Bencana Sumatra 2025: Kebencanaan yang Tidak Terduga -->

Bencana Sumatra 2025: Kebencanaan yang Tidak Terduga

31 Des 2025, Rabu, Desember 31, 2025
Bencana Sumatra 2025: Kebencanaan yang Tidak Terduga

SURAT KABAR - PEMIKIRAN RAKYAT -Akhir November 2025 akan terus diingat sebagai masa paling gelap dalam sejarah Indonesia modern. Hujan deras yang tidak berhenti selama beberapa hari berturut-turut memicu banjir di ribuan sungai di Pulau Sumatra, air bah menghancurkan desa dan kota, serta longsor menewaskan warga dari Aceh hingga Sumatra Barat. Kejadian ini bukan hanya tentang alam yang marah, tetapi juga peringatan keras terhadap cara kita mengelola lingkungan hidup.

Siklon tropis dengan nama Senyar yang terbentuk di Selat Malaka pada akhir November menjadi penyebab utama hujan yang sangat deras. Siklon jenis ini jarang terjadi dekat khatulistiwa, namun ketika pola iklim global—seperti Madden-Julian Oscillation maupun La Niña—berkembang bersamaan, curah hujan yang terakumulasi selama beberapa hari akhirnya turun dalam jumlah yang sangat besar di daerah hulu sungai.

Akibatnya, tiga provinsi utama—Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat—mengalami kerusakan yang sangat parah: banjir bandang menghancurkan rumah, jembatan, dan lahan pertanian; tanah longsor menghalangi jalur transportasi; serta aliran lumpur menghilangkan desa-desa. Ribuan penduduk yang sebelumnya tinggal tenang di kaki bukit atau dataran sungai tiba-tiba menjadi korban.

Berdasarkan data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dirilis pada awal Desember, hingga pertengahan bulan bencana telah menyebabkan kematian ratusan orang—setidaknya 1.145 jiwa dilaporkan meninggal dan ratusan lainnya masih dalam status hilang.

Lebih dari satu juta orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, menyebar di ratusan kabupaten dan kota, sementara jutaan lainnya mengalami dampak langsung dari kerusakan ekonomi, sosial, dan psikologis.

Angka tersebut terus berubah seiring dengan upaya pencarian dan pengenalan korban. Pemerintah pusat dan daerah melaporkan bahwa akses ke berbagai wilayah terpencil masih mengalami kendala karena kerusakan pada infrastruktur.

Jembatan yang rusak dan permukaan tanah yang tidak aman menyebabkan tim penyelamat harus berjalan kaki selama beberapa jam agar bisa sampai ke desa-desa yang terisolasi dari dunia luar.

Namun, data statistik saja tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan tragedi. Di puncak longsor di Tapanuli Utara, warga yang selamat masih terdiam saat menceritakan bagaimana rumah mereka tiba-tiba hilang, sementara tetangga mereka terbawa oleh aliran lumpur. Di desa-desa pesisir, hujan yang menghancurkan rumah juga menghilangkan harapan masa depan. Bukit yang dahulu hijau kini menjadi datar, hanya menyisakan pantulan air yang sunyi.

Deforestasi

Ahli lingkungan telah mengingatkan bahwa badai parah dan banjir bukanlah fenomena musiman yang biasa. Mereka menyatakan bahwa kerusakan lingkungan jangka panjang—seperti penebangan hutan di daerah hulu dan penurunan kualitas tanah—telah membuat wilayah Sumatra sangat rentan terhadap curah hujan tinggi. Di banyak situasi, hutan yang dulu mampu menyerap air dan melindungi tanah kini berubah menjadi area terbuka yang mudah longsor.

Tahun 2025 segera berakhir. Sementara banyak wilayah di Indonesia mulai bersiap menghadapi perayaan Tahun Baru 2026, suasana di Sumatra jauh berbeda. Pemerintah pusat bahkan mendukung keputusan beberapa daerah untuk membatalkan pertunjukan kembang api, sebagai wujud penghormatan terhadap para korban yang masih berduka dan keluarga yang kehilangan.

Di pusat pengungsian darurat, bayi menangis sambil di tengah suara orang dewasa yang bergantian mencatat nama keluarga mereka yang hilang, sementara relawan menyediakan makanan dan selimut. Angin dingin malam datang, tanpa pesta atau keributan suara yang biasanya memperingati tahun baru.

Refleksi di akhir tahun 2025 ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah korban, tetapi juga kesadaran bersama: kita hidup berdampingan dengan alam, bukan menguasainya. Di masa depan, pemulihan fisik akibat kerusakan ini harus disertai dengan perubahan sikap terhadap lingkungan—dengan menjamin aturan pembangunan yang ketat, perlindungan hutan yang benar-benar diterapkan, serta pendidikan mengenai risiko bencana yang merata hingga ke tingkat desa.

Sumatra menangis, namun bukan berarti kita harus berhenti memiliki harapan. Masyarakat yang rusak kini bangkit melalui kebersamaan, saling berbagi meskipun sedikit kepada yang lebih membutuhkan, serta saling menjaga satu sama lain di tengah masa yang penuh rintangan.

Tahun baru yang akan datang bukan hanya tentang kembang api dan pesta, tetapi juga tentang bangkit bersama—dengan rasa hormat terhadap mereka yang telah pergi dan komitmen untuk masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan.

TerPopuler