
Akhir-akhir ini marak berita bunuh diri muncul di timeline media sosial. Media sosial yang seharusnya digunakan untuk membagikan kabar baik, malah penuh dengan berita duka dan tragis. Instagram, TikTok, Twitter, Facebook, dan aplikasi lainnya tak jarang menampilkan berita serupa dengan caption panjang bercerita kronologi. Banyak orang bahkan sudah kebal dengan hal semacam itu saking seringnya muncul di pemberitaan. Berita mahasiswa A di kampus B atau seorang C di jalan D, narasi-narasi yang seenaknya mengabarkan berita buruk. Beberapa tindakan ekstrem yang dilakukan untuk mengakhiri hidup pun kerap dituliskan secara gamblang, padahal hal itu berpotensi menyakiti dan menambah luka, baik bagi keluarga maupun pembaca.
Nyatanya memang bunuh diri bukan lagi hal yang asing di telinga. Bahkan di negara maju seperti Jepang, bunuh diri masih menjadi masalah nasional. Korea pun tak berbeda—telepon khusus disediakan bagi mereka yang membutuhkan bantuan untuk sekadar bercerita. Hal ini menggambarkan bahwa bunuh diri bukan lagi masalah nasional, tetapi internasional. Meski begitu, dari contoh yang disebutkan sebelumnya, dari Jepang hingga Korea ada satu variabel spesifik yang dapat ditarik: kurangnya rasa memiliki arah atau landasan yang kuat dalam memaknai hidup.
Penghakiman bukan jalan keluar
Masalah bunuh diri tak boleh dihakimi sembarangan. Bunuh diri adalah hal yang sensitif dan menyangkut nyawa manusia. Salah memberi tanggapan, alih-alih menyelamatkan nyawa, bisa saja malah menambah angka bunuh diri. Bunuh diri bukan sekadar tindakan tanpa sebab, tetapi keputusan yang muncul dari alasan kompleks yang hanya diketahui pelaku. Oleh sebab itu, tidak patut seseorang menghakimi tanpa pernah berada di posisi yang sama. Ada banyak faktor seseorang bisa terpikir melakukan hal tersebut, dan alangkah baiknya memahaminya secara utuh sebagai upaya pencegahan.
1. Faktor psikologis
Seseorang yang mengalami guncangan psikologis cenderung menarik diri sebagai respons dari stres serta rasa kesepian yang tanpa sadar dialami. Depresi, kecemasan, kelelahan emosional, dan perasaan hampa berkepanjangan tanpa penanganan dapat menjadi faktor penyebab dari segi psikologis.
2. Faktor sosial
Seseorang yang mengalami bullying atau perundungan tanpa dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya memiliki potensi besar untuk putus asa. Selain itu, konflik keluarga yang berkepanjangan tanpa penyelesaian juga dapat mendorong seseorang merasa lelah secara mental.
3. Faktor lingkungan
Tekanan hidup dari lingkungan sekitar—akademik, ekonomi, pekerjaan, hubungan sosial, pernikahan, atau relasi antar tetangga—dapat menjadi tuntutan berlebihan yang menimbulkan stres emosional. Kelelahan mental yang tidak tertangani dapat berujung pada munculnya pikiran negatif tentang diri dan kehidupan.
4. Faktor agama
Hidup merupakan sesuatu yang memerlukan landasan, keyakinan, serta tujuan. Agama dapat menjadi faktor penting dalam seseorang memaknai hidup. Pada sebagian orang, tuntutan beragama yang berat bisa menimbulkan tekanan. Pada sebagian lainnya, jarak dengan nilai-nilai spiritual membuat mereka kehilangan arah dan sandaran ketika hidup terasa penuh cobaan. Oleh karena itu, faktor agama bisa menjadi pisau bermata dua—baik menguatkan maupun, jika dipahami secara keliru, menambah beban.
Masalah mental bukan tentang siapa yang paling lelah
Pada akhirnya, sebagian orang mulai menganggap bahwa bunuh diri adalah hal lumrah dan jalan yang dapat diambil sebagai solusi. Solusi yang sayangnya tak sejalan dengan hak setiap manusia untuk hidup sejahtera. Keinginan untuk mengakhiri hidup tidak datang secara tiba-tiba, melainkan bertahap, melalui berbagai tekanan hingga seseorang kehilangan kendali atas dirinya. Tanda-tandanya sering tidak ekstrem, namun jika terus berputar dalam gelap, kegelapan itu bisa mengambil alih.
Seseorang yang merasa lelah dan merasa menjadi beban dapat menunjukkan tanda emosional bahwa ia sedang terganggu dan membutuhkan bantuan. Menarik diri, mengalami perubahan pola hidup, dan kehilangan minat menjalani aktivitas sehari-hari adalah tanda-tanda umum yang perlu diperhatikan. Jika muncul sinyal demikian, sebaiknya segera mencari pertolongan profesional. Meski begitu, beberapa tanda singkat tentu tidak bisa dijadikan patokan pasti; cara terbaik adalah berkonsultasi dengan ahli.
Manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup seorang diri. Sesekali kita pasti memerlukan bantuan orang lain. Karena itu, penting untuk saling memberi dukungan ketika melihat seseorang menunjukkan tanda-tanda kelelahan emosional. Orang yang sedang mengalami tekanan sering tidak mampu meminta bantuan sendiri, sehingga diperlukan orang lain untuk berinisiatif. Mengajak berbicara dengan tenang, mendengarkan tanpa menghakimi, dan tidak merendahkan dapat menjadi pertolongan pertama yang sangat berarti.
Bagaimana agama menjadi arah pandang lain
Agama merupakan landasan yang memberi manusia arah serta tujuan dalam mengarungi kehidupan yang fana ini. Agama bukan satu-satunya solusi untuk permasalahan mental, namun nilai spiritual di dalamnya sering menjadi penguat. Ketika seseorang merasa lelah menghadapi tuntutan dunia, ada kalanya ia memerlukan tempat kembali untuk merasa tenang. Keyakinan bahwa hidup adalah perjalanan menuju tujuan akhir membuat sebagian orang mampu melihat harapan di tengah cobaan. Nilai kasih sayang dalam agama pun mendorong manusia untuk saling membantu dan mengasihi.
Bukan kamu bukan berarti tak ada
Setiap orang pasti pernah berada di fase terendahnya masing-masing. Namun cara menyikapi fase itu adalah hal yang membedakan seseorang dengan lainnya. Kehidupan memang sulit—namun bunuh diri bukan solusi. Bunuh diri tidak mengakhiri masalah, tetapi memutusnya tanpa memberi kesempatan untuk diselesaikan. Selagi percaya bahwa jalan keluar pasti ada, pilihan itu bukanlah solusi tepat.
Bantuan tak pernah benar-benar hilang dari dunia ini. Mungkin dunia terasa tidak adil, tetapi tidak semua orang akan bersikap demikian. Jika tak ada orang terdekat yang dapat dimintai pertolongan, mintalah bantuan kepada pihak berwenang atau profesional. Meminta bantuan bukanlah kelemahan, tetapi bentuk keberanian dan tanggung jawab terhadap hidup.
Sebagai manusia, kepedulian itu harus tetap ada. Bukan berarti jika kita tidak mengalami kelelahan mental maka tak perlu memperhatikan sekitar. Bisa jadi, di sudut yang tak terlihat ada seseorang yang memerlukan uluran tangan. Oleh karena itu, jadilah orang yang peka—baik untuk diri sendiri maupun orang lain—karena manusia tak pernah hidup sendiri.