
JAKARTA, Bengkalispos.com - Pada akhir November 2025, sejumlah wilayah di Indonesia menghadapi berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Hal itu terjadi lantaran dipicu cuaca ekstrem selama musim hujan.
Kondisi ini tidak hanya menguji kesiapan fisik dan sistem penanggulangan bencana, tetapi juga menguji ketangguhan mental dan spiritual masyarakat menghadapi ujian dari Allah SWT.
Dalam situasi darurat seperti ini, umat Islam diimbau untuk sabar, tangguh, dan tetap menjaga nilai-nilai keimanan.
Oleh karena itu, khutbah Jumat pada 28 November 2025 mengangkat tema "Menjadi Muslim yang Tangguh Menghadapi Bencana", sebagai pengingat bahwa setiap musibah adalah bagian dari ujian kehidupan yang harus disikapi dengan bijak, ikhtiar yang maksimal, serta doa yang terus menerus dipanjatkan.
Khutbah ini bersumber dari Perpustakaan Digital Kemenag dan ditulis oleh Taufik Apandi, M.Ag.
Khutbah Pertama
. .
: :
Puji dan Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. yang mana sampai saat ini Allah masih memberikan kepada kita kesempatan untuk bisa bersama-sama melaksanakan tugas ibadah. Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah limpah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Dalam rangka menumbuhkan kesadaran untuk waspada dan siaga menghadapi bencana, ada baiknya kita merenungkan ayat dalam al-Qur'an, surat al-Baqarah (2) ayat 155 yang khatib bacakan pada mukadimah, yang secara spesifik berbicara tentang bencana. Allah SWT berfirman:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Jika kita diberikan pilihan, tentunya kita menginginkan apa yang kita alami dan rasakan dalam hidup ini semuanya adalah kesenangan, tertawa dan bahagia selamanya.
Namun kenyataannya kita juga mengalami selain tawa ada tangisan, selain bahagia ada duka, selain senang ada susah, selain manis ada juga kepahitan.
Bahkan, kita juga menginginkan agar tidak ada bencana di dunia ini. Sebab, kehadirannya begitu pahit terasa, meninggalkan jejak pilu yang luar biasa dan bahkan merenggut harta benda dan nyawa keluarga yang sangat kita cinta.
Namun, sekali lagi itu mustahil. Sangat tidak mungkin. Sebab, bencana merupakan peristwa yang sudah Allah takdirkan menjadi bagian dari kehidupan dunia dan hadir membersamai kita sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.
Dalam ayat tersebut, juga dijelaskan terkait kategori bencana yang akan diberikan. Mulai dari bencana ketakutan, kelaparan, hilangnya harta benda, bencana berkaitan dengan diri manusia, dan terakhir bencana tumbuhan lengkap dengan berbagai hal yang terkait dengannya.
Jika kita perhatikan beragam peristiwa bencana yang terjadi di dunia ini sebenarnya merupakan uraian dari jenis kategori musibah tersebut.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Di antara yang menarik dari ayat ini adalah adanya penggalan kalimat berilah kabar gembira orang-orang yang sabar dengan pahala dan surga. Ternyata di balik bencana terdapat kelompok orang yang secara khusus Allah puji dan apresiasi, yaitu orang-orang yang bersabar.
Hal ini jelas terlihat dari banyaknya ayat maupun hadis yang menjelaskan balasan kebaikan dari Allah bagi orang yang bersabar. Ini menjadi bukti betapa orang yang bersabar mendapatkan tempat istimewa dalam pandangan Islam.
Apresiasi istimewa bagi orang yang bersabar sangat masuk akal. Sebab, dengan bersabar manusia diharapkan tidak larut dalam kesedihan dan keterpurukan yang berpotensi semakin memperkeruh suasana.
Orang yang bersabar, dalam situasi goncang akibat kerasnya dihantam bencana, masih berupaya menghimpun kekuatan yang tersisa, berupaya berfikir dengan jernih, sehingga mampu bersikap wajar dan melakukan tindakan yang benar.
Dengan demikian, kesabaran ini merupakan kekuatan dalam jiwa dan menjadi sangat penting bagi manusia karena berpotensi menghadirkan manusia-manusia yang tangguh dalam menghadapi situasi bencana.
Sementara jika dikaitkan dengan akidah, ketangguhan sebagai buah dari kesabaran tercermin dalam bentuk berusaha tetap berbaik sangka, tetap husnudzon kepada Allah. Bencana yang begitu pahit dan menyedihkan tidak menghilangkan keyakinannya bahwa Allah adalah pemilik sifat Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Dan bencana ini merupakan bagian dari kasih sayang-Nya yang hakikatnya dapat kita temukan melalui perenungan yang mendalam. Sikap husnudzon kepada Allah pada saat menghadapi bencana ini dijelaskan dalam ayat berikutnya :
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".
Mengucapkan "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" tentunya bukan perkara mudah. Walaupun susunan kalimatnya ringkas, tetapi perlu kesadaran dan dorongan yang kuat untuk bisa mengucapkannya.
Bisa dibayangkan, dalam situasi goncang, sedih, tertekan, dan perasaan yang tidak menentu, seseorang masih bisa mengucapkan "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun", sesungguhnya kami semua milik Allah dan hanya kepada-Nya kami semua kembali. Ini adalah bentuk kesadaran yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang tangguh, orang yang bersabar.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Selain itu, orang yang masih menjaga husnudzon kepada Allah pada saat mengalami bencana bisa dikatakan sebagai orang yang berhasil menjalani ujian keimanan, karena di antara tujuan Allah menghadirkan bencana adalah ujian untuk membuktikan kualitas keimanan seseorang. Sebagaimana difirmankan Allah dalam surat al-Ankabut (29) ayat 2:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji?
Dengan demikian, ayat ini menegaskan betapa eratnya hubungan seorang mukmin dengan bencana. Bukan hanya dalam al-Qur'an, ilustrasi tentang hubungan seorang mukmin dengan bencana digambarkan dengan sangat indah oleh Rasulullah SAW. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Raslullah SAW bersabda :
.
Dari Shuhaib berkata: Rasulullah SAW bersabda: "urusan seorang mu`min itu mengagumkan, karena sesungguhnya semuanya bernilai baik, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mu`min, bila kesenangan yang menimpa, ia bersyukur dan syukur itu jelas baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu juga baik baginya."
Hadis ini dikuatkan dengan hadis lainnya, di mana bencana yang menimpa seorang mukmin berpeluang dikonversi menjadi kebaikan berupa pahala dari Allah, dan ganti yang lebih baik dibanding dengan yang telah musnah akibat bencana. Dalam hadis yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah mengajarkan doa:
"Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa."
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Panduan Islam agar manusia bisa tangguh dalam menghadapi bencana tentunya sesuai dengan prinsip kemanusiaan dan universal, di mana kesehatan mental menjadi bagian utama dalam diri para korban yang harus diselamatkan.
Trauma healing, atau pemulihan trauma pascabencana menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dari program tanggap bencana. Melalui trauma healing tim, tanggap bencana membantu menyemangati para korban agar tetap optimis untuk menata kembali puing-puing mimpi yang hancur, berani membuka lembaran hidup yang baru, dan tegar meninggalkan kenangan hidup yang porak poranda agar trauma tidak melekat selamanya. Dalam hal ini, sabar menjadi kata kunci untuk mewujudkan proses pemulihan tersebut.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Terakhir, kita juga patut bersyukur menjadi kaum muslimin yang lahir dan tinggal di negara yang sangat kita cinta, Indonesia. Sebab, dalam urusan bencana sekalipun berbagai pihak terlibat, bahu-membahu dalam mewujudkan tanggap bencana dan peduli terhadap korban bencana.
Selain itu, budaya gotong royong masyarakatnya juga patut disyukuri. Donasi kemanusiaan bagi korban bencana menjadi agenda yang biasa kita lihat setiap terjadi bencana. Itu dilakukan tanpa memandang suku, agama, budaya, warna kulit. Inilah sebuah bentuk tafsir lain dari semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Kita berdoa semoga spirit ini tetap terjaga. Demikian khutbah pertama yang dapat khotib sampaikan. Mudah-mudahan ada guna serta manfaatnya. Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi kita, dan menjadikan berbagai bencana yang menimpa sebagai wujud kasih sayang-Nya, bukan sebagai siksa dan murka-Nya. Aamiin.
Khutbah Kedua
. .
: : . : . .
. . . . . .
. !