidak hanya memindahkan saya dari ruang kuliah ke ruang lapas, ia memindahkan cara saya memandang manusia.
Selama beberapa minggu, kegiatan kami berlangsung dengan ritme yang konsisten namun selalu penuh kejutan rasa. Setiap Senin hingga Kamis, pukul sembilan pagi, kami memimpin dzikir bersama dan membaca Surah Yasin secara bergiliran di setiap blok tahanan. Di luar sana, lantunan ayat terdengar biasa saja, sehari-hari. Tetapi di tempat ini, suara yang sama bisa menjadi obat untuk hati yang retak, sandaran bagi jiwa yang letih, jembatan bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah. Tidak semua suara merdu, tidak semua bacaan fasih tetapi ketulusan punya nada yang tidak bisa ditiru.
Menjelang Dzuhur, kami diminta mengisi ceramah singkat selama lima menit. Lima menit yang tampak kecil, ternyata cukup luas untuk menampung pesan, nasihat, bahkan renungan panjang tentang hidup. Sebagai mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, saya terbiasa membaca ayat dengan pendekatan akademik. Tetapi ketika saya berbicara di hadapan mereka, ayat-ayat itu kembali menjadi pesan hidup, bukan teori. Ceramah singkat itu bukan sekadar transfer pengetahuan; ia adalah percakapan jiwa ke jiwa.
Dzuhur, kami mengajar mengaji. Ada yang baru bisa membedakan huruf ba, ta, dan tsa. Ada pula yang secara perlahan melafalkan ayat panjang meski terbata-bata, dan ada juga sudah lancar membaca Al-Qur'an. Namun keterbatasan bukan hambatan bagi semangat mereka. Justru saya menyaksikan sesuatu yang sering hilang di luar sana: kerendahan hati dalam belajar. Di luar penjara, banyak orang belajar agar terlihat pintar. Di dalam sini, mereka belajar untuk berubah.
Setiap kali satu ayat berhasil mereka baca dengan benar, saya melihat sesuatu yang jarang saya lihat: mata yang berbinar bukan karena memahami makna tafsirnya, tetapi karena merasa sedang melangkah menuju hidup yang lebih baik. Di titik itulah saya sadar, bahwa mengajar bukan hanya tentang memberi pengetahuan; mengajar adalah menyaksikan manusia bangkit dari luka.
Hari Jumat memiliki denyut spiritual yang lebih dalam. Pukul sembilan kami memimpin pembacaan Surah Al-Kahfi. Ayat-ayatnya mengalir, mengisi ruang yang terbatas namun terasa lapang. Suara membaca Al-Qur’an di tengah tembok tinggi dan pintu besi memberi sensasi aneh sekaligus indah: bahwa ayat-ayat Allah dapat masuk bahkan ke tempat yang paling rapat sekalipun. Hidayah tidak mengenal batas tembok, tidak tunduk pada kunci, tidak bisa diredam oleh besi.
Dari kegiatan ini saya belajar satu hal besar, bahwa jeruji besi hanya mengurung tubuh, bukan selalu hati. Justru ada hati-hati yang saya lihat lebih lembut, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah daripada sebagian manusia yang hidup bebas tanpa batas. Ada yang menangis usai mengaji. Ada yang bercerita tentang masa lalu dengan suara bergetar. Ada yang mengadukan nasibnya kepada Tuhan lebih sering dari yang pernah saya lakukan.
PKL di Lapas mengajarkan saya sesuatu yang belum pernah saya temukan dalam jurnal tafsir atau kitab metodologi, bahwa manusia bukan hanya teks yang dibaca, tapi wajah yang harus dipahami. Bahwa ayat-ayat Allah bukan hanya untuk dikaji, tapi untuk menuntun orang-orang yang ingin kembali. Tafsir bukan cuma wacana intelektual, ia adalah perjalanan spiritual. Dan saya sedang menyaksikan perjalanan itu setiap hari.
Banyak orang berkata bahwa lapas adalah tempat akhir. Saya justru melihatnya sebagai awal. Awal dari pertobatan. Awal dari kedewasaan iman. Awal dari keberanian untuk mengakui salah dan memperbaiki diri. Di balik seragam tahanan itu, saya tidak melihat kriminal. Saya melihat manusia. Manusia yang mungkin salah, tapi tidak menyerah pada kesalahan. Manusia yang belajar perlahan, huruf demi huruf, ayat demi ayat menuju ampunan Allah yang tidak pernah tertutup bagi siapa pun.
PKL ini membuat saya pulang bukan sebagai mahasiswa yang mengajar, tapi sebagai manusia yang belajar. Belajar untuk tidak menghakimi cepat. Belajar bahwa kesempatan kedua adalah hak setiap jiwa. Belajar bahwa Qur’an punya cara kerja yang halus dan ajaib: ia menyentuh, bahkan memeluk, mereka yang dunia pernah jauhi. Dan saya bersyukur menjadi saksi kecil dari mukjizat itu.
Jika suatu hari saya kembali ke kampus, saya akan membawa cerita ini bukan sebagai catatan PKL, tetapi sebagai pengakuan. Bahwa saya pernah melihat hidayah bekerja di tempat yang tak banyak orang mau memandangnya. Bahwa saya pernah melihat air mata yang jatuh bukan karena hukuman, tetapi karena penyesalan. Bahwa saya pernah melihat manusia yang sedang belajar menjadi lebih baik.
Dan di balik seragam tahanan itu, saya melihat cahaya.
Ditulis oleh:
Baihaqie Ramadhana Putra
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda