Warta Bulukumba- Suasana di lokasi lomba yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKP) Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tiba-tiba memanas. Di tengah keributan anak-anak yang baru saja menyelesaikan karya mereka, terdengar suara keras seorang ibu yang berseru, meminta transparansi yang dirasa telah hilang dari meja penjurian.
Ibu bernama Misn Kardi menanyakan secara tegas bahwa teknik yang digunakan anaknya, yaitu teknik kerik, seharusnya mendapatkan nilai sangat tinggi tetapi anaknya tidak meraih juara. Misn Kardi membandingkan karyanya dengan karya para pemenang. Bahkan dia meminta dengan keras agar karya para pemenang ditampilkan. Sayangnya, panitia menolak permintaan tersebut.
Diketahui bahwa teknik kerik merupakan metode pewarnaan dengan cara mengikis atau menggosok lapisan warna yang tebal (biasanya berwarna gelap) agar terlihat warna di bawahnya (biasanya berwarna terang). Teknik ini juga dikenal sebagai teknik grafito dan menghasilkan efek garis atau pola yang menarik, seperti tekstur kayu atau daun.
Pantauan Bengkalispos.comDalam beberapa foto yang diunggah oleh Misna Kardi dan sejumlah netizen, teknik kerik terlihat jelas pada karya putrinya. Namun, jika dibandingkan dengan foto salah satu karya peserta lain yang disebut sebagai pemenang, yang belum diverifikasi, tidak terlihat adanya teknik kerik yang dimaksud.
Misna Kardi mengecam keras penyelenggara dan meminta agar juri yang dipilih memiliki kompetensi di bidangnya.
"Saya belum pernah merasa emosional seperti ini sebelumnya, karena hal ini sangat nyata. Jika pun bukan kecurangan, mohon pilih juri yang memang ahli di bidangnya, agar karya anak-anak bisa dinilai dengan baik. Bukan berarti kami tidak bisa menerima kekalahan, tapi kami menolak ketidakadilan dan ketidakjujuran," kata Misna Kardi, dilansir dari video unggahannya di akun tersebut.facebook.com/misna.kardi pada hari Kamis, 26 November 2025.
Warna-warna yang tercoreng di atas kertas gambar seharusnya menggambarkan ketulusan imajinasi anak-anak, tetapi kini justru menjadi bukti perasaan tegang yang memecah suasana lomba. Perlombaan kreativitas yang semestinya penuh kegembiraan tiba-tiba berubah menjadi panggung perselisihan tentang integritas yang diduga telah dikorupsi.
Peristiwa tersebut berlangsung dalam rangkaian Festival Literasi pada hari Kamis, 26 November 2025 di area depan kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Bulukumba.
Tuntutan kejelasan yang menghadapi penghalang
Inti dari kemarahan Misna berada pada perbandingan visual yang jelas. Dalam video yang beredar, ia sempat menunjukkan karya anaknya. Garis-garisnya tajam, peralihan warnanya rapi, sebuah karya yang secara umum memiliki nilai estetika yang tinggi.
Ia tidak menginginkan anaknya menang secara sepihak. Misna hanya meminta satu hal yang sederhana: kejelasan. Ia meminta panitia untuk membandingkan karya anaknya dengan karya para pemenang yang telah ditentukan oleh juri. Permintaan yang wajar dalam semangat kompetisi yangfair play.
Namun, jawaban yang diterima justru berlawanan. Panitia yang bertugas, suaranya terdengar melalui pengeras suara dalam video tersebut, menolak permintaan tersebut.
"Belum waktunya kami memperlihatkan karya para pemenang," kata salah seorang panitia melalui pengeras suara, terdengar dalam video yang viral dan diunggah oleh Misna Kardi.
Jawaban normatif ini justru memicu lebih banyak pertanyaan dari netizen. Mengapa karya pemenang harus disembunyikan saat pengumuman dilakukan?
Bungkamnya pihak otoritas
Sampai berita ini dirilis, isu ini masih menjadi perbincangan hangat di media sosial. Perhatian tajam kini tertuju pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusda) Kabupaten Bulukumba sebagai lembaga yang menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Masyarakat menantikan penjelasan resmi terkait kriteria penilaian dan kompetensi juri yang terlibat. Apakah benar ada "kecurangan" seperti yang dikhawatirkan Misna, atau ini hanya subjektivitas seni yang sulit dijelaskan?
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusda) Kabupaten Bulukumba, Emil Yusri, SP, MP., belum memberikan pernyataan. Ketika dihubungi oleh awak media untuk diminta konfirmasi terkait insiden yang merusak citra Festival Literasi ini, ia masih belum memberikan respons apa pun.
Ketidakterbukaan dari pihak berwenang justru memperkuat narasi ketidakadilan yang diungkapkan oleh Misna Kardi. Di era digital di mana transparansi menjadi hal yang paling bernilai, sikap diam dan pembatasan akses terhadap karya pemenang adalah tindakan yang tidak efektif.