Anak-anak Gemetar Kedinginan di Gaza -->

Anak-anak Gemetar Kedinginan di Gaza

17 Des 2025, Rabu, Desember 17, 2025

Bengkalispos.com.CO.ID,GAZA – Hujan lebat musim dingin yang baru-baru ini turun memperparah penderitaan ribuan pengungsi di Jalur Gaza, dengan air banjir menggenangi tenda-tenda mereka yang rapuh. Blokade yang terus berlangsung oleh Israel terhadap kebutuhan tenda yang mendesak menyebabkan anak-anak menderita cuaca ekstrem.

"Kami tinggal di jalan sepanjang malam setelah hujan menggenangi tenda kami," ujar Majda Hassanein, yang tendanya terendam air hujan deras di Kota Gaza. "Anak-anak kami kedinginan—tidakkah kalian merasakan penderitaan kami?" tambahnya.

Kami tidak mampu tidur, dan kami tidak tahu ke mana harus pergi. Keluarkan kami dari penderitaan ini," katanya. "Seluruh dunia tidur dengan tenang, tetapi kita tidak mengenal rasa aman. Hujan menyerang kami dari satu sisi, dan tembakan dari sisi lain.

Jurnalis Muhammad Rabah dari Jalur Gaza melaporkan, Departemen Pertahanan Sipil menyatakan bahwa hujan deras menyebabkan ambruknya sebuah rumah milik keluarga Al-Hasri di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, yang mengakibatkan satu orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka.

Di tenda-tenda pengungsi di Jabalia, yang berada di bagian utara Gaza, hujan deras mengguyur, menyebabkan kerusakan besar pada pakaian dan selimut. Pemandangan ini secara jelas menunjukkan besarnya tragedi serta memburuknya situasi krisis kemanusiaan yang dialami penduduk Gaza.

Serangan Israel telah merusak atau menghancurkan sekitar 92 persen bangunan tempat tinggal di Gaza, menyebabkan sebagian besar penduduk terpaksa bermukim di tenda-tenda yang tidak aman atau kembali ke rumah-rumah yang rusak dan rentan roboh akibat banjir.

Di sisi lain, seorang bayi Palestina meninggal akibat kedinginan di Jalur Gaza, menurut pihak berwenang setempat. Kejadian ini terjadi saat Israel terus membatasi masuknya bahan-bahan untuk tempat penampungan serta bantuan kemanusiaan lainnya ke wilayah tersebut meskipun cuaca musim dingin di sana sangat ekstrem.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyatakan pada hari Selasa bahwa bayi berusia dua minggu bernama Mohammed Khalil Abu al-Khair meninggal kemarin setelah mencari pengobatan untuk kondisi hipotermia berat, yang disebabkan oleh cuaca dingin ekstrem yang melanda wilayah Gaza.

Aljazirah mencatat bahwa kematian anak tersebut terjadi saat perlindungan dasar di Gaza telah "dihancurkan secara sistematis" akibat perang genosida Israel terhadap penduduk Palestina di wilayah tersebut.

Beberapa keluarga tinggal di tenda-tenda di area yang basah tanpa pemanas, listrik, atau pakaian yang cukup. Ketika makanan, bahan bakar, tempat tinggal, dan bantuan dilarang, suhu yang dingin kemudian menjadi mematikan.

Warga Gaza memanaskan diri di sebelah api dalam tenda mereka di tengah musim dingin dan kerusakan akibat operasi udara dan darat Israel di Kota Gaza, Jumat, 12 Desember 2025. - (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Badai besar yang baru saja melanda Jalur Gaza menyebabkan paling sedikit 11 kematian, di mana hujan deras dan angin kencang menggenangi tenda-tenda serta membuat bangunan-bangunan rusak roboh.

"Kami berusaha mengeringkan pakaian anak-anak di dekat api," kata Umm Mohammed Assaliya, seorang ibu pengungsi Palestina, kepada Aljazirah dari Kota Gaza. "Mereka tidak memiliki pakaian tambahan. Saya sangat lelah. tenda yang diberikan kepada kami tidak cukup tahan terhadap cuaca musim dingin. Kami membutuhkan selimut," ujarnya.

 

Lembaga-lembaga kemanusiaan telah meminta Israel agar mengizinkan pendistribusian bantuan tanpa adanya hambatan ke wilayah Gaza.

Namun, badan PBB yang menangani pengungsi Palestina, UNRWA, yang dianggap oleh PBB sebagai yang paling tepat untuk mendistribusikan pasokan di kawasan tersebut, menyatakan bahwa pemerintah Israel telah menghalangi mereka dalam membawa bantuan langsung ke Gaza.

Orang-orang dilaporkan tewas akibat runtuhnya bangunan yang menjadi tempat keluarga berlindung. Anak-anak dilaporkan meninggal karena terpapar dingin," demikian pernyataan UNRWA dalam unggahan media sosialnya, Selasa. "Ini harus segera dihentikan. Bantuan harus disalurkan secara besar-besaran sekarang.

Di sisi lain, Hamas mengkritik Israel karena sering kali melanggar kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak bulan Oktober.

Sekurang-kurangnya 393 penduduk Palestina tewas dan 1.074 orang lainnya cedera akibat serangan Israel di Gaza sejak hari pertama gencatan senjata pada 11 Oktober, berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan setempat.

Pekerja pertahanan sipil Palestina mengangkat jenazah dari puing-puing bangunan milik keluarga Salim yang menjadi sasaran serangan Israel di awal perang, di Jalan Jalaa, Kota Gaza, Senin, 15 Desember 2025. - ( AP Photo/Yousef Al Zanoun)

Tentara Israel juga menewaskan seorang pemimpin tinggi Hamas, Raed Saad, dalam serangan yang ditujukan ke sebuah kendaraan di wilayah barat Kota Gaza pada hari Sabtu, yang memperburuk situasi gencatan senjata yang tidak stabil.

Pada hari Selasa, pemimpin Hamas Ghazi Hamad menuduh Israel "mengubah" teks kesepakatan yang diawasi oleh Amerika Serikat.

"Kami ingin menyatakan: perjanjian gencatan senjata tersebut jelas, rinci, dan tidak membingungkan. Namun, terlihat jelas bahwa pendudukan Israel telah mengubah makna perjanjian tersebut, memanipulasi serta melanggar setiap pasalnya," ujar Hamad.

Pada hari pertama, Hamas telah sepenuhnya mematuhi perjanjian tersebut dan menjunjung komitmennya. Di sisi lain, Israel secara sengaja melakukan beberapa pelanggaran yang sistematis dan terencana.

TerPopuler