
Ringkasan Berita:
- Irfandi Andi Sawe mundur sebagai calon Ketua RT Perdos Unhas
- 10 profesor menandatangani petisi penolakan
- Total ada 41 warga isi petisi penolakan Irfandi Andi Sawe
-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Irfandi Andi Sawe memutuskan mengundurkan diri sebagai calon RT Perdos Unhas Makassar.
Warga Kompleks Perdos UNHAS Blok G/15 itu sebelumnya ditolak 10 profesor.
Sebanyak 41 warga menandatangani petisi penolakan Irfandi Andi Sawe jadi Ketua RT 01 RW 04 pada Rabu (26/11/2025).
Dari 41 warga itu, 10 orang di antaranya profesor.
Sehari berselang, Kamis (27/112025), Irfandi Andi Sawe memutuskan mengundurkan diri.
"Baru saja menerima info yang bersangkutan sudah mengundurkan diri sebagai calon RT," kata salah satu warga, Luna Ngeljaratan kepada Timur.
Luna Ngeljaratan mengungkapkan, Irfandi Andi Sawe tidak hadir dalam pencabutan nomor urut calon pada Rabu (27/11/2025) kemarin.
Petisi penonalan terhadap Irfandi Andi Sawe jadi calon Ketua RT di perumahan dosen Unhas makin ramai.
Penolakan dari beragam kalangan, tak terkecuali profesor.
Sebanyak 10 profesor menolak Irfandi Andi Sawe maju calon Ketua RT Perdos Unhas.
Hingga Kamis (27/11/2025) pagi, sudah ada 41 warga menandatangani petisi tersebut.
"Sudah ada 41 warga mengisi petisi dari total 50-an DPT dengan total 63 KK di RT 01. 10 orang di antaranya kalangan profesor," kata Salah satu warga, Luna Ngeljaratan kepada Timur Kamis (27/11/2025).
Salah satu yang menolak yang Prof Aminuddin Ilmar Guru Besar Fakultas Hukum Unhas.
Ada pula Prof Ismartoyo, Prof. Dr. dr. Nusratuddin Abdullah.
Luna Ngeljaratan mengungkap, calon tersebut diduga kuat tidak berdomisili tetap di alamat terdaftar, yakni wilayah RT 01 RW 04.
Berdasarkan penelusuran masyarakat setempat, rumah yang tercantum di alamat terdaftar berstatus disewakan atau dikontrakkan.
"Nama yang tercantum tersebut tidak ada di rumahnya, tidak pernah membayar iuran sampah dikarenakan rumahnya itu sepertinya tidak ditinggali, tidak ditempati, atau dikontrakkan," ungkap Luna kepada Timur, Rabu (26/11/2025).
Warga menilai kandidat tidak jelas domisilinya. Apalagi Ketua RT seharusnya berdomisili tetap dan memahami secara mendalam dinamika serta permasalahan yang dihadapi warga sehari-hari.
Di sisi lain, Ketua RT haruslah figur yang dikenal, dipercaya, dan memiliki komitmen tinggi untuk melayani warga secara penuh.
Warga sama sekali tak mengenal calon tunggal tersebut, tak ada hubungan emosional yang terjalin antar warga selama ini mengingat calon tak pernah terlihat.
"Walaupun KTPnya memang di situ, tapi tidak pernah kelihatan, warga tidak kenal, sehingga kita tidak punya komunikasi sama senior-senior warga-warga yang ada di Perumnas Dosen," paparnya.
Atas keresahan ini, warga membuat petisi sebagai bentuk penolakan. Termasuk beberapa guru besar Unhas, Prof Nusratuddin Abdullah, Prof Amiruddin Ilmar, Prof Faisal Abdullah hingga Taslim Arifin, eks komisaris Tonasa.
Luna kembali menjelaskan, warga Perdos Unhas khususnya RT 1 memang tak ada yang ingin mencalonkan pada kontestasi Pemilihan Ketua RT RW ini.
Sejak awal warga RT 1 sepakat tidak mengajukan calon karena mayoritas merupakan pensiunan.
Ia menyebut selama ini warga mengandalkan Pjs RT Sutrisno.
Sutrisno punya kesempatan melanjutkan kepemimpinannya jika tak ada pelamar atau pendaftar.
Namun belakangan muncul nama Irfandi, satu-satunya calon ketua RT 01 yang memasukkan berkas.
Dalam regulasi, calon tunggal otomatis bisa definitif tanpa pemungutan suara atau partisipasi masyarakat.
Disisi lain, warga menolak tak ingin dipimpin Irfandi, mereka berharap Sutrisno tetap menjadi andalan mereka.
Selama menjabat, Sutrisno dikenal sangat transparan, aktif, dan dekat dengan warga, termasuk para lansia yang membutuhkan pengawasan khusus.
“Pj RT sekarang sangat dikenal, dari kecil tinggal di sini. Urus semua warga, sampai antar ke rumah sakit, bahkan urus kucing warga kalau naik ke atap,” bebernya.