Detik Kematian 2025 di Ciamis Dihiasi Sastra dan Diskusi Buku Puisi Sunda “Tihang” -->

Detik Kematian 2025 di Ciamis Dihiasi Sastra dan Diskusi Buku Puisi Sunda “Tihang”

31 Des 2025, Rabu, Desember 31, 2025

KABAR-PRIANGAN.COM– Tahun 2025 seakan "berpulang" dengan senyum yang lebar di Ciamis. Bukan dalam makna sedih, melainkan sebagai tanda berakhirnya suatu masa yang penuh semangat dalam dunia sastra. Sepanjang tahun 2025, berbagai karya sastra muncul, diperkenalkan, dan dibicarakan di kawasan Tatar Galuh.

Saat-saat penutup tahun dirayakan dengan penuh kegembiraan melalui diskusi buku antologi puisi dalam bahasa Sunda berjudul Tihang karya Willy Fahmy Agiska, dalam acara Marlam (Majelis Sore dan Malam) yang diselenggarakan oleh Rumah Koclak, Selasa malam, 30 Desember 2025.

Berlangsung di Kafe Qitire, Kompleks Gedung Pramuka Ciamis, acara berjalan dalam suasana sederhana tetapi penuh kehangatan. Meskipun hujan turun sejak sore hingga malam, antusiasme peserta tidak berkurang. Justru, hujan menjadi latar yang memperkuat suasana intim dan reflektif. Acara dibuka dengan doa bersama sebagai wujud rasa syukur atas perjalanan kreatif, pertemuan sastra, serta produktivitas budaya yang telah terbentuk sepanjang tahun.

- PSGC Ciamis Menutup Tahun 2025 di Puncak! Ini Ketatnya Persaingan Empat Tim di Klasemen Liga Nusantara Grup B

- Penulis Sunda terkenal Aka Hadi AKS Tutup Usia, Dunia Sastra Berduka

Pada sesi pembuka, Willy Fahmy Agiska berbagi kisah mengenai perjalanan kepenyairannya. Ia menyampaikan bahwa proses penulisan puisi-puisi dalamTihangtelah dimulai sejak tahun 2020, bersamaan dengan tahap pengembangan kumpulan puisi sebelumnya,Unboxing.

Namun, menurut Willy, Tihan muncul dengan watak yang lebih jujur, berani, dan asli. Isi puisinya sering dihiasi dengan "kukulutus"—ucapan kesal, keluhan, serta bahasa sinis yang muncul dari kecemasan terhadap situasi sosial yang sedang berlangsung.

Willy menekankan bahwa memilih menggunakan bahasa Sunda memberinya ruang kebebasan yang lebih besar. Bahasa ibunya, baginya, mampu mengungkapkan perasaan dengan lebih tulus dan penuh ekspresi. “Karena bahasa Sunda setiap katanya memiliki makna dan ekspresi yang berbeda.”

Beberapa terdengar sebagai fonemik, seperti katati gubrakyang berarti jatuh, tetapi diiringi suara 'gubrak','' katanya. Ia juga memilih istilah sehari-hari sebagai pendekatan estetika, yaitu bagaimana kata-kata yang sudah dikenal oleh masyarakat ditulis dengan cara berpikir dan sistem yang puitis.

Acara dilanjutkan dengan membaca puisi Sunda bersama. Sebanyak 23 puisi dalam bahasa Sunda dibacakan secara bergilir oleh peserta. Pembacaan tidak berhenti pada suara dan teks, tetapi dilanjutkan dengan sesi diskusi terbuka. Berbagai perspektif muncul, mulai dari pembacaan musikalitas dan nada, pendekatan sosial dan budaya, hermeneutika, hingga psikologis.

Diskusi yang dinamis dan partisipatif menunjukkan bahwa sastra Sunda masih hidup, berkembang, serta tetap relevan. Edisi Marlam akhir tahun ini menjadi tanda simbolis: kematian tahun 2025 dirayakan bukan dengan kesedihan, tetapi dengan rasa syukur, dialog, dan keyakinan bahwa sastra akan terus menemukan jalannya di Ciamis.

TerPopuler