Pasien Hipertensi Paru Berjuang Cari Jawaban Selama Bertahun-Tahun -->

Pasien Hipertensi Paru Berjuang Cari Jawaban Selama Bertahun-Tahun

28 Nov 2025, Jumat, November 28, 2025

Bengkalispos.com Bertahun-tahun bahkan berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian mengenai penyakit yang dialami menjadi hal yang biasa bagi banyak pasien hipertensi paru.

Mereka seringkali pergi ke dokter, menjalani berbagai jenis pemeriksaan, dan mencoba berbagai pengobatan untuk keluhan seperti sulit bernapas, mudah lelah, atau jantung berdebar, tetapi tidak ada yang bisa memberi penjelasan pasti mengenai kondisi tubuh mereka.

Yustina, pasien hipertensi paru, baru diketahui setelah memeriksakan diri ke tiga dokter. Ia mengungkapkan bahwa ia mulai merasakan gejala mudah lelah setelah sembuh dari infeksi Covid-19, sehingga sempat mengira hal itu merupakan dampak dari kondisi long covid.

"Saya sadar sekarang jadi lebih mudah lelah, tidak bisa lagi naik tangga. Jika cuaca panas langsung merasa pusing dan demam. Mulai bertanya-tanya mengapa kondisi saya seperti ini, apalagi tubuh juga mulai membengkak," kata Yustina.

Ia mengunjungi sebuah rumah sakit dan dinyatakan menderita gagal jantung akibat jantung yang sering berdebar-debar. Tidak puas dengan hasilnya, ia kemudian beralih ke dua rumah sakit lain, tetapi tidak memperoleh jawaban yang jelas mengenai penyakitnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Anastasia Calvina. Keluhan mudah lelah juga ia alami tidak lama setelah melahirkan anaknya. Meskipun demikian, ia termasuk perempuan yang aktif berolahraga dan sejak kecil kerap mengikuti berbagai kompetisi.

Suatu hari, saya pulang dari acara kantor dan merasa lelah. Namun kelelahan itu tidak kunjung hilang selama dua minggu. Saya merasa heran mengapa kondisi fisik saya menurun begitu parah," katanya.

Dari hasil pemeriksaan oleh dokter umum, dokter mengira terdapat kelainan pada jantungnya, sehingga ia dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung.

Pada usia 33 tahun, saya didiagnosis menderita hipertensi paru. Saya sempat menolak untuk menerima kenyataan ini, terlebih ibu saya, karena tahu sejak kecil saya orangnya sangat aktif dan sehat, tapi malah terkena penyakit ini," katanya.

Beberapa pasien hipertensi paru lainnya juga mengalami kesulitan dalam mengetahui penyebab pasti kondisinya setelah menunggu lama.

Gejala hipertensi paru memang tidak jelas dan sering dianggap sebagai asma, kecemasan, atau infeksi tuberkulosis, sehingga diagnosis yang akurat sering terlambat.

Namun, waktu yang terbuang memiliki konsekuensi berat: penundaan pengobatan menyebabkan jantung bekerja lebih keras hingga keadaannya semakin memburuk.

Hipertensi paru merupakan penyakit yang tidak terlalu dikenal oleh banyak orang

Wakil Ketua Hipertensi Paru Indonesia, dr. Harry Sakti Muliawan Ph.D, Sp.JP(K) menyampaikan bahwa hipertensi paru ditandai dengan tekanan darah yang tinggi di pembuluh darah paru, sehingga memicu jantung sisi kanan bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke paru-paru.

Keadaan ini menyebabkan aliran darah terganggu, sehingga fungsi jantung dalam memompa darah menjadi lebih berat.

"Secara umum, hipertensi paru ditandai oleh gejala seperti kesulitan bernapas, bibir berwarna biru, mudah lelah, sering pingsan, kaki bengkak, bahkan muntah darah," ujar dr.Harry dalam acara edukasi media yang diselenggarakan oleh MSD Indonesia dan Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YPHI) di Jakarta (27/11/2025).

Ia menyatakan, berbeda dengan tekanan darah tinggi yang mudah diukur, pengukuran tekanan darah dalam pembuluh jantung sulit dilakukan kecuali melalui kateter jantung.

Penyakit ini termasuk jarang, berdasarkan data tahun 2023 diperkirakan terdapat 3.731 pasien dengan tekanan darah tinggi paru di Indonesia.

Tundaan dalam diagnosis hipertensi paru tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global. Menurut dr. Hary, di Eropa diperlukan sekitar 15 bulan untuk mendiagnosis kondisi ini, sedangkan di Amerika Serikat bisa mencapai dua tahun.

"Di Indonesia, kebanyakan pasien sering diduga menderita tuberkulosis, namun baru diperiksa penyakit lainnya setelah hasil tes menunjukkan negatif," katanya.

Menurut Dr. Hary, penyakit ini lebih sering terjadi pada perempuan. Selain faktor genetik seperti kelainan jantung bawaan, penyakit autoimun, gangguan pada paru-paru, dan perubahan hormonal, hal ini juga menjadi alasan mengapa laki-laki lebih dilindungi dari hipertensi paru.

Harapan pasien

Ketua Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YPHI) Arni Rismayanti menyampaikan bahwa penderita hipertensi paru di Indonesia berharap mendapatkan akses pengobatan yang lebih baik untuk semua pasien.

"Harapan kami semakin banyak orang mengetahui penyakit ini. Di YPHI, kami berharap bisa menjadi rumah kedua bagi para pasien, saling memberi dukungan dan memperkuat keyakinan bahwa kehidupan masih layak diperjuangkan," ujar Arni.

Di sisi lain, pengelolaan hipertensi paru di Indonesia masih menghadapi keterbatasan akses terhadap obat-obatan khusus.

Dari 15 macam obat Hipertensi Paru yang telah diakui secara global, hanya 5 jenis yang dapat ditemukan di Indonesia, dan hanya 2 jenis yang termasuk dalam sistem jaminan kesehatan nasional.

Selain keterbatasan obat, jumlah dokter yang memiliki keahlian khusus dalam pengobatan hipertensi paru di Indonesia juga masih sedikit. Keadaan ini menyebabkan proses pelayanan kepada pasien menjadi lebih lama.

TerPopuler