Ekonomi Papua Tengah Minus 8%, Bahlil Bantah Karena Faktor Freeport -->

Ekonomi Papua Tengah Minus 8%, Bahlil Bantah Karena Faktor Freeport

28 Nov 2025, Jumat, November 28, 2025

Bengkalispos.com, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan tidak ada hambatan terhadap ekspor konsentrat PT Freeport Indonesia. Penegasan itu ia sampaikan usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Pernyataan tersebut merespons kabar mengenai relaksasi ekspor Freeport yang sebelumnya dikaitkan dengan kontraksi ekonomi di Provinsi Papua Tengah. Bahlil menekankan bahwa seluruh kegiatan ekspor berjalan normal tanpa penundaan.

“Saya harus mengatakan bahwa untuk ekspor konsentrat Freeport, tidak ada yang tertahan,” tegas Bahlil.

Ia memastikan seluruh proses ekspor telah melalui mekanisme yang berlaku. “Semuanya sudah selesai dan sekarang waktunya sudah selesai. Jadi nggak ada yang ditahan-tahan,” tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan bahwa ekonomi Papua Tengah mengalami kontraksi hingga 8%. Salah satu faktor yang disebut ialah terganggunya produksi Freeport akibat insiden smelter terbakar dan longsor yang memicu penurunan kapasitas produksi.

Menurut Tito, data Badan Pusat Statistik menunjukkan perekonomian Papua Tengah, khususnya wilayah yang mencakup operasi Freeport, tercatat minus 4,74% secara year on year pada kuartal III-2025. Hal itu ia sampaikan dalam rapat terbatas mengenai perkembangan inflasi daerah, pertumbuhan ekonomi daerah, dan realisasi anggaran pemerintah daerah.

Ia menambahkan, gangguan produksi Freeport terjadi setelah longsor di kawasan Grasberg Block Cave (GBC), Papua Tengah, yang menyebabkan produksi perusahaan menurun sekitar 70%. Kondisi ini ikut memengaruhi penjualan tembaga dan emas Freeport.

Di sisi lain, Tito melaporkan inflasi nasional masih terjaga. Inflasi year on year berada di level 2,86 persen, sementara inflasi year to date sebesar 2,1 persen. Komoditas pangan bahkan berkontribusi terhadap deflasi di sejumlah daerah. Harga beras di banyak wilayah dilaporkan menurun meski tidak merata.

Namun, beberapa komoditas seperti bawang merah, cabai, dan telur ayam ras mengalami kenaikan harga. Tito menyebut kenaikan harga emas, situasi geopolitik global, dan fenomena dedolarisasi sebagai faktor tambahan pendorong inflasi

TerPopuler