Inna Lillahi, Hamas Konfirmasi Syahidnya Abu Ubaidah dan Mohammed Sinwar -->

Inna Lillahi, Hamas Konfirmasi Syahidnya Abu Ubaidah dan Mohammed Sinwar

30 Des 2025, Selasa, Desember 30, 2025

PR Garut-Setelah bulan-bulan spekulasi dan pernyataan sepihak dari Israel, kelompok perlawanan Palestina Hamas akhirnya memberikan pernyataan resmi. Pada Senin (29/12/2025), Batalyon Al-Qassam secara resmi mengonfirmasi bahwa juru bicara legendaris mereka, Abu Ubaidah, beserta pemimpin Gaza Mohammed Sinwar, gugur dalam perang yang mereka sebut sebagai pembunuhan massal oleh Israel di Gaza pada awal tahun ini.

Pengumuman tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi dari sayap bersenjata Hamas. Brigade Al-Qassam menyebut Abu Ubaidah sebagai syahid bersama beberapa tokoh penting Dewan Militer, sekaligus menandai awal baru dalam struktur kepemimpinan perlawanan.

Brigade Al-Qassam mengumumkan kematian juru bicara resminya, Abu Ubaidah, bersama beberapa anggota dewan militer, serta menyatakan penunjukan juru bicara baru untuk melanjutkan perjuangan. Darah para syuhada akan tetap menjadi semangat perlawanan hingga kebebasan, demikian bunyi pernyataan tersebut.

Tentara Israel sebelumnya menyatakan bahwa mereka telah membunuh Mohammed Sinwar, saudara dari mantan pemimpin Hamas Yahya Sinwar pada bulan Mei lalu. Tiga bulan kemudian, Israel kembali mengumumkan bahwa Abu Ubaidah juga berhasil mereka bunuh. Namun, sampai saat ini, Hamas baru saja memberikan pengakuan resmi terkait kematian dua tokoh penting tersebut.

Dalam pernyataan terbaru, Brigade Al-Qassam mengungkapkan identitas asli Abu Ubaidah yang selama ini penuh misteri. Ia bernama Hudhaifa Samir Abdullah Al-Kahlout, dan juga dikenal sebagai Abu Ibrahim. Meskipun sosoknya gugur, Hamas menegaskan bahwa perlawanan tidak berhenti. Seorang juru bicara baru telah ditunjuk, yang kembali menggunakan nama samaran Abu Ubaidah, sebagai simbol kelanjutan perjuangan.

Pernyataan terakhir Abu Ubaidah sebelum gugur diumumkan pada awal September, ketika Israel memulai tahap awal serangan militer besar-besaran di Kota Gaza. Pada masa itu, wilayah tersebut ditetapkan sebagai zona perang, ratusan bangunan rusak parah, dan ribuan penduduk Palestina terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dalam gelombang pengungsian yang besar.

Sebagai perwakilan utama Hamas di Gaza, Abu Ubaidah selama bertahun-tahun menjadi suara yang paling dikenal dari perlawanan Palestina. Ia secara rutin memberikan informasi tentang perkembangan di medan perang, menyalahkan Israel atas pelanggaran gencatan senjata, serta memberikan komentar mengenai kesepakatan pertukaran tawanan yang pernah terjadi dalam gencatan senjata singkat awal tahun ini, yang kemudian berakhir secara sepihak.

Kematian Sinwar dan Abu Ubaidah menambah daftar panjang pemimpin Hamas yang telah dikonfirmasi meninggal dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, Israel mengklaim telah membunuh beberapa tokoh penting lainnya, termasuk Yahya Sinwar, komandan militer Mohammed Deif, salah satu pendiri Brigade Al-Qassam pada tahun 1990-an, serta pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh yang tewas dalam serangan di Teheran, Iran.

Israel secara resmi mengumumkan kematian Abu Ubaidah pada hari Minggu (31/8/2025), menyatakan bahwa ia gugur dalam serangan udara di Kota Gaza satu hari sebelumnya. Pada saat itu, Hamas memilih untuk diam, tidak mengonfirmasi maupun menyangkal pernyataan tersebut.

Dikutip dari Al Jazeera, Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz pada Januari 2025 mengatakan bahwa pasukan Israel bersama Badan Keamanan Dalam Negeri Shin Bet telah "berhasil menghilangkan" Abu Ubaidah berdasarkan data intelijen. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang saat ini dikejar oleh Pengadilan Kriminal Internasional atas dugaan tindak pidana perang, juga mengakui bahwa Abu Ubaidah menjadi sasaran utama operasi militer Israel.

Stasiun radio Angkatan Darat Israel melaporkan bahwa upaya membunuh Abu Ubaidah bukanlah yang pertama. Paling tidak dua percobaan sebelumnya gagal sejak perang Gaza meletus.

Banyak warga Palestina melihat Abu Ubaidah bukan hanya sebagai juru bicara. Ia telah menjadi simbol perlawanan sejak pertama kali muncul di publik pada 25 Juni 2006. Pada saat itu, ia mengumumkan Operasi Ilusi Penghilangan, sebuah operasi besar yang menewaskan dua tentara Israel dan berakhir dengan penangkapan prajurit Gilad Shalit, peristiwa yang membuat namanya naik ke panggung konflik Palestina-Israel.

Sekarang, suara itu memang telah hilang. Namun bagi Hamas, nama Abu Ubaidah diyakini akan tetap hidup sebagai simbol perlawanan yang diwariskan, bukan dikuburkan.

TerPopuler