Oleh: Zefirinus Kada Lewoema
Kandidat PhD dalam bidang Knowledge, Technology and Innovation pada Wageningen University and Research, The Netherlands, awardee International Fellowship Program (2007-2009), dan LPDP-RI.
Bengkalispos.com- Belakangan ini, gagasan memperkenalkan Bahasa Portugis di sekolah memunculkan percakapan yang cukup hangat.
Ada sejumlah pihak yang menyambutnya sebagai langkah berani membuka hubungan yang lebih luas dengan negara-negara berbahasa Portugis.
Di lain pihak, ada pula yang menanggapinya dengan hati-hati, mengingat pengalaman panjang kita dengan pengajaran bahasa Inggris yang tidak selalu berjalan mulus.
Kekhawatiran itu dapat dimengerti; sekolah kini memikul banyak tuntutan, dan setiap penambahan muatan patut dipertimbangkan dengan seksama.
Di balik perdebatan tersebut, ada kenyataan lain yang semakin relevan di era digital: belajar bahasa hari ini tidak lagi hanya bergantung pada ruang kelas dan kurikulum formal.
Kita hidup di masa ketika pengetahuan tersedia dalam banyak jalur, dan siapa pun dapat memulai dari tempat mereka berada.
Dalam konteks ini, Bahasa Portugis bukan hanya isu kebijakan, tetapi peluang yang dapat dijemput secara mandiri.
Teknologi Membuka Jalan Baru
Dulu, pembelajaran bahasa asing hampir selalu bergantung pada guru dan buku teks. Kini situasinya berbeda.
YouTube menyediakan sejumlah besar kanal pengajaran bahasa Portugis yang aplikatif dan mudah diikuti.
Aplikasi belajar seperti Duolingo pun menawarkan pendekatan harian yang fleksibel.
Dengan smartphone, seseorang dapat berlatih kapan saja, tanpa harus menunggu jadwal pelajaran atau mengikuti kelas formal.
Menariknya, pendekatan ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa sekolah. Masyarakat dewasa, para pekerja, perantau, pedagang, atau siapa pun yang ingin memperluas peluang, dapat mengakses pembelajaran tanpa hambatan waktu dan tempat.
Belajar bahasa dapat menjadi aktivitas kecil yang menyelip dalam ritme hidup sehari-hari.
Bahasa Portugis dan Peluang Global
Bahasa Portugis membuka hubungan dengan empat benua; Brasil sebagai kekuatan ekonomi di Amerika Latin, Portugal sebagai pintu gerbang ke Eropa, hingga negara-negara Afrika lusofon ( Mozambique, Angola, Guinea-Bissau, Cabo Verde) yang memiliki kerja sama strategis potensial.
Timor-Leste, tetangga dekat kita, sudah pasti termasuk dalam peta hubungan ini.
Peluang tersebut tidak hanya relevan dalam ranah diplomasi negara. Pelajar, pekerja, wirausahawan, hingga peneliti memiliki kesempatan baru untuk berkolaborasi dan memperluas cakrawala berpikir.
Nelson Mandela dalam Long Walk to Freedom (1994) menulis: “If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart -
"Jika anda bicara pada seseorang dengan bahasa yang dia mengerti, bahasa itu hinggap di kepalanya, jika anda bicara pada seseorang dengan bahasa ibunya, anda meraih hatinya.”
Kalimat ini mengingatkan betapa bahasa tidak hanya alat komunikasi, tetapi jembatan kedekatan antar bangsa.
Bahasa Resmi PBB dan Bahasa Belanda
Selain bahasa Portugis, rasanya tidak adil jika kita sepelekan enam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa: Inggris, Arab, Mandarin, Prancis, Rusia, dan Spanyol.
Keenamnya merupakan bahasa percakapan internasional yang digunakan dalam forum global, diplomasi, publikasi akademik, dan negosiasi multilateral.
Menguasai salah satu di antaranya membuka peluang yang luas bagi generasi muda dan para profesional.
Sementara itu, bahasa Belanda memiliki peran khas yang tidak tergantikan dalam konteks Indonesia.
Banyak arsip, kajian sejarah, hukum, agraria, hingga etnografi tersimpan dalam bahasa Belanda.
Bagi peneliti, akademisi, maupun pembuat kebijakan, kemampuan membaca sumber primer berbahasa Belanda memberi kedalaman pemahaman yang tidak bisa diperoleh lewat terjemahan.
Menariknya, kedua kategori bahasa ini, bahasa global masa kini dan bahasa historis masa lalu, bisa dipelajari secara bertahap melalui sumber daring.
Kita tidak harus menunggu program nasional. Kita pun tidak harus kembali ke ruang kelas.
Pembelajaran sebagai Investasi Pribadi
Perlu kita ketahui, pembelajaran bahasa apa pun adalah investasi pribadi. Pemerintah dapat memberi arah, sekolah dapat menyediakan dasar yang kuat, tetapi langkah pertama dan terpenting tetap berada di tangan individu.
Kita perlu memulai, sebab kita pula yang akan merasakan manfaatnya.
Confucius dalam The Analects (1938) menulis: “Success depends upon previous preparation - sukses itu tergantung pada persiapan.”
Persiapan itu kini dapat dilakukan dari rumah, melalui layar kecil yang kita bawa ke mana saja.
Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus (1922) menambahkan: “The limits of my language mean the limits of my world - terbatasnya bahasaku berarti terbatas pula duniaku.”
Jika demikian, memperluas kemampuan bahasa sama artinya memperluas dunia yang dapat kita raih.
Banyak Pintu, Banyak Manfaat
Bahasa Portugis itu ibarat salah satu pintu yang sedang terbuka. Ada lagi pintu-pintu seperti bahasa Belanda, bahasa resmi PBB, dan bahasa-bahasa global lain, yang semuanya dapat dijelajahi secara mandiri.
Kita tidak harus menunggu program besar atau kurikulum baru. Dengan memadukan teknologi, kemauan, dan langkah kecil yang konsisten, siapa pun dapat memulai dari mana saja.
Kelak ketika kemampuan itu berkembang, kitalah orang-orang pertama penikmat manfaat. (*)
Simak terus artikel Bengkalispos.comdi Google News