Mengapa Takut dengan Cek Kesehatan Gratis? -->

Mengapa Takut dengan Cek Kesehatan Gratis?

28 Nov 2025, Jumat, November 28, 2025
Jangan Takut Cek Kesehatan: Kisah Seorang Lansia yang Justru Menemukan Ketenteraman

Saya selalu percaya satu hal: lebih baik tahu lebih awal daripada menyesal belakangan. Namun, kepercayaan ini ternyata belum menjadi budaya banyak orang Indonesia. 

Banyak yang masih takut memeriksakan diri, apalagi kalau sudah menyangkut hasil laboratorium. Seolah-olah, kertas hasil lab bisa mengubah hidup setika, hingga mereka memilih tidak tahu sama sekali.

Saya berbeda. Di usia saya yang sudah melewati 60 tahun, saya justru merasa cek kesehatan adalah bentuk syukur, bukan ketakutan. 

Sebelum pemerintah meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), saya sudah rutin melakukan medical check-up satu atau dua tahun sekali. 

Namun, pengalaman saya mengikuti program CKG inilah yang membuka mata saya tentang betapa pentingnya layanan ini, sekaligus menunjukkan kontras budaya kita yang masih enggan "berdamai" dengan kesehatan sendiri.

Awal Program: Saya Datang, Meski Banyak yang Takut

Ketika pemerintah memperkenalkan CKG, program ini awalnya hanya untuk warga yang sedang berulang tahun. Saya termasuk yang beruntung karena usia saya sudah masuk kategori lansia. 

Saat saya tiba di Puskesmas, ternyata suasananya sepi. Bukan karena programnya buruk, melainkan karena banyak yang takut hasil lab mereka menunjukkan "sesuatu."

Saya justru mengalami hal yang menyenangkan. Petugas memberikan jalur khusus lansia, sebuah layanan ekstra yang membuat saya merasa sangat dihargai. Tak perlu antre panjang, cukup registrasi, dan saya langsung diarahkan ke serangkaian pemeriksaan.

Bukan hanya tensi atau gula darah. Saya mendapatkan paket lengkap:

Pemeriksaan darah dan urinePemeriksaan gigiPemeriksaan THTPemeriksaan EKG - yang memang sangat penting untuk orang seusia sayaPemeriksaan fisik umumKonsultasi langsung dengan dokter

Saya pikir akan ramai. Ternyata tidak. Di tahap awal program, masyarakat masih memendam rasa takut untuk mengetahui kondisi kesehatannya sendiri.

Berlalu Beberapa Waktu... Program Berjalan, Tapi Tetap Sepi

Waktu berlalu. Pemerintah akhirnya mengubah skema: CKG tidak lagi terbatas pada warga yang berulang tahun. Siapa pun bisa datang kapan saja.

Dan lagi-lagi, tetap sepi.

Padahal layanan ini sangat lengkap, gratis, dan sangat membantu untuk deteksi dini. Tetapi masyarakat masih berpegang pada pola pikir lama:

"Kalau dicek nanti ketahuan penyakitnya."

"Lebih baik tidak tahu."

"Saya masih merasa sehat kok."

Ironisnya, justru inilah sikap yang membuat banyak orang terlambat mengetahui kondisi mereka, ketika sudah parah.

Puncaknya: Ketika Dua Anak Saya Ikut CKG 

Pada akhir Oktober 2025, dua anak saya akhirnya mencoba CKG. Ini program yang sudah berjalan cukup lama, bahkan sudah tidak ada batasan waktu. Saya pikir, mungkin sekarang akan lebih ramai, apalagi hari Sabtu.

Namun kenyataannya? Tetap saja tidak penuh.

Mereka mendapatkan pengalaman yang sama nyaman dan lengkap seperti yang saya rasakan. Mulai dari pemeriksaan darah hingga konsultasi dokter, semuanya berjalan cepat dan profesional. Mereka bahkan sempat heran, "Kenapa program sebagus ini tidak dimanfaatkan banyak orang?"

Saya hanya tersenyum. Masyarakat kita masih memandang cek kesehatan sebagai "ancaman," bukan "perlindungan."

Saya Tidak Takut - Saya Justru Merasa Tenang

Apakah saya takut pada hasil lab?

Tidak.

Karena sejak jauh sebelum program ini, saya sudah membiasakan diri untuk mengecek kesehatan secara rutin. Saya percaya bahwa ketakutan terbesar bukanlah mengetahui penyakit, tapi terlambat mengetahui penyakit.

Bagi saya, cek kesehatan adalah langkah proaktif untuk:

menjaga diri,menjaga keluarga,menjaga masa tua,dan menghormati tubuh yang sudah bekerja keras puluhan tahun.

Setiap hasil lab bukan vonis, melainkan informasi.

Informasi yang bisa menyelamatkan hidup.

Mengapa Kita Harus Mengubah Pola Pikir Ini?

Ada tiga alasan sederhana:

1. Penyakit tidak muncul tiba-tiba

Tekanan darah, kolesterol, fungsi ginjal, hati, jantung, semuanya memburuk perlahan.

2. Biaya pengobatan selalu lebih mahal daripada pencegahan

Cek kesehatan gratis. Mengobati penyakit kronis tidak.

3. Hasil lab bukan monster

Ia hanyalah angka.

Dan angka bisa diperbaiki.

Asalkan kita mulai lebih awal.

Ayo Cek Kesehatan: Hadiah untuk Diri Sendiri

Kita tidak bisa memilih umur. Tapi kita bisa memilih kualitas hidup.

Sebagai seorang lansia yang sudah melewati 60 tahun dan masih tetap aktif, saya ingin mengajak siapa pun yang membaca ini:

Jangan takut mengetahui kondisi kesehatan Anda. Takutlah jika Anda tidak mengetahuinya.

Jika pemerintah sudah menyediakan fasilitas, manfaatkanlah.

Jika Anda mampu cek mandiri, lakukanlah.

Dan jika Anda memiliki orang tua, anak, atau pasangan, ajaklah mereka bersama-sama.

Karena kesehatan adalah satu-satunya hal yang jika kita abaikan, kita pasti menyesal.

Penulis: Merza Gamal (Pensiunan Gaul Banyak Acara,  Mantan Direktur Rumah Sakit)

Author's Note

Tulisan ini saya susun berdasarkan pengalaman pribadi sebagai seorang lansia yang tetap ingin hidup aktif, produktif, dan sehat. Saya percaya bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar rutinitas medis, melainkan bentuk rasa syukur kepada tubuh yang telah menemani perjalanan hidup saya hingga hari ini.

Sebagai seseorang yang telah melewati usia 60 tahun, saya menyaksikan sendiri bagaimana banyak orang di sekitar saya menunda pemeriksaan kesehatan hanya karena takut melihat hasilnya. 

Ketakutan ini justru sering membawa penyesalan. Melalui tulisan ini, saya berharap semakin banyak masyarakat yang berani memulai langkah kecil: cek kesehatan sejak dini, sebelum tubuh memaksa kita untuk berhenti.

Saya membagikan pengalaman ini bukan sebagai ahli medis, tetapi sebagai seorang ayah, seorang warga negara, seorang manusia yang ingin melihat orang-orang di sekelilingnya hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih bahagia. 

Jika tulisan ini bisa membuat satu saja orang berani datang ke Puskesmas atau klinik untuk memeriksakan diri, maka usaha saya menuliskannya tidak sia-sia.

Terima kasih telah membaca.

Tetap sehat, tetap semangat.

TerPopuler