Misteri Laut Banda, Menteri Tito Sebut Alamnya Dunia Kelas Satu -->

Misteri Laut Banda, Menteri Tito Sebut Alamnya Dunia Kelas Satu

27 Nov 2025, November 27, 2025
Misteri Laut Banda, Menteri Tito Sebut Alamnya Dunia Kelas Satu

Laporan Jurnalis Ambon.com, Silmi Sirati Suailo

‎MASOHI,AMBON.COM -  Melalui upacara pembukaan Bana Heritage Festival 2025, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian berbagi kesannya setelah mengunjungi Kepulauan Banda.

Menteri Dalam Negeri juga berbagi pengalamannya saat menyelam bersama istrinya. Di mana kerapatan koloni terumbu karang masih tetap terjaga dengan baik.

Dua hari berada di sini, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melakukan survei terhadap alam bawah laut Banda dan menyatakan bahwa kondisi alam bawah laut Banda termasuk dalam kategori internasional.

"Saya telah menyelam selama hampir 30 tahun, sedangkan istri saya sekitar 10 tahun. Dari berbagai tempat yang pernah saya kunjungi seperti Raja Ampat, Kaimana, dan lainnya, jujur hanya tiga kali saya turun di Banda dan menemukan gugusan terumbu karang yang sangat utuh, tebal, serta masih hidup," kata Mendagri, Rabu (26/11/2025),

Tidak hanya itu, beberapa makhluk laut hanya ditemukan di Kepulauan Banda, dan air yang jernih masih terlihat hingga kedalaman puluhan meter.

"Banyak jenis terumbu karang dan ikan besar, saya menemukan ikan Napoleon yang jumlahnya belasan di Pulau Banda. Kumpulan ikan Hiu berkepala besar, semuanya tersedia di Banda," jelas Menteri Dalam Negeri.

Menurut Tito, Banda memiliki sumber daya yang melimpah, keindahan alamnya mampu bersaing dengan destinasi wisata internasional seperti Maldives.

Diungkapkan bahwa titik tertinggi di Maldives hanya mencapai 2 meter, sementara saat memasuki Banda, mata sudah dimanjakan oleh kerangka Gunung Api Banda yang sangat terkenal hingga menjadi simbol uang kertas Rp 1.000 RI.

Sementara dari sudut pandang sejarah, Tito membahas mengenai julukan Banda sebagai Pulau Lada yang sangat diminati.

Selain itu, Tito Karnavian menyatakan bahwa Banda kaya akan budaya, di mana kebudayaan Banda berkembang selama ratusan atau bahkan ribuan tahun berkat perpaduan antara masyarakat lokal dan para pendatang dari berbagai daerah Nusantara.

"Budaya Sulawesi, Jawa, Tiongkok, Arab, dan Eropa menciptakan budaya yang ada di Banda sebagai campuran dari berbagai unsur budaya dan menjadi ciri khas Banda sehingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebelum acara festival, terdapat acara adat Buka Kampung serta ritual tertentu seperti yang dilakukan di Sumur Pusaka Negeri Lonthoir," kata Tito.

Meskipun demikian, Menteri Dalam Negeri menyampaikan perhatian terhadap perkembangan anak-anak di Kepulauan Banda, ia merasa heran karena meskipun ikan tersedia dalam jumlah besar di Banda, namun pertumbuhan fisik anak-anak tidak sesuai dengan usia mereka.

"Kami sempatkan mengunjungi sekolah dan membagikan botol minum, saya bertanya kepada anak-anak usia mereka berapa, ada yang menjawab 13 tahun, 12 tahun, tetapi saya melihat postur tubuhnya tidak sesuai," kata Mendagri.

Ia mengatakan bahwa isu ini harus segera ditangani karena anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang layak mendapatkan perhatian. (*)

TerPopuler