
BORONG, Bengkalispos.com – Di lereng bukit Desa Gunung, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, berdiri sebuah sekolah dasar yang hampir tak layak disebut bangunan.
Lantainya tanah liat keras, dindingnya adalah susunan batang bambu yang sudah lapuk berlubang-lubang, atap sengnya bocor di puluhan titik.
Saat hujan turun, air mengalir masuk, lantai berubah jadi lumpur. Meski begitu, anak-anak kelas I dan II tetap belajar tanpa alas kaki.
Di tengah kondisi itu, dua perempuan bernama Mersiana Maghong yang biasa disapa Ibu Mersi, dan Maria Triastuti alias Ibu Asti, sudah 10 tahun mengajar dengan penuh cinta.
“Anak-anak ini datang dari keluarga petani. Mereka belum terbiasa duduk diam di bangku."
"Mereka main debu, masuk-keluar lewat lubang dinding, kadang balok atap lapuk bergoyang di atas kepala kami,” kata Ibu Mersi sambil tersenyum, kala ditemui Kamis (27/11/2025).
Tahun ini, Ibu Mersi mengajar kelas I yang terdiri dari sembilan murid, sedangkan Ibu Asti mengajar kelas II yang terdiri dari 20 murid.
Sekat antara kedua kelas sudah bolong, sehingga suara mengajar satu sama lain saling terdengar.
“Kalau hujan deras, kami harus waspada. Takut balok atap jatuh. Lantai licin berlumpur, anak-anak tidak pakai sepatu karena sepatunya malah rusak kena lumpur setiap hari,” tambah Ibu Asti.
Meski begitu, keduanya tetap bersemangat. “Saya senang sekali melihat anak-anak mulai bisa membaca kalimat pertama mereka. Matanya berbinar-binar. Itu yang membuat saya bertahan,” kata Ibu Mersi.
Ibu Asti menimpali, “Murid semangat belajar, saya jadi tambah semangat mengajar. Gedung boleh reyot, tapi mimpi anak-anak ini tidak boleh reyot.”
Harapan di Hari Guru Nasional 2025
Di momen Hari Guru Nasional, kedua guru ini hanya punya satu permintaan sederhana.
“Berilah kami hadiah berupa dua ruang kelas yang layak dan aman. Bukan untuk kami, tapi untuk anak-anak ini. Fondasi bangsa yang kuat dimulai dari kelas I dan II,” ujar mereka hampir bersamaan.
Kepala SDN Waekikong, Ferdinandus Jalang, membenarkan kondisi sekolahnya.
“Sekolah kami mulai dari Tambah Ruang Kelas (TRK) tahun 2011, baru definitif jadi SDN Waekikong tahun 2015."
"Gedung memang sangat memprihatinkan, tapi bukan cuma kami. Masih banyak sekolah di Manggarai Timur yang sama,” kata dia.
“Kita mengabdi untuk murid, bukan untuk gedung. Yang penting anak-anak bisa baca, tulis, hitung.”
Selain gedung rusak, para guru juga kesulitan mengirim data Dapodik dan laporan lainnya karena di sekolah sama sekali tidak ada sinyal telepon seluler.
“Kalau mau kirim data, kami harus naik motor ke Waelengga atau bahkan ke Borong. Zaman sekarang semua lewat aplikasi, tapi kami tidak punya sinyal,” keluh Jalang.
Ia berharap ada bantuan tower BTS atau internet sekolah agar proses administrasi dan pembelajaran era digital bisa berjalan.