
PANDANGAN RAKYAT BENGKULU– Bagi pelaku pasar modal yang memperhatikan layar perdagangan selama sebulan terakhir, pergerakan saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) tak ubahnya sebuah fenomena langka. Saham perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi ini mencatatkan kenaikan yang luar biasa sebelum akhirnya "dipaksa tidur" oleh regulator.
Hingga pagi Jumat, 28 November 2025, gembok suspensi Bursa Efek Indonesia (BEI) masih terpasang rapat di tingkat harga Rp6.075. Angka ini menjadi monumen bisu dari kenaikan harga yang terjadi sejak pertengahan Oktober lalu.
Misteri Kenaikan 442 Persen
Berdasarkan data perdagangan yang dikumpulkan oleh tim redaksi, MORA mencatatkan kinerja yang mengejutkan—atau menakutkan bagi sebagian analis konservatif. Mari kita analisis datanya:
- Awal Titik:Pada 17 Oktober 2025, saham MORA masih diperdagangkan di tingkatpenutupanRp1.120.
- Puncak Titik:Pada 14 November 2025, tepat sebelum suspensi, harga ditutup di Rp6.075.
- Kenaikan:Terjadi lonjakan sekitar442%hanya dalam waktu kurang dari satu bulan kalender.
Lonjakan ini memicu BEI mengeluarkan surat "sakti" Peng-SPT-00358/BEI.WAS/11-2025 pada 14 November 2025, yang menghentikan sementara perdagangan MORA mulai sesi I tanggal 17 November 2025 dalam rangkaMendinginkan.
Manajemen Buka Suara: Efek Papan Pemantauan Khusus?
Menjawab pertanyaan liar di kalangan investor ritel mengenai apa yang sebenarnya terjadi, manajemen MORA akhirnya memberikan klarifikasi resmi pada 25 November 2025. Dalam surat bernomor 078/MTI/CORSEC/EXT/XI/2025, Corporate Secretary MORA, Henry Rizard Rumopa, memberikan jawaban yang cukup menarik perhatian.
Saat ditanya mengenai penyebab volatilitas transaksi, Perseroan menyoroti mekanisme perdagangan.
"Kenaikan volume transaksi Perseroan terjadi terutama setelah Perseroan masuk dalam Kriteria 10 pada Papan Pemantauan Khusus (Full Call Auction),"tulis manajemen dalam pengungkapan informasi tersebut.
Ini adalah sebuah anomali yang menarik. Biasanya, mekanismeLelang Penawaran Penuh(FCA) sering dikeluhkan karena dianggap mengurangi likuiditas. Namun, dalam kasus MORA, masuknya saham ke dalam "Kriteria 10" justru menjadi bahan bakar yang meningkatkan volume dan harga hingga melonjak tinggi.
Analisis Data: Akumulasi Besar Sebelum Pemutusan
Jika kita melihat data transaksi harian, terlihat pola akumulasi yang agresif menjelang penangguhan:
- 12 November 2025:Volume meledak menjadi 9,5 juta lembar saham dengan nilai transaksi Rp37,8 miliar. Harga naik dari Rp3.220 menjadi Rp4.060.
- 13 November 2025:Harga terus naik menjadi Rp5.075 dengan nilai transaksi sebesar Rp19,1 miliar.
- 14 November 2025 (Hari Terakhir):Terjadi pembelian besar-besaran senilai 41,5 miliar rupiah yang mengunci harga di 6.075 (+19,7%).
Penting dicatat, manajemen menegaskan bahwatidak ada informasi atau fakta penting lainnyayang belum diungkapkan ke publik. Artinya, kenaikan harga ini murni didorong oleh mekanisme pasar (permintaan dan penawaran) atau tindakan perusahaan yang mungkin belum matang untuk diumumkan.
Peluang Masa Depan: Waspada terhadap 'Kereta Luncur' Saat Kunci Dibuka
Bagi investor yang sudah memegang saham MORA di harga rendah, posisi saat ini tentu sangat menguntungkan (keuntungan mengambang). Namun, bagi yang berniat masuk, risiko sedang berada di titik tertinggi.
Mengingat saham ini berada dalam mekanisme FCA dan baru saja mengalami kenaikan ratusan persen tanpa didukung oleh berita fundamental yang spesifik (seperti akuisisi atau dividen besar), pembukaan suspensi berikutnya berpotensi membawa volatilitas ekstrem.
Skenario yang mungkin terjadi adalah tindakanambil keuntunganmassal begitu perdagangan dibuka, atau justru berlanjutnya tindakan "gorengan" jikapenyedia pasarmasih memiliki target harga di atas level psikologis Rp6.000.
Investor disarankan untuk memantau kolom secara ketatBuku Pesanan(pada sesi pesanan buta FCA) dan pengumuman resmi BEI berikutnya. Hingga Jumat (28/11), status MORA masih:Ditangguhkan.
Penyangkalan:Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan Anda dengan segala risiko yang menyertainya. Penulis dan redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi ini.