Mengenal Piramida Giza: Monumen Legendaris yang Masih Menyimpan Misteri -->

Mengenal Piramida Giza: Monumen Legendaris yang Masih Menyimpan Misteri

29 Nov 2025, Sabtu, November 29, 2025

Bengkalispos.com- Piramida Giza adalah monumen yang berada di dataran tinggi Giza, sebuah kawasan arkeologi datar berbatu yang terletak dekat Kairo, Mesir. Area ini mencakup tiga piramida utama yaitu Piramida Khufu, Patung Sphinx, beberapa piramida kecil (Piramida Ratu), permukiman pekerja, beberapa kompleks pemakaman, dan bangunan lain yang terkait dengan fungsi pemakaman.

MengutipEBSCO, seluruh wilayah ini dirancang sebagai kompleks makam besar untuk menghormati para firaun yang memerintahkan pembangunan struktur-struktur tersebut. Di antara semua bangunan itu, Piramida Agung Giza menjadi pusat perhatian, direkam sejak zaman kuno sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno dan satu-satunya yang masih bertahan hingga saat ini.

Para Firaun di Balik Pembangunan Piramida Giza

MenurutNational Geographic, proyek pembangunan piramida pertama di Giza dimulai oleh Firaun Khufu sekitar tahun 2550 SM. Piramida Agung miliknya merupakan yang terbesar di kompleks tersebut, awalnya menjulang hingga sekitar 146 m sebelum sebagian lapisan luarnya perlahan hilang akibat termakan waktu. Struktur ini tersusun dari sekitar 2,3 juta balok batu yang masing-masing memiliki berat antara 2,5 hingga 15 ton.

Putra Khufu, Khafre, melanjutkan rangkaian struktur besar ini dengan membangun piramida kedua sekitar tahun 2520 SM. Piramida Khafre tampak mencolok karena terhubung dengan Patung Sphinx, sebuah monumen batu kapur berbentuk tubuh singa berkepala manusia. Sphinx, yang sebelum abad ke-19 sempat tertimbun pasir selama ribuan tahun hingga hanya menyisakan kepala saja, diduga menjadi penjaga kompleks makam tersebut meski belum ada bukti pasti bahwa Khafre yang membangunnya.

Piramida ketiga dibangun oleh Menkaure, putra Khafre, sekitar tahun 2490 SM. Ukurannya jauh lebih kecil, sekitar setengah dari tinggi dua piramida sebelumnya. Meskipun demikian, piramida ini memiliki struktur yang kompleks dan rumit dengan dua kuil, satu jalan penghubung yang panjang, serta tiga piramida ratu. Ruang-ruangnya dihiasi dengan relung unik dan atap berbentuk kubah di ruang pemakamannya. Sayangnya, sarkofagus Menkaure hilang setelah kapal yang membawanya tenggelam dekat Gibraltar pada tahun 1838.

Fungsi Piramida Giza

Piramida berfungsi sebagai kompleks pemakaman di atas tanah yang dirancang untuk menyimpan roh firaun beserta barang-barang yang mereka butuhkan di kehidupan setelah kematian. Selain menjadi tempat peristirahatan terakhir, struktur megah ini juga berfungsi untuk menunjukkan kekuatan firaun dan kemegahan Mesir Kuno kepada rakyatnya. Setiap piramida memiliki ruang pemakaman di bagian dalam yang terhubung ke luar melalui lorong panjang.

Banyak aspek struktur Piramida Agung tetap menjadi misteri hingga abad ke-21, dan penelitian baru terus dilakukan. Sejak 2016, tim ilmuwan menggunakan teknologimuographyyang memanfaatkan partikel muon dari sinar kosmik untuk mengidentifikasi rongga atau ruang tersembunyi di dalam piramida. Muon dapat menembus celah antar batu, memungkinkan para ilmuwan mendeteksi ruang kosong dalam struktur padat seperti piramida.

Penelitian ini menemukan dua area yang sebelumnya tidak diketahui, di sisi utara dan timur laut. Pada tahun 2023, tim yang sama mengumumkan hasil lanjutan yang menunjukkan bahwa area di sisi utara memiliki panjang sekitar 9 meter dan lebar lebih dari 2 meter. Temuan ini, didukung dengan gambar dari endoskop, menjadi bukti kuat keberadaan rongga tersebut. Namun para ahli Mesir Kuno menegaskan bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan sebelum menyimpulkan fungsi atau asal ruang misterius tersebut.

Metode Konstruksi yang Masih Diperdebatkan

Hingga saat ini belum ada jawaban pasti mengenai metode pembangunan piramida. Dilansir dariBritania Raya, teori yang paling diterima menyebutkan bahwa bangsa Mesir menggunakan tanggul tanah dan batu yang mengelilingi bangunan dan ditinggikan seiring bertambahnya tinggi piramida. Balok-balok batu kemudian ditarik menggunakan kereta luncur, rol kayu, dan tuas. Sejarawan Yunani kuno Herodotus mencatat bahwa pembangunan Piramida Agung memakan waktu 20 tahun dengan tenaga sekitar 100.000 pekerja.

Angka ini dianggap masuk akal jika diasumsikan para pekerja tersebut adalah petani yang bekerja saat Sungai Nil meluap dan aktivitas pertanian berkurang. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja mungkin jauh lebih kecil, dengan perkiraan sekitar hanya 20.000 pekerja tetap yang didukung oleh tenaga tambahan seperti tukang roti, tabib, hingga pendeta.

TerPopuler