
Film pendek ini bukan sekadar kisah inspiratif tentang autisme, melainkan sebuah kritik tajam terhadap bagaimana kita memuja komunikasi verbal dan mengabaikan mereka yang sunyi.
Bayangkan Anda terjebak di dalam sebuah kotak kaca. Anda bisa melihat dunia, mendengar percakapan orang-orang terkasih, dan merasakan emosi yang meledak-ledak—cinta, frustrasi, takut. Namun, kotak itu kedap suara. Anda berteriak, tetapi yang keluar hanya gumaman yang disalahartikan. Dunia menganggap Anda "kosong" hanya karena Anda tidak bersuara.
Premis mengerikan namun nyata inilah yang disajikan dalam Makayla's Voice: A Letter to the World (2024). Film dokumenter pendek karya Julio Palacio ini menyoroti kehidupan Makayla, seorang remaja dengan autisme non-verbal yang selama belasan tahun dianggap memiliki kecerdasan setara balita, hingga akhirnya sebuah metode komunikasi mengubah segalanya.
Namun, mereduksi film ini hanya sebagai "kisah haru perjuangan difabel" adalah sebuah penyederhanaan yang naif. Jika dibedah menggunakan pisau analisis ilmu komunikasi, Makayla's Voice adalah studi kasus brilian tentang runtuhnya dominasi komunikasi verbal dan bagaimana ranah siber menjadi jembatan ontologis bagi manusia untuk menjadi manusia seutuhnya.
Runtuhnya Hierarki Verbal
Dalam studi komunikasi konvensional, seringkali terjadi bias yang disebut sebagai logocentrism—sebuah kecenderungan untuk menempatkan kata-kata lisan (verbal) sebagai hierarki tertinggi dalam penyampaian makna. Selama bertahun-tahun, Makayla menjadi korban dari bias ini.
Karena ia tidak memproduksi kata (verbal), lingkungan sekitarnya—termasuk para ahli medis—gagal menangkap pesan non-verbal yang ia pancarkan. Lewat tangan yang melambai, sorot mata yang tajam, atau sekedar sentuhan fisik yang ia lakukan seringkali hanya dianggap sebagai gejala patologis autisme semata, bukan sebagai upaya komunikasi.
Manusia bertindak bukan berdasarkan fakta objektif, melainkan merespons definisi yang mereka ciptakan sendiri atas lawan bicaranya. Sebelum Makayla menemukan "suaranya", orang-orang memberinya makna sebagai "objek yang perlu dirawat", bukan "subjek yang bisa berpikir". Film ini secara eksplisit menunjukkan betapa fatalnya ketika isyarat sunyi tidak divalidasi.
Cyber dan Augmentasi Diri
Titik balik dalam film ini terjadi ketika teknologi masuk ke dalam narasi. Di sinilah aspek komunikasi siber dan teknologi asistif bermain peran krusial. Makayla diperkenalkan pada metode Augmentative and Alternative Communication (AAC) menggunakan papan huruf dan perangkat digital.
Dalam konteks teori komunikasi bermedia komputer, perangkat yang digunakan Makayla bukan sekadar alat bantu, melainkan apa yang disebut Marshall McLuhan sebagai "The Extensions of Man".
iPad dan papan huruf tersebut menjadi perpanjangan dari sistem saraf Makayla. Di ruang siber—di mana teks menjadi representasi utama—keterbatasan fisik organ wicara menjadi tidak relevan. Teknologi cyber mendemokratisasi komunikasi bagi Makayla. Melalui ketukan jari di atas layar, ia mentranslasikan impuls saraf yang kacau menjadi struktur sintaksis yang rapi.
Fenomena ini menegaskan pergeseran paradigma komunikasi modern: bahwa "suara" tidak lagi didefinisikan oleh getaran pita suara, melainkan oleh kemampuan mentransmisikan data melalui medium, entah udara ataupun serat optik digital.
Peran Bagi Dunia
Makayla's Voice: A Letter to the World adalah sebuah tamparan bagi arogansi komunikasi kita. Ia mengajarkan bahwa dalam era informasi dan cyber saat ini, hambatan komunikasi terbesar bukanlah ketidakmampuan fisik untuk berbicara, melainkan ketidakmauan kita untuk menyediakan medium yang tepat.
Artikel ini bukan sekadar ulasan sinema, melainkan ajakan untuk memperluas definisi komunikasi kita. Bahwa di balik tubuh yang diam, mungkin tersimpan teriakan yang paling lantang, menunggu untuk diketikkan, huruf demi huruf, ke hadapan dunia.